Pengikut

Memaparkan catatan dengan label budaya. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label budaya. Papar semua catatan

Isnin, April 24, 2017

MUNAFIK dan beriman tidak akan bersatu

SIAPAKAH yang sering bergaul, berbicara dan bekerja bersama kita?  Mereka adalah yang  mempunyai persamaan dan persefahaman dalam beragama dan bekerja hal keduniaan.  Penyembah berhala akan bergaul dan bekerja sesama mereka kerna persamaan akidah.  Orang yang mentauhidkan Allah akan berkumpul dan bermasyarakat dengan yang sama akidahnya.  Kaum penyembah berhala tidak senang dengan sifat orang-orang yang beriman, begitu jugalah jiwa orang-orang beriman tidak gembira melihat manusia menyembah berhala.

foto hanya hiasan

Manusia muslim yang beriman juga akan sentiasa berdampingan dengan mereka yang beriman. Lihat orang yang menjaga agama seperti aurat, shalat, pekerjaan halal serta menghindari khurafat dan bid’ah…, mereka menemukan orang-orang sama fikiran dan saling bantu-membantu dalam kehidupan.  Orang-orang yang sukakan musik, rokok, lalai dalam shalatnya… pasti akan menemukan orang-orang yang berperilaku demikian juga.  Antara mereka amat senang bergaul dan saling bantu-membantu untuk meneruskan cara hidupnya yang demikian.  Orang seperti itu tidak akan mencari rakan daripada kalangan ahli shalat di masjid, malah sedaya upaya akan menjauhinya kerna tidak mahu mendengar perkataan-perkataan daripada ahli masjid yang pasti meminta ditinggalkan perbuatan yang sia-sia itu.

Perhatikan ayat Allah dalam surah at-Taubah ayat 71, “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain.  Mereka menyuruh (berbuta) yang makruf dan mencegah yang mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan taat setia kepada Allah dan rasul-Nya.  Mereka akan diberi rahmat oleh Allah.  Sungguh Allah Maha Perkara lagi Maha Bijaksana.”

Perhatikan bandingan ayat di atas dengan ayat yang ke-67, “Orang-orang munafik lelaki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir).  Mereka telah melupakan kepada Allah, maka Allah melupakan mereka (pula).  Sesungguhnya orang-orag munafik itu adalah orang-orang yang fasik.”

Maka, siapakah rakan-rakan yang mengelilingi kita merupakan yang sama fikiran dan pendirian. Kerananya, kita senang meneruskan kehidupan selama ini dilalui.  Jika kita yang kuat mencari jalan taqwa, maka teman-temannya adalah yang sentiasa menjiwai agama.  Jika kita sukakan hiburan dan sukan, maka semua teman rapat kita pun begitu.  Begitulah berlama-lama dan saling ingat-mengingat agar tidak kelupaan agenda-agenda hiburan dan sukan, misalnya.

Yang sukakan politik antipemerintah tentu semua temannya adalah yang antipemerintah supaya mereka bisa duduk lama-lama berbual soal politik daripada sudut pemikiran mereka.  Dan mereka pun bantu-membantu, ingat-mengingat supaya keteguhan pendirian antipemerintah itu sentiasa subur.  Begitu juga orang yang menjiwai politik bersama pemerintah, berteman bersama yang sama-sama mendukung pemerintah.

Kerna itu, hidup kita yang dilalui lama berada dalam orbit yang kita miliki.  Rupa-rupanya, teman-teman itu menjadi kayu topang kuat meneruskan tabiat dan pemikiran kita.



Jumaat, Disember 16, 2016

BOLEHKAH muslim ucapkan Merry Christmas?

Mengucapkan Selamat Natal dan Merayakan Natal Bersama

Berikut adalah fatwa ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah, dari kumpulan risalah (tulisan) dan fatwa beliau (Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin), 3/28-29, no. 404.

Muslim  rayakan idulfitri dan iduladha saja
Beliau rahimahullah pernah ditanya,
“Apa hukum mengucapkan selamat natal (Merry Christmas) pada orang kafir (Nashrani) dan bagaimana membalas ucapan mereka? Bolehkah kami menghadiri acara perayaan mereka (perayaan Natal)? Apakah seseorang berdosa jika dia melakukan hal-hal yang dimaksudkan tadi, tanpa maksud apa-apa? Orang tersebut melakukannya karena ingin bersikap ramah, karena malu, karena kondisi tertekan, atau karena berbagai alasan lainnya. Bolehkah kita tasyabbuh (menyerupai) mereka dalam perayaan ini?”

Beliau rahimahullah menjawab :
Memberi ucapan Selamat Natal atau mengucapkan selamat dalam hari raya mereka (dalam agama) yang lainnya pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca : ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya ‘Ahkamu Ahlidz Dzimmah’. 

Beliau (Ibnul Qayyim. Pen.) rahimahullah mengatakan,
“Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.

Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” –Demikian perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah–

Dari penjelasan di atas, maka dapat kita tangkap bahwa mengucapkan selamat pada hari raya orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. Alasannya, ketika mengucapkan seperti ini berarti seseorang itu setuju dan ridho dengan syiar kekufuran yang mereka perbuat. Meskipun mungkin seseorang tidak ridho dengan kekufuran itu sendiri, namun tetap tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk ridho terhadap syiar kekufuran atau memberi ucapan selamat pada syiar kekafiran lainnya

Isnin, Disember 12, 2016

DALIL Maulud Nabi itu mimpinya Ibnu Abbas r.a.

Maulud Nabi di Malaysia
BULAN ini banyak cerita Maulidur Rasul atau dahulu disebut Maulud Nabi.  Dahulu-dahulu tidak ada ayat yang kritikal terhadap majlis ini. Jaman sudah banyak orang pinter dan universiti, maka patutlah ilmu bercambah dan membiak dalam masyarakat.  Membahas Maulud Nabi itu sunah atau bid'ah itu normal dalam masyarakat yang berbilang ilmu dan pengalaman.  Jika tidak mahu mengharungi diskusi dan debat, janganlah hantar anak-anak ke sekolah tinggi.

Ini cerita yang saya kutip daripada pidato Maulud Nabi di masjid. Pemidato memberi dalil mimpi seorang Sahabat Nabi iaitu Ibnu Abbas r.a..  Katanya, Ibnu Abbas telah bermimpi ketemu penentang Nabi iaitu Abu Lahab!  Ibnu Abbas dikabarkan oleh Abu Lahab bahwa setiap hari Isnin, iaitu hari lahirnya Muhammad (Nabi s.a.w.), dia diringankan azabnya dalam neraka kerna dahulu pada saat mendengar kabar kelahiran Muhammad dia sangat suka dan kerna itu dia membebaskan seorang hamba atau budak yang dimilikinya.

Ulasan pemidato itu antar lain ialah: Jika orang yang paling kuat menantang Nabi s.a.w. mendapat syafaat kerna meraikan hari lahir Nabi, tentulah kita yang beriman kepada Nabi s.a.w. lebih berhak mendapat kebaikan apabila meraikan hari lahir Nabi iaitu Maulud Nabi.

Biarlah ilmuan membahas dalil sang pemidato.

Foto-foto yang saya sertakan di sini sudah buat hati rasa sebel.  Apakah ini caranya merayakan Maulud Nabi, jika pihak yang mahu mengekalkan perayaan itu melaksanakannya? Apakah di Malaysia akan menuruti caranya di Jogja?

Maulud Nabi di Jogjajakarta


Selasa, September 08, 2015

ISLAM melarang beribadah di kuburan

beribadah di kuburan wali?
ANTARA kebimbangan Kanjeng Rasulullah s.a.w. terhadap umatnya adalah pemujaan kubur, terutama kubur orang-orang terkenal atau ahli agama yang sangat disanjungi sewaktu hidupnya.  Pemujaan ini tentulah menyembah kubur!  Itu ekstrim dan orang yang menyatakan ‘Tidak ada tuhan selain Allah ‘pasti tidak menyembah kubur!

Pemujaan kubur  juga berarti menjadikan kubur itu sangat istimewa, satu tempat yang sentiasa dikenang-kenang dan mesti diziarahi sebagai tanda sangat berarti dalam hidup atau kepercayaannya.   Penziarah akan duduk-duduk di sisi kuburan, membaca surah yasin, bertahlilan atau berwirid.  Bentuk ibadah itu dilakukan di atas kuburan itu kerna sangat yakin bahawa kuburan itu paling istimewa, dan dipercayai segala aktiviti keagamaan itu lebih disukai Allah ketimbang melakukan hal yang sama di rumah atau di masjid-masjid.

tilawatil qur'an di atas kubur?
Kemudian ditentu-tentukan hari berkumpul secara besar-besaran misalnya setahun sekali bertepatan hari lahir atau matinya.  Saat perkumpulan penziarah dalam gelombang besar, dirasakan jauh lebih afdal dan paling membawa rahmat Allah.  Dan akhirnya penziarah menjadi percaya ada keberkahan atau kebaikan-kebaikan dalam agama apabila berada dalam majlis besar-besaran di kuburan berkenaan.  Sesudah itu, mereka akan sanggup mati pula mempertahankan kuburan itu daripada ditutup atau mahu dipindahkan!  Apakah begitu ajaran Allah dan rasul-Nya?

Bahawa dahulu pada jaman jahiliyah ada orang alim bernama Al-Lata, berbakti memberi makanan kepada para jamaah haji. Kerna jasa dan sanjungan orang, kuburnya dijadikan tempat istimewa. Dibangunkan pula binaan yang bersesuaian dengan kehendak penziarah jaman itu. Lama-lama, berganti generasi, kubur itu dipuja dan dibuatkan pula patung sebagai tugu peringatan manusia bernama Al-Lata. Patung itu kemudiannya dipindahkan ke sisi Kaabah. Maka sempurnalah kesyirikan kepada Allah.

Bahawa Ibnu Abas r.a. berkata, “Rasulullah s.a.w. melaknat para wanita yang berziarah kubur dan orang-orang yang menjadikan kubur sebagai tempat ibadah, serta membuat penerangan di atasnya.” (HR Abu Dawud 3236, Ibnu Majah 1575, At-Tirmizi 320, An-Nasa’I 4/77 dan Ahmad 1/229)

Malah baginda Rasulullah s.a.w. juga bersabda (artinya), “Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan kuburku sebagai berhala  yang disembah.  Alangkah murkanya Allah kepada orang yang menjadikan kubur-kubur orang salih sebagai tempat beribadah.” (Sahih, diriwayatkan oleh Imam Malik, Bazzar secara mausul dalam kitab Kasyful Atsar 440)

Membuat penerangan di kuburan pun dilarang Kanjeng Nabi s.a.w.  Hari ini banyaklah orang  berasa aneh jika setelah mengubur jenazah, lantas semua berdiri sebentar dan berdoa untuk keampunan si mati.  Setelah itu pulang.  Tidak, mereka tidak yakin sekadar itu, lalu mereka membaca surah Yasin, bertahlilan, berzikir dan membuat ucapan-ucapan pula di situ.  Ada ucapan memberitahu apa yang jenazah akan hadapi dan peringatan untuk manusia yang masih hidup.  Itulah yang dipercayai benar, walhal itulah yang dilarang oleh Kanjeng Nabi s.a.w.. 

Bukankah kita bersaksi Muhammad adalah Rasulullah?


Allahu ‘aklam

Isnin, September 07, 2015

SELAMAT Datang muslim ke Eropah


BANGSA Eropah senantiasa dalam perubahan!  Tanpa diduga kini, sebagian negara Eropah bersedia menerima pengungsi muslim dari Syria.  Bukankah sebelum ini sebagian negara Eropah seperti Perancis dan Jerman begitu pesimis dengan kehadiran masyarakat muslim sekalipun sudah menjadi rakyatnya.

Dahulu bangsa-bangsa Eropah bermusuhan, berperang  yang memakan korban puluhan juta. Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua dimulakan di Eropah.  Perang yang sangat mengesankandan merugikan itu tidaklah terlalu lama untuk dijadikan bahan sejarah sahaja, sebaliknya hampir semua negara di Eropah bersatu membentuk kesatuan.  Seakan-akan nasionaisme negara diketepikan untuk bersatu membentuk satu mata wang, satu pasaran tungal dan membuka sempadan negara kepada semua bangsa Eropah yang lain.  Keadaan itu membayangkan seperti benua itu tidak pernah dllanda perang paling  besar dalam sejarah manusia.

Sejarah hubungan Eropah dengan dunia Islam bukanlah sejarah indah. Perang Salib, jelas perlawanan antara Islam dan Kristian.  Kerajaan Islam Andalusia di Sepanyol ratusan tahun dahulu sebelum direbut kembali oleh kaum Kristian sebagian daripada sejarah tidak mesra antara Eropah dan dunia Islam.  Dendam Eropah terhadap Islam juga terbuka dengan pembunuhan kaum muslim di Bosnia oleh pengganas Serbia tahun 1990-an dahulu.

Hari ini Eropah membuka pintu yang luas kepada pengungsi atau penghijrah muslim!  Ini jelas sedang berlaku revolusi dalam pemikiran bangsa-bangsa di Eropah.  Dan perlu diingat juga bahawa rekod yang ada dan unjuran masa depan Islam adalah di Eropah. 30 tahun akan datang, kota-kota besar seperti London dan Paris bakal menjadi kota yang majoritinya muslim. Sama ada muslim yang berhijrah dari Asia atau daripada bangsa kulit putih sendiri.


Hanya bangsa yang berilmu sahaja yang sedia membuka minda untuk melakukan perubahan dalam hidup.  Bangsa Eropah tidak menoleh ke belakang untuk maju ke hadapan.  Zaman Gelap 1000 tahun dahulu, siri perang besar…cukup sebagai sempadan dan pengajaran.  Bangsa Asia… sebaliknya pula.  Persengketaan dan perselisihan menjadi agenda. Ada wilayah yang mahu merdeka sekalipun kecil sedangkan negara-negara Barat yang besar sedang membentuk kesatuan.

Khamis, Februari 19, 2015

APA jawab murid sekolah yang tidak solat Subuh?

APA hujah anak-anak sekolah ketika ditanya, “mengapa kamu tidak solat subuh?” Berdasarkan pengalaman saya bertahun-tahun menyelidik punca tidak solat subuh, hampir semua menjawab “lambat bangun tidur.”  Dan bertahun-tahun juga (dari generasi ke generasi anak-anak sekolah) mereka tidak dapat menjawab siapa yang mengajarkan ‘hujah’ begitu.  Maksudnya, saya tanya semula, “ustaz mana yang mengajarkan begitu atau kitab agama apa yang kamu jadikan panduan?”  Mereka terdiam saja.

Anak-anak yang memberi alasan ‘lewat bangun tidur’ untuk tidak solat subuh sebenarnya bersikap membela diri.  Mereka tahu tidak solat subuh adalah satu kesalahan sebagai muslim.  Namun untuk mereka memberi jawaban ‘sengaja tidak solat’ atau ‘tidak tahu solat’ sangat memalukan diri.  Bagi mereka menjawab begitu bererti jatuhkah maruah dirinya. Nampak sangat bodoh atau jahilnya diri.  Dengan jawaban ‘lambat bangun tidur’ juga menggambarkan perbuatan meninggalkan solat subuh suatu yang bersebab, bukan atas kehendaknya meninggalkan solat. Ada halangan sangat besar, lambat bangun tidur. Lambat bangun tidur itu bukan kehendaknya, suatu yang tidak dapat diurus sebab tidur tidak dalam kawalan minda!

Saya tidak pernah membuat pertanyaan bab agama kepada orang dewasa. Maklum balas mereka terhadap suatu perkara agama boleh dijadikan satu kesimpulan. Telah berlaku dalam perbualan atau pertukaran pendapat dalam tulisan. Saya telah meninggalkan beberapa amalan yang biasa dianggap ibadah oleh orang Melayu atas alasan tidak menurut sunah atau tidak ada petunjuk daripada Nabi s.a.w.  Maka maklum balas yang saya terima ialah, “Apa yang Nabi s.a.w. tidak buat, bukanlah bermakna kita dilarang membuatnya” atau “perkara agama (maksudnya amalan agama zaman kini) yang tidak ada pada zaman Nabi s.a.w. jika nyata baik dan niatnya ikhlas kerna Allah boleh diamalkan”.

Sebenarnya mereka yang berpegang kepada jawaban begitu tidak dapat menyatakan sumber pengajarannya. Tidak ada ulama atau kitab yang boleh dipertanggungjawabkan untuk prinsip pengajaran begitu.  Sama seperti jawab anak-anak sekolah yang tidak solat subuh, jawaban si orang dewasa dalam hal ini juga hanya sebagai bela diri.

Moral ceritanya ialah antara kita sukar hendak mengakui ‘tidak tahu’ atau ‘ya saya silap’ kerana sikap begitu akan menyebabkan ‘maruahnya’ jatuh.  Maka dicarilah apa saja ayat sebagai hujah untuk ‘melapik’ dirinya agar tidak jatuh. Bagitulah, dari kanak-kanak sampai ke dewasa.


Inilah perangkap masyarakat yang tidak terasuh dengan kebenaran, sebaliknya diasuh berbangga diri dengan cara apa sekalipun.

Sabtu, Januari 17, 2015

TUDUNG kepalaku kecil, kamu punya besar

PANDANGAN Sifu Abdul Naser seorang pendakwah keturunan Cina dalam akhbar Sinar harian mengenai wanita tidak bertudung dan kerja dakwah tentu saja dipandang dengan rasa kaget. Beliau sendiri mengakui hal itu. Tanpa disedari, kempen supaya wanita muslim bertudung sebagai mematuhi perintah Allah dalam surah an-Nuur ayat 31 telah membawa pemikiran baru: Wanita muslim tak bertudung tidak sempurna keislamannya!

foto hiasan

Sebaik mana pun wanita muslim jika belum bertudung kepala, dilihat dengan sinis dan mesti ada seruan kepadanya agar bertudung dahulu sebelum bercakap atau melakukan kerja-kerja kebajikan.

Selincah mana dan secelupar mana pun mulut artis wanita muslim, jika dia sudah bertudung kepala dia diterima sebagai artis wanita yang sudah berhijrah di jalan Allah.

Setinggi mana pun jawatan seseorang dalam hirarki kepemimpinan, jika isteri atau anak-anak perempuannya tidak bertudung kepada, dia tetap dianggap seorang yang gagal kerana tidak berjaya memimpin isteri dan anak perempuannya menjadi wanita solihah.

Dalam segmen agama pun, contoh yang sering diberi bagi menggambarkan keingkaran terhadap hukum Allah ialah wanita muslim mendedahkan rambutnya.

Mudahnya, asalkan bertudung kepala seakan-akan semua hal pada wanita muslim itu dikira beres.  Disebabkan premis pandangan begitu, kaum wanita semua golongan dan peringkat usia menjadikan pemakaian tudung kepala satu kemestian. Pakaian pada badan dan bahagian kaki, kemudian. Yang utama dan mesti ialah pemakaian tudung.

Akibatnya, pemakaian tudung kepala sudah menjadi salah adat dan satu seni busana wanita Melayu Islam. Dengan tidak menafikan sebagian mereka memakai tudung kepala menepati syarat ayat 31 surah an-Nur, yang lainnya bertudung kepala kerana adat dan seni.

Yang dikehendaki dalam agama ialah melabuhkan pemakaian tudung kepala sehingga ke bahagian dada.  Ini bererti busana itu bertujuan menyembunyikan subjek-subjek  wanita muslim yang sering menjadi perhatian lelaki. Tentulah warnanya juga yang tidak mengundang perhatian lelaki yang sifat asalnya memang mudah tertarik pada wanita.  Bentuk tubuh wanita, paras wajah, cara pergerakan dan percakapannya sangat mudah menarik perhatian lelaki.  Hal-hal itulah yang mahu dijaga oleh Islam.

Dengan itu busana bertudung yang bersendikan adat dan seni busana moden ialah yang berikut:
  Berwarna terang dan berkerlipan.
   Hanya menutupi bahagian kepala, iaitu tidak melabuh sehingga bawah dadanya.
   Pemakainya memakai pakaian berlengan pendek dan berseluar panjang yang ketat.
  Si pemakai tidak membatasi pergaulan dengan mana-mana lelaki. Maksudnya dia perempuan tetapi bergaul dengan lelaki sebagaimana lelaki bergaul dengan lelaki.

Catatan ini bukan pula meminta wanita muslim yang bertudung kepala disebabkan desakan masyarakat, tuntutan adat atau arus fesyen semasa…… menanggalkan tudung kepalanya. Tidak. Catatan ini untuk pembaca berfikir dan menilai jalan kehidupan masing-masing, sama ada kian menepati perintah Allah dan rasul-Nya atau masih jauh lagi.

Catatan itu tidak juga memberi merit dan memuji wanita muslim yang tidak memakai tudung kepala disebabkan tidak mahu bersifat munafik, iaitu memakai tudung kepala yang bukan memenuhi perintah Allah.  Mungkin ada yang berfikir, ‘lebih tidak bertudung kepala kerna bertudung pun dikritik orang’.

Penulis ini tetap menghargai wanita muslim yang melakukan amal kebajikan oleh mereka yang bertudung labuh, yang bertudung singkat dan tidak bertudung pun.  Penulis ini tidak menolak kebaikan-kebaikan sama ada kata-kata atau hasil kerja oleh mereka yang tidak bertudung. Teruskanlan amal-amal salih yang sedia dilakukan.

Setelah Allah memberi maklumat atau ilmu, muslim memilih untuk hanya percaya, percaya tanpa melakukan dan percaya penuh keyakinan (melaksanakan), akhirnya kita serahkan semua kepada Allah.  Ada ayat al-Quran yang menyatakan ‘Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya’ (ayat 286 surah al-Baqarah).  Oleh itu kita menerima peribadi sahabat dan saudara muslim kita secara zahirnya dan bersangka baik bahawa dia mematuhi juga pilihan yang diberi oleh Allah seperti dalam ayat di atas. Kejujuran dan kata hatinya itulah yang Allah tahu dia sebenarnya hanya mampu sekadar itu atau sebaliknya.


Wallahu ‘aklam.

Rabu, Januari 07, 2015

TAHLIL arwah itu dari Jawa, dari kitab Hindu

SAYA sekadar memberi informasi sejarahnya amalan bertahlil setiap kali ada kematian atau kenduri disebabkan suka atau sedih. Orang-orang agama pun sedia maklum set atau modul tahlilan yang sangat popular dalam hafalan atau yang dicetak dalam buku-buku kecil, tidak ditemukan sebagai amalan Rasulullah dan para sahabatnya. Tahlilan sebagai satu ibadah dalam beragama hanya ada di Nusantara.  Dan sejarahnya, asas-asas bertahlil kerna mengingati kematian ahli keluarga, kerna bersyukur kepada Tuhan atau kerna hiba berasal dari budaya masyarakat Jawa. Dari Jawa tahlilan tersebar luas ke Nusantara.  

Entri yang saya paparkan ini merupakan sebagian ceramah seorang mantan pemuka Hindu di Bali, dan beliau telah memeluk Islam. Oleh itu bicaranya mengenai susupan amalan Hindu dalam masyarakat Jawa yang kemudian dikatakan sebagai amalan agama Islam, lebih mengesankan kepada yang mahu berfikir dengan adil.



Alhamdulillah yang sekarang Romo Pinandhita Sulinggih Winarno menjadi Mualaf/masuk Islam lalu beliau mengubah namanya menjadi Abdul Aziz, sekarang beliau tinggal di Blitar-Jawa Timur. Dulu beliau tinggal di Bali bersama keluarganya yang hindu, Beliau hampir dibunuh karena ingin masuk islam, beliau sering di ludahi mukanya karena ingin beragama islam, alhamdulillah ayahnya sebelum meninggal beliau juga memeluk agama islam. Abdul aziz berharap seluruh kaum muslimin membantu mempublikasikan,menyebarkan materi dibawah ini. Jazakumullahu khoiran katsira.
Kesaksian mantan pendeta hindu: abdul aziz bersumpah atas asma Allah bahwa selamatan, ketupat, tingkepan, sebahagian budaya jawa lainnya adalah keyakinan umat hindu dan beliau menyatakan tidak kurang dari 200 dalil dari kitab wedha (kitab suci umat hindu) yang menjelaskan tentang keharusan selamatan bagi pemeluk umat hindu, demikian akan saya uraikan fakta dengan jelas dan ilmiyah dibawah ini :
1. Di dalam prosesi menuju alam nirwana menghadap ida sang hyang widhi wasa mencapai alam moksa, diperintahkan untuk selamatan/kirim do’a pada 1 harinya, 2 harinya, 7 harinya, 40 harinya, 100 harinya, mendak pisan (setahun), mendak pindho (dua tahun), nyewu (1000 harinya).
Pertanyaan, apakah anda orang islam juga melakukan itu?
Ketahuilah bahwa TIDAK AKAN PERNAH ANDA TEMUKAN DALIL DARI AL-QUR’AN dan AS-SUNNAH/hadits shahih TENTANG PERINTAH MELAKUKAN SELAMATAN, bahkan hadits yang dhoif (lemah) pun tidak akan anda temukan ,akan tetapi kenyataan dan fakta membuktikan bahwa anda akan menemukan dalil/dasar selamatan,dkk,justru ada dalam kitab suci umat hindu,

COBA ANDA BACA SENDIRI DALIL DARI KITAB WEDHA (kitab suci umat hindu) DI BAWAH INI:
a. Anda buka kitab SAMAWEDHA halaman 373 ayat pertama, kurang lebih bunyinya dalam bahasa SANSEKERTA sebagai berikut: PRATYASMAHI BIBISATHE KUWI KWIWEWIBISHIBAHRA ARAM GAYAMAYA JENGI PETRISADA DWENENARA.

ANDA BELUM PUAS, BELUM YAKIN?
b. Anda buka lagi KITAB SAMAWEDHA SAMHITA buku satu, bagian satu,halaman  20. Bunyinya : PURWACIKA PRATAKA PRATAKA PRAMOREDYA RSI BARAWAJAH MEDANTITISUDI PURMURTI TAYURWANTARA MAWAEDA DEWATA AGNI CANDRA GAYATRI AYATNYA AGNA AYAHI WITHAIGRANO HAMYADITAHI LILTASTASI BARNESI AGNE.
Dipaparkan dengan jelas pada ayat wedha di atas bahwa “lakukanlah pengorbanan pada orang tuamu dan lakukanlah kirim do’a pada orang tuamu hari pertama, ketiga, ketujuh, empat puluh, seratus, mendak pisan, mendhak pindho, nyewu.”
Dan dalil-dalil dari wedha selengkapnya silahkan anda bisa baca di dalam buku karya Abdul aziz (mantan pendeta hindu) berjudul “mualaf menggugat selamatan”, di paparkan TIDAK KURANG DARI 200 DALIL DARI “WEDHA” kitab suci umat hindu semua.

JIKA ANDA BELUM YAKIN, MASIH NGEYEL?
c. Silakan anda buka dan baca kitab MAHANARAYANA UPANISAD.
d. Baca juga buku dengan judul ,“NILAI-NILAI HINDU DALAM BUDAYA JAWA”, karya Prof.Dr. Ida Bedande Adi Suripto (BELIAU ADALAH DUTA DARI AGAMA HINDU UNTUK NEGARA NEPAL, INDIA, VATIKAN, ROMA, & BELIAU MENJABAT SEBAGAI SEKRETARIS PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA).

Beliau menyatakan SELAMATAN SURTANAH, GEBLAK, HARI PERTAMA, KETIGA, KETUJUH, KESERATUS, MENDHAK PISAN, MENDHAK PINDHO, NYEWU (1000 harinya) ADALAH IBADAH UMAT HINDU dan beliau menyatakan pula NILAI-NILAI HINDU SANGAT KUAT MEMPENGARUHI BUDAYA JAWA,

ADI SURIPTO DENGAN BANGGA MENYATAKAN UMAT HINDU JUMLAH PENGANUTNYA MINORITAS AKAN TETAPI AJARANNYA BANYAK DIAMALKAN MASYARAKA , yang maksudnya sejak masih dalam kandungan ibu-pun sebagian masyarakat melakukan ritual TELONAN (selamatan bayi pada hari ke 105 (tiap telon 35 hari x 3 =105 hari sejak hari kelahiran), TINGKEPAN (selamatan untuk janin berusia 7 bulan).
e. Baca majalah “media hindu” tentang filosofis upacara NYEWU (ritual selamatan pada 1000 harinya sejak meninggal). Dan budaya jawa hanya tinggal sejarah bila orang jawa keluar dari agama hindu.
f. Jika anda kurang yakin, Masih ngeyel dan ingin membuktikan sendiri anda bisa meneliti kitab wedha datang saja ke DINAS KEBUDAYAAN BALI, mereka siap membantu anda. atau Telephon Nyi Ketut Suratni : 0857 3880 7015 (dia beragama Hindu tinggal di Bali, wawasannya tentang hindu cukup luas dia bekerja sebagai pemandu wisata ).

Rabu, Oktober 22, 2014

MELAYU bukan pendatang, Cina pendatang!

ORANG Melayu pendatang di Malaysia? Tidak. Seluruh kepulauan Nusantara adalah wilayah dan alam Melayu. Dahulu beberapa kerajaan Melayu besar seperti Sriwijaya, Majapahit, Pattani, Melaka, Acheh, Brunei dan Sulu mempunyai wilayah yang melangkaui sempadan negera-negara moden hari ini. Perubahan politik dunia yang menyebabkan wujudnya negara moden bersempadan dan berkastam. Apabila ada sempadan dan passport maka tiba-tiba keluarga-keluarga Melayu dipisahkan oleh sempadan antara negara  dan passport tadi. Adakah orang Melayu di Malaysia pendatang? Tidak.

Melaka abad ke-15

Sriwijaya sebelum zaman Melaka

Yang bercakap Melayu pendatang adalah orang yang jelas datang ke Nusantara atau alam Melayu. Bapanya (dan angkatannya) datang dari selatan negara China.  Nusantara bukan alam China, maka dia adalah pendatang.  Lagi pula tiada kerajaan zaman dulu berpusat di China yang mempunyai wilayah di Nusantara, yang menyebabkan orang-orang dari wilayah China berhijrah ke mana-mana wilayah di Nusantara yang dalam kekuasaan kerajaan berpusat di China. Tidak ada .

Majapahit kerajaan sebelum zaman Melaka

Ambil contoh kekuasaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang, Sumatera, yang wilayahnya juga meliputi sebagian Tanah Melayu. Malah kajian arkeologi menunjukkan ketamadunan di Lembah Bujang di Kedah adalah menunjukkan sebagian wilayah Sriwijaya. Maka tidak hairanlah ada penduduk dari  wilayah Sriwijaya di pulau Sumatera yang berhijrah ke Tanah Melayu, sebab pergerakan itu dalam satu kerajaan atau negara (negara konsep zaman moden). Contohnya, pergerakan dan penghijrahan penduduk Kelantan ke Pahang dan Selangor kerana masih dalam wilayah negara Malaysia. Adakah penduduk Kelantan di Selangor dan Pahang itu pendatang? Tidak. Namun orang Vietnam dan Nepal yang ada di Malaysia sekarang adalah pendatang. Orang Nepal dan Vietnam adalah pendatang di Malaysia sekarang (sampai bila-bila pun) sebab penghijrahan mereka tidak ada kaitan dengan politik kerajaan dan kesamaan budaya. Maka kena fahamlah penghijrahan orang-orang dari China dahulu sama seperti dilakukan oleh orang Nepal dan Vietnam. Mereka adalah pendatang.

Untuk rekod, kerajaan Majapahit (abad ke-14) yang berpusat di Jawa mempunyai wilayah yang luas sehingga ke Tanah Melayu. Tidak hairan pergerakan orang dari pulau Jawa hingga ke Tanah Melayu.  Kemudian setelah kejatuhan Majapahit diganti kerajaan Melaka (abad ke15). Wilayah kerajaan Melaka pula sehingga ke Pattani (selatan Thailand) dan sebagian besar wilayah timur Sumatera. Maka berlaku penghijrahan pula penduduk Melayu dalam semua wilayah itu.  Setelah Melaka muncul pula kerajaan Acheh (abad ke-17) berpusat di utara Sumatera. Wilayah Acheh pula meliputi sebagian besar Tanah Melayu. Maka zaman itu penduduk Melayu bebas pula bergerak dalam wilayah Acheh. Tak timbul ‘engkau Sumatera atau Tanah Melayu’.  Dalam masa yang sama kerajaan Johor pula meluaskan wilayah meliputi Pahang dan kepulauan Riau (Riau dalam Indonesia sekarang). Maka pergerakan orang Melayu dalam kerajaan Johor bebas antara Pahang sampai ke Riau dan Karimun. Adalah keturunan orang Pahang di Karimun dan Riau adalah pendatang di Indonesia?

Di pulau Borneo kerajaan Brunei asalnya kuat dan seluruh negeri Saawak sekarang dulunnya adalah wilayah Brunei. Separuh negeri Sabah pun di bawah kuasa Brunei. Adakah keturunan Brunei yang tinggal di Sabah dan Sarawak sekarang hendak dicop pendatang? Tidak sama sekali.

Kerana sejarah kerajaan di Nusantara begitu rupa selama beratus-ratus tahun, maka biasalah hari ini penduduk Melayu seluruh Nusantara berbudaya sama. Agama mereka Islam dan berbahasa Melayu. Yang lelakinya memakai sarung ketika solat, bersongkok hitam, berbaju melayu bersampin. Senjata kebanggaan mereka adalah keris dan seni silatnya ada di semua wilayah Nusantara. Kain batiknya ada di Mindanao, Pattani, Malaysia, Indonesia, Brunei dan Singapura. Ketupat dan lemang ada pada hari raya semua negara berkenaan kerana itu kesamaan budaya Melayu.

Adakah persamaan yang ada pada orang-orang yang datang dari China itu sama seperti yang dimiliki dan dirasai oleh masyarakat Melayu seluruh Nusantara?


Jadi siapa pendatang di Malaysia?

Selasa, Jun 10, 2014

LONGKANG di Teluk Intan

BAGI saya perjalanan dan pemandangan di bandar Teluk Intan adalah perkara biasa. Catatan ini tiada kaitan langsung dengan ba'da atau pasca PRK di bandar berkenaan. Yang mahu dikongsikan di sini ialah kekotoran sebagian longkang yang sepatutnya bersih!



Dua foto di atas merupakan keadaan di bahagian hadapan dan belakang sebuah bangunan utama di bandar itu. Tidaklah jauh dari mercu tanda Bangunan Condong. Di bangunan itu terdapat restoran, sebuah bank dan dua buah kedai kamera!  Bukanlah bangunan usang atau terpencil di pinggir Sungai Perak.

Imej longkang begitu membawa beberapa tafsiran.

Pertama: Minda para pentadbir bandar yang menganggap kebersihan longkang bukan keutamaan. Barangkali ini masalah satu negara. Saya pernah singgah di pekan Kuala Muda di Kedah (2010) dan sangat tidak tahan dengan bau busuknya.  Beberapa tahun dahulu di belakang pasar terkenal di Kelantan juga berkeadaan sama.  Walhal berapa banyak orang yang pernah pergi ke Jepun, Australia dan Korea memberitahu kita yang bandar-bandar di sana sangat bersih dan menyamankan kehidupan manusia. Ironisnya, kita sering berkata 'Islam, Islam, Islam!'.

Kedua: Masyarakat kita memang masyarakat pengotor.  Sikap pengotor lahir sebagai terjemahan daripada minda yang kotor.  Bagi orang kita sama ada yang Islam (mendakwa agama Islam sangat mendidikan umatnya menjaga kebersihan dengan berwuduk lima kali sehari) atau bukan Islam (yang berpegang kepada nilai-nilai murni), sampah merupakan sebagian ciri kehidupan.  Di mana-mana kita boleh melihat gerai makan atau kedai kopi di tepi jalan yang berdebu dengan longkangnya berbau busuk.  Kita boleh melihat peniaga dan pengguna melonggokkan sampah di bawah pokok yang akhirnya terburai menjadi lapangan sampah. Apa lagi yang masyarakat kita mahu tentang menjaga kebersihan?

Ketiga: Malaysia bukan tiada undang-undang.  Masalahnya ialah penguatkuasaan undang-undang.  Bukan soal tidak cukup kakitangan sebagai penguatkuasa, masalahnya ialah 'budi bicara' penguatkuasa.  Budi bicara yang dimaksudkan ini bukan rasuah, tetapi 'bermalu-alah' kepada ahli masyarakatnya.  Yang mahu dikenakan tindakan bukan orang lain, ahli masyarakat atau sanak saudaranya juga. Penguatkuasa juga ada pertimbangan lain, tidak mahu mencari musuh!  Maka itulah jadinya.

Kesimpulannya, soal sampah dan kotor-mengotor di banyak tempat sebagai sempurnanya satu sistem mengekalkan kekotoran. Bermula daripada pemikiran pentadbir, budaya masyarakat dan ketidaksanggupan penguatkuasa bekerja dengan betul.  Kepada yang ada idealisme senang saja. Allah tidak mengabaikan setiap pekerjaan walaupun sebesar 'zarah', maka sesiapa (muslim) yang beriman tidak akan menjadi salah satu ejen kotor-mengotor ini.  Allah pasti membalas amal sebesar zarah itu. Maka yang percaya balasan Allah itu, secebis sampah pun tidak akan dicampakkan di mana-mana sesuka hati.  

Sabtu, Jun 07, 2014

HAKIKATNYA China kuasa besar dunia

Catatan orang kecil di kota Beijing.

Sewaktu berkunjung di Madinah dahulu, saya mahu ketawa apabila saya bebas berkomunikasi dengan peniaga-peniaga Arab sekitar  Masjid Nabi dalam  Bahasa Melayu. Malah saya kerap bertutur Melayu langgam Arab seperti bicara P Ramlee dalam filem Ahmad Albab.  Sebab itu saya mahu ketawa. Artinya, di sebuah kota yang jauh dari dunia Melayu Nusantara, saya tidak perlu menggunakan bahasa asing untuk hidup.  Bagaimana di Beijing?

ketemu Pak Jokowi, orang Tionghua dari Surabaya
Propaganda China bahawa bangsanya sangat hebat

Dua hari di kota tua Beijing, saya melihat banyak wajah Nusantara di kawasan-kawasan pelancongan.  Malah saya disapa oleh seorang lelaki wajah Cina dari Surabaya. Lalu, bukan lagi saya berbicara dengan lelaki yang bernama Jokowi dalam bahasa Melayu, malah Bahasa Jawa.  Oleh kerna agak banyak orang dari Nusantara ke Beijing, kerajaan China pasti tidak mahu membuat orang Nusantara bingung seperti ayam memasuki dunia itik.

Sebelum ini saya juga mendapat maklumat bahawa peniaga-peniaga Cina yang fasih bertutur Bahasa Arab semata-mata untuk memudahkan perniagaan mereka dengan bangsa Arab.  Maka fahamlah saya mengapa ketika di Madinah dan Makkah, begitu banyak barang buatan China di sana.  Jangan fikir kopiah, sejadah, biji tasbih, jubah dan semacam barangan berimej Arab Saudi di Makkah adalah buatan bangsa Arab, tidak!  Semuanya diimport dari China, dan muslim yang ke Makkah dan Madinah menjadikan barangan itu sebagai ole-oleh dari dua kota suci.

Pertama: Semua pengunjung Nusantara dilayan oleh pembawa pelancong dalam Bahasa Melayu-Indonesia.  Saya katakan lebih kepada bahasa yang digunakan di Indonesia.  Oh, saya teringat tulisan guru saya Prof Awang Sariyan (sekarang Pengarah DBP) mengenai tersebar luasnya pengajaran Bahasa Indonesia di serata university seluruh dunia, bukannya Bahasa Melayu kita atau Bahasa Malaysia. Sebagiannya adalah di Beijing.  Untuk rekod, sebelum menjadi Pengarah DBP, Prof Awang Sariyan bertugas sebagai profesor Bahasa Melayu untuk Kursi Pengajian Melayu di Universiti Beijing (maaf jika tersilap nama universiti).

Di mana-mana pun yang ada penerangan sangat mendalam mengenai imej China, akan diterangkan dalam Bahasa Melayu Indonesia.  Ini bermakna China telah menyediakan banyak pegawai atau petugas melayan pengunjung asing menuruti bahasa pengunjung.  Konsep ini berbeda dengan di negara kita yang lebih menggunakan bahasa Inggeris untuk semua pengunjung luar.  Hal ini bermakna, Bahasa Mandarin dikukuhkan tanpa gangguan Bahasa Inggeris, tetapi semua pengunjung dari luar masih tetap mendapat maklumat lengkap dan benar daripada bahasa pengunjung. Tentulah ada lagi pegawai penerangan yang fasih berbahasa Jerman, Arab, Perancis, Inggeris, Jepun, Korea dan sebagainya.  Ini semua demi kepentingan ekonomi China dan penerimaan semua penduduk dunia terhadap bangsa dan budaya China.

Kedua: Semua pengunjung akan disajikan dengan imej China yang hebat.  Mereka dibawa digedung ubat tradisional Cina.  China pasti menekankan sejarah perubatan dan pengubatan bangsa Cina ribuan tahun. Pegawai-pegawainya  pasti memberitahu semua sumber ubat itu berasal dari mana-mana wilayah China dan memberitahu semua ubat modern Barat membawa keburukan kesihatan kerna bahan-bahan kimianya.

Semua pengunjung juga dibawa ke pusat pembuatan barang hiasan bangsa Cina. Batu jade dan Kristal China pasti dikatakan terbaik, malah pemakainya akan mendapat kebaikan kesihatan.  Dan batu-batu berkenaan cukup di serata negara China. Mana ada pemakai barangan emas (baca produk Barat) diberitahu kebaikan mengenai kesihatan?  Sama ada pemakai jade menjadi lebih sihat atau tidak, saya yakin kempen ini lebih kepada propaganda menaikkan imej China kepada masyarakat dunia.  Pengunjung juga dipaksa menonton seni akrobatik China sebagai memantapkan lagi propaganda bangsa Cina sangat hebat. Ya, semua pengunjung luar bertepuk tangan setelah setiap aksi hebat anak-anak muda Cina.  Pasti tidak ada program akrobatik di Malaysia dan Indonesia. Maka gambarannya ialah kehebatan bangsa Cina di mata semua pengunjung luar termasuk dari Barat.

Mereka menjual sejarah China yang lama dan hebat, pastinya tinggalan dinasti kuno seperti Tembok Besar dan Istana Larangan itu. Untuk apa, kalau bukan memberi tahu masyarakat dunia bahawa China sudah ribuan tahun membangun dan menjadi kuasa dunia.  Pastinya pengunjung tidak menemukan kehebatan ribuan tahun dahulu di negara kuasa besar sekarang, Amerika Syarikat.  Ini mudah difahami. Walaupun China membenci semua amalan feudal kuno itu, tetapi membanggakannya sebagai warisan bangsa. Semua warisan ribuan tahun itu akan dijadikan warisan dunia. Warisan dunia berarti menjadi warisan seluruh warga dunia.  Jika banyak benda atau kota menjadi warisan masyarakat dunia, ‘apa barang’ kalau China tidak menjadi satu kuasa terbesar dunia?  Ya, China mahu menjadi nenek moyang kepada seluruh manusia di dunia termasuk rakyat Barat di Amerika dan Eropah. Dan sejarahnya, fosil manusia Peking itu sebagai antara manusia terawal menurut kajian sainstifik.  Tentulah ini sebagai hujah kuat China bahawa semua manusia di dunia ini bermula dari Peking atau Beijing.

Amerika ada warisan dunia apa?



Jumaat, Jun 06, 2014

MENCARI ruang Islam di China

Catatan orang kecil di Beijing.

Sewaktu di tanah air, fikiran saya tentang negara China ialah mengenai Islam dan komunisme di China. Benarkah banyak masjid di kota Beijing yang saya gambarkan dalam minda seperti banyaknya masjid di tanah air kita Malaysia. Dan apakah benar China sebuah negara yang berlandas ajaran komunis yang mementingkan kesamarataan semua rakyat dan memiliknegarakan semua harta.  Dua pencarian ini kerap muncul kerna maklumat yang sedia ada dari sumber-sumber tidak rasmi dan rasmi terutama melalui sistem pendidikan dalam negara.




Saya berkesempatan melawat kota Berjing awal Jun 2014.  Maka sedikit catatan saya mengenai persepsi di atas.  Seperti di Malaysia yang saya tidak pernah mendapat maklumat yang tepat mengenai jumlah penduduk muslim di China, kebetulan saya bertemu seorang mahasiswa sebuah university ketika menziarahi masjid tua (dibina tahun 1921), Masjid Niujie, dia mendakwa terdapat 20 juta muslim daripada 1.38 juta rakyat China.  Tentulah peratusannya kecil amat. Tambahan pula dia pun bersetuju dengan saya bahawa kebanyakan daripada 20 juta itu tertumpu di wilayah barat (sedang bergolak kerna ada masalah politik dengan kuasa Beijing), Xinjiang dan beberapa wilayah selatan. Ini bermakna jumlah musiim di kota Beijing tidaklah dapat membentuk satu pandangan pentingnya satu kehidupan manusia berbudaya Islam.

Pengunjung-pengunjung muslim akan bermasalah sedikit ketika membersihkan diri setelah membuang air kerna hampir semua tandas tidak menyediakan punca air, kecuali di ruang hadapan.  Ini bermakna kita mesti membawa air dalam botol ke dalam tandas untuk membersihkan diri kita setelah membuang air.

Masjid?  Kita faham munculnya surau dan masjid kerna adanya komuniti muslim. Seperti di jalan Niujie, dahulunya merupakan pusat tinggal muslim di kota Beijing, maka wujudlah sebuah masjid dan sekolah muslim. Menurut dua pemuda bangsa Uighur yang berdagang makanan kepada palancong, terdapat banyak masjid di Beijing tetapi bukanlah masjid sebagaimana yang ada di banyak negara Islam. Masjid Nuijie memang besar seperti di Malaysia, tetapi masjid-masjid lain yang dikatakan banyak itu sebenarnya seperti surau di Malaysia.  Hanya warga Beijing yang tahu kedudukan masjid-masjid berkenaan, dan pelancong muslim hanya diperkenalkan dengan masjid yang agak besar.


Tanda-tanda restoran atau bangunan yang dimiliki oleh muslim ialah warna hijau. Namun dengan jumlah kecil muslim di Beijing, tidaklah mudah menemui restoran muslim yang papan tandanya berwarna hijau.  Untuk rekod, warna tema masjid Niujie yang tertua pun bukan hijau, tetapi merah.  Sebagian hiasan di bumbung masjid juga kedapatan patung seperti yang biasa ada di bangunan-bangunan lain. Patung singa dan naga menjadi symbol budaya orang Cina.

Rabu, Oktober 02, 2013

TONGKAT RM15 ribu - tak percaya

SAYA tidak kaget dengan kesanggupan seseorang membeli satu barang yang hanya untuk disimpan berharga RM satu juta!  Banyak orang, maka banyak sikap dan pemikirannya. Telah banyak berlaku barang yang kepada seseorang biasa tidak ada nilai tetapi telah dibeli oleh seseorang dengan nilai tinggi yang tidak masuk akal. 
Ulama melelong tongkatnya - hanya hiasan
Yang saya kaget ialah apabila orang kuat beragama bertindak seperti orang kapitalis di Eropah mengenai barangan lelong.  Mengapa kaget?  Selama ini hampir semua pengajian agama yang saya lalui, pemberi ilmu mengkritik perbelanjaan yang membazir.  Terlalu banyak contoh yang diberikan oleh para Tuan Guru, ustaz, ustazah atau penceramah termasuk pakar motivasi.  Mudahnya, buat apa membeli sekotak mancis yang pernah dimiliki seorang penyanyi dengan harga RM10,000.00.  Terus terang,  tidak ada guru-guru agama saya memberi lampu hijau untuk anak-anak muridnya berbelanja begitu sekalipun punya pendapatan bulanan puluhan ribu sebulan.

Kepada saya aneh apabila seorang ulama melelong tongkatnya sehingga berharga RM15,000.00. Pembeli itu membeli tongkat kayu seorang ulama semata-mata kecintaannya kepada ulama berkenaan.  Dan ulama itu sendiri yang melelong tongkatnya.

Maka selepas ini orang agama janganlah mengkritik artis melelong berus gigi atau baju dalamnya sehingga bernilai ratusan ribu. Ada manusia yang mencintai artis berkenaan sanggup membayar harganya.  Seperti pembeli tongkat ulama yang tidak pun mahu menggunakan tongkat itu sebab dia masih gagah, pembeli berus gigi dan baju dalam artis pun bukan mahu menggunakannya.  Apa pun pembelian tetap dengan pembayaran.  Kalau ikut apa yang kerap saya dengar, sah pembelian itu satu pembaziran.  Selama ini orang agama tidak mengiktiraf pembelian seperti itu, sangat membazir.

Bagaimana jika untuk menderma?  Jika niat untuk menderma, beri sajalah duit puluhan ribu itu tanpa mendapat balasan apa-apa.  Itulah yang selama ini difahamkan kepada saya.  Beli, tetap beli sekalipun diselindung dengan perkataan takwa, iaitu derma.

Saya teringat kritikan Ustaz Mahmud Mat, penceramah terkenal di Pahang semasa saya di Kuantan dulu.  Dia mengkritik orang muda belanja beribu ringgit membeli ekzos kereta, semata-mata kepuasan diri dan mahu dilihat keretanya cantik – lain daripada yang lain.

Membeli tongkat kayu yang pernah digunakan oleh ulama juga kepuasan diri.  Membeli baju dalam artis juga untuk kepuasan diri.


Jadi, saya tertanya-tanya apa sebenarnya maksud ‘memadai’ dalam perbelanjaan.

Jumaat, September 06, 2013

KAN bagus komuniti Cina fasih Bahasa Melayu

Pelan Pembangunan Pendidikan Malaysia 2013-2025 (PPPM) menjadi panas seketika disebabkan bantahan NGO perkauman Cina, Dong Zong. PPPM menyeluruh, bukan hanya aspek bahasa di sekolah Cina dan Tamil. Setakat ini Kementerian Pendidikan tidak tunduk terhadap apa juga desakan agar penambahan masa belajar Bahasa Melayu tidak dilaksanakan. Bagus begitu.

Seperti kata Dr Ridhuan Tee, “Ini Malaysia, bukan Taiwan.”  Kenyataan begitu pun bukan bererti angkuh tetapi Malaysia perlu tegas dalam melaksanakan dasar untuk kebaikan seluruh rakyat.  Sudah 56 tahun merdeka hampir semua komuniti Cina yang ada telah bersekolah di Malaysia, malangnya pertuturan bahasa kebangsaannya sangat rendah kualitinya.  Orang Bangladesh dan Vietnam yang baru enam bulan di Malaysia pun tuturan Bahasa Melayunya lebih bagus.  Bukan soal tidak mampu belajar dan bertutur dengan baik, tetapi mereka sengaja tidak mahu dengan harapan terus terpisah daripada arus perdana.

Saya agak pelik dengan senyapnya NGO atau parti yang mendakwa sebagai jamaah dakwah dalam hal ini.  Memang pendakwah agak melupakan aspek bahasa Melayu, mereka kata bukan Bahasa Arab pun!  Saya tak lupa kata guru bahasa saya Prof Awang Sariyan (kini Pengarah DBP) bahawa penggunaan bahasa yang betul memudahkan penyampaian dakwah. 

Hakikatnya sejarah, tradisi dan budaya Islam semua dalam Bahasa Melayu.  Memisahkan kaum Cina daripada Bahasa Melayu bermakna menyukarkan penyampaian seruan Islam.  Kita boleh membina masjid reka bentuk budaya Cina, tetapi tidak banyak pendakwah yang mampu berdialog dalam bahasa Mandarin.  Kalau pun ada seorang dua yang berjaya meyakinkan komuniti itu dengan Islam, semua rujukan dan sahabat Islam adalah  dalam budaya Melayu.  Kita kerap menafikan masuk Islam bukan bererti masuk Melayu, namun hampir semua sumber rujukan untuk Islam dalam bahasa Melayu, Inggeris dan Arab.  Akhirnya mencari sumber Melayu juga.


Maka patut benar usaha kerajaan memperkukuh penguasaan Bahasa Melayu untuk generasi muda Cina dilihat sebagai meluaskan sasaran dakwah Islamiah.  Apabila kelak komuniti Cina sudah bagus Bahasa Melayunya seperti  masyarakat Tionghua di Indonesia, sangat mudah para pendakwah Melayu ini berdialog dengan mereka.

Isnin, Jun 24, 2013

KERJA dan beribadah pun dibuat bermusim

KATA mantan Menteri Pertanian dan Menteri Besar Kedah, Tan Sri Sanusi Junid bahawa orang Melayu suka kepada aktiviti bermusim bukannya yang hari-hari dilakukan.  Beliau memberi contoh orang Melayu cenderung menjadi nelayan sebab ada waktu rehatnya yang panjang apabila tiba musim laut berombak besar.  Menjadi petani juga, selepas menanam padi, petani berehat sementara menunggu musim menuai. 

foto hanya biasan

Sebaliknya orang Melayu kurang berminat membuka kedai perniagaan sebab wajib membuka kedai hari-hari, maknanya wajib bekerja hari-hari.  Kalau mahu berniaga juga pilihannya ialah di pasar minggu atau pasar tani yang dilakukan bukan hari-hari.  Ada kecenderungan besar orang Melayu perlukan masa rehat yang agak panjang kalau membuat pilihan bekerja. 

Ada sahabat kaget dengan kedatangan lebih banyak orang di masjid pada suatu malam. Rupa-rupanya ada majlis Nisfu Syaaban.  Pada malam berkenaan ada program ibadah membaca surah yasin tiga kali, dan doa khas yang panjang.  Yang menambah bilangan ialah yang mereka yang hadir ke masjid disebabkan ada majlis agama setahun sekali itu.  Itu bermusim namanya.

Tidak lama akan datang bulan Ramadan yang malamnya bersolat tarawikh.  Pengalaman tahun-tahun yang lalu, masjid dipenuhi orang untuk ibadah berkenaan.  Mengapa penuh? Sebabnya yang selama ini tidak menjadikan masjid sebagai tempat solat berjamaah telah berbondong-bondong ke masjid.  Keadaan ini pun biasanya tidak lama, ada kira-kira dua minggu sahaja.  Selepas tamat Ramadan, masjid hanya dikunjungi oleh yang ‘tidak perduli’ musim-musim beribadah.

Solat Jumaat pun boleh dilihat sebagai satu musim beribadah setiap minggu.  Berjumaat memang wajib kepada lelaki, tetapi mengapa penerimaan wajib (atau sunat yang sangat dituntut syarak) berjamaah pada setiap waktu solat tidak sehebat solat Jumaat?  Itulah satu lagi bukti budaya ibadah yang bermusim.

Hanya untuk berdoa kepada Allah agar arwah-arwah ahli keluarga juga diampunkan Allah, itu pun orang Melayu membuatnya dalam bentuk bermusim.  Ditetapkan hari-hari berkumpul beramai-ramai di rumah pada hari ketiga kematian, ketujuh, keempat puluh, keseratus, setahun dan seribu.  Jika tidak membuat majlis doa secara bermusim, dirasakan tidak menghampiri kedudukan ‘anak salih’ kepada arwah ibu bapa.

Rupa-rupanya budaya bermusim dalam ekonomi lebih ketara dalam beribadah.  Apa puncanya? Mungkin sahaja faktor geografi dan iklim menyebabkan budaya pemikiran orang Melayu menjadi begitu. Budaya itu lanjutan zaman dulu. Dahulu, orang menanam padi dan menjadi nelayan betul-betul bergantung pada kesesuaian iklim.  Begitu juga dengan sungai sebagai jalan utama, masa untuk sampai ke masjid mengambil masa.  ‘Kewajiban’ kerja dan ibadah di masjid tidak dapat dilakukan hari-hari.  Namun hari ini halangan iklim dan perhubungan sudah diatasi dengan teknologi moden, tetapi budaya lama terus berjalan.


Kesimpulannya, budaya perlu diurus dengan ilmu dan tanggung jawab,  bukan lagi dengan dalil nenek-moyang. Ada sentuhan dalam al-Quran mengenai kecintaan terhadap budaya nenek-moyang.  Ayat 170 surah al-Baqarah (artinya), “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘ikutilah apa yang ditunjukkan oleh Allah’ mereka menjawab, ‘(Tidak), kami mengikut apa yang kami dapati pada nenek-moyang kami. Padahal nenek-moyang mereka tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk.”

Selasa, Mac 05, 2013

BERITA dusta memang lazat!


BERAPA banyak berita dusta yang didengar hari ini?  Dan berapa banyak pula berita dusta pada esok hari dan seterusnya?  Hakikatnya berita dusta ada di mana-mana dan penyebarnya juga mungkin saja diri kita sendiri atau orang-orang yang dekat dengan kita. 

Mengapa kita suka mendengar berita dusta?  Sebabnya dalam fikiran kita sudah padat bersarang anggapan buruk terhadap sesuatu.  Maka asal saja ada berita yang ‘tidak enak’ berkenaan hal dia, tentu akal fikiran kita pantas menyambut dengan sangkaan buruk yang panjang mengenainya.  Jika kita tidak bermasalah dengannya, tidak ada anggapan buruk. Maka mudah saja kita menerima berita berkenaan dia menjadi ‘seadanya saja’, tidak sangka buruk lagi!

Ada sebab lain berita dusta menjadi hidangan lazat, iaitu kerja tukang fitnah.  Kepakarannya mengulas dengan rinci sesuatu berita yang masih belum jelas atau tuntas, menjadikan berita itu satu kelazatan deria.  Telah berlaku kepada isteri Rasulullah s.a.w., iaitu ‘Aisyah binti Abu Bakr saat kehilangan kalung dan kemudian beliau tertinggal oleh konvoinya.  Kemudian ‘Aisyah ditemui seorang pemuda iaitu Syafwan, yang membawanya kepada konvoi Rasulullah.  Nah, ini berita!  Isteri muda Rasulullah s.a.w. berjalan dengan lelaki muda (walau ‘Aisyah di atas unta dan Safwan berjalan kaki).

Pada saat Sabah menjadi 'isu berdarah' dengan waris kesultanan Sulu, 
gambar seperti ini akan ditafsir sebagian plot berkenaan, 
walhal hanya andaian yang  tidak atau belum dipastikan 
benar atau salahnya.

Maka gegerlah masyarakat.  Orang yang selama ini beriman kepada Rasulullah s.a.w. pun turut terpaut dengan berita ‘Aisyah, sehingga Allah memberitahu hal sebenar.  Surah an-Nur ayat 11, “Sungguh orang-orang yang membawa berita dusta itu adalah daripada kalangan kamu juga.  Janganlah kamu mengira berita dusta itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik (juga) bagi kamu.  Setiap seorang daripada mereka mendapat balasan dosa yang dikerjakan.  Dan sesiapa antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyebaran berita dusta itu baginya siksaan yang besar.”

Aeri ayat 12 pula, “Mengapa pada waktu kamu mendengar berita dusta itu lelaki dan perempuan yang beriman tidak BERSANGKA BAIK terhadap diri mereka sendiri dan tidak berkata ‘ini adalah berita dusta’.

Sebenarnya Allah menempelak sebagian hamba-hamba yang beriman waktu itu.  Selama ini mereka sangat bersangka baik kepada Rasulullah dan keluarganya, tetapi pada peristiwa itu sebagian mereka mendengar dan menyebarkan berita dusta yang dibawa oleh si munafik!

Ada satu pengajaran yang berguna dalam kehidupan kita.

Pertama:  Dalam perkara yang jelas mengenai orang yang baik akhlaknya, jika timbul cerita buruk maka berita itu sangat perlu diteliti.  Malah bersangka baik dahulu sangat dituntut.

Kedua:  Pihak musuh (contohnya munafik)  memang telah padat dengan buruk sangkanya.  Oleh itu jika ada kejadian yang ‘aneh’ ini menjadi peluang kepadanya membuat tafsiran yang buruk.  Golongan seperti ini sebenarnya dapat dikenal dengan kebiasaannya, suka membuat tafsiran buruk apa saja untuk mencapai niat jahat kepada orang/pihak yang tidak disukainya.

Inilah pengajaran al-Quran. Jika orang mengatakan kebobrokan masyarakat muslim akibat tidak mengamalkan ajaran al-Quran, maka eloklah sedaya upaya kembali kepada ajarannya.  Kepada yang telah mendakwa bersikap dan memperjuangkan Islam, jauh lebih elok jika dirinya terdahulu menepati ajaran al-Quran.

Apa yang kita mahu?  Jangan menjadi tukang cerita atau tafsir keburukan.  Itu sudah jelas arahan Allah.  Bayangkan berapa banyak kedamaian masyarakat jika 50 peratus orang yang selama ini menjadi penjaja berita dusta, kini menghantikannya kerna beriman dengan al-Quran.

Masalah utama ialah kecenderungan ahli masyarakat yang berpengaruh dalam politik kepartaian.  Politik ini sangat terjebak kepada buruk sangka antara partai dan orang-orang yang tidak disukainya.  Kemudian orang bawah-bawah kerap menjadi penyebarnya.  Malanglah jika orang yang menyebarkan berita dusta termasuk seperti Si Munafik zaman Nabi s.a.w. yang tidak mendapat rahmat keampunan.  Namun beruntunglah jika yang telah terjebak segera bertaubat kemudian mendapat rahmat keampunan Allah.  Seperti maksud firman Allah dalam ayat 14  surah an-Nur, “Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada  kamu semua di dunia dan akhirat, nescaya kamu ditimpa azab yang besar, kerna pembicaraan dusta itu.”

Sabtu, Januari 05, 2013

BARANG kemas dan tubuh wanita adalah perhiasan!


JIKA ditanya kepada setiap muslim, mengenai sama ada mahu mengamalkan al-Quran atau meninggalkannya, pastilah semua menjawab ‘mahu mengamalkannya’.  Ini termasuk dalam Rukun Iman, iaitu mempercayai atau beriman dengan al-Quran.  Hari ini pun al-Quran bukan lagi satu kitab elit yang hanya mampu difahami oleh golongan ustaz dan ustazah, malah murid-murid sekolah rendah dan menengah pun boleh mengetahui makna-makna ayat  dalam kitab berkenaan.

Sekalipun al-Quran sudah dikira merata-rata sehingga dianggap pula setiap muslim mampu mengamalkannya dengan mudah tanpa banyak soal, namun syaitan tetap mempunyai cara-cara terbaru untuk terus menggagalkan muslim daripada mengamalkan ajaran al-Quran secara benar.  Jika diperhatikan penerimaan masyarakat muslim tuntas kepada ayat halal-haram daging haiwan seperti dalam ayat 3 surah al-Ma’idah (Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan haiwan (daging) yang disembelih bukan kerna Allah, yang (mati) tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam haiwan buas, kecuali yang sempat kamu sembelih.  Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala…..). 

Untuk ayat di atas, semua muslim ‘dengar dan taat’, tidak ada yang mahu mentakwil tentang kalimah ‘lahmar khinzir’ sebagai benar-benar daging khinzir/babi, lalu mengatakan boleh pula memakan organ dalaman seperti hati dan jantungnya.  Juga tidak ada yang mahu berhujah boleh juga kulitnya dimakan sebab kulit itu bukanlah daging babi.  Ya, semua akur, bahawa apa saja daripada tubuh khinzir itu hukumnya haram dimakan, secicip pun mesti dihindari.

Lalu perhatikan penerimaan ayat 31 surah an-Nur berkenaan kawajiban menutup aurat wanita dengan melabuhkan tudung kepalanya ke bahagian dada (Dan katakanlah kepada wanita-wanita beriman agar mereka menjaga pandangannya dan kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuai yang  (biasa) terlihat.  Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kepala ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali kepada suami, ayah, datuk atau anak-anak lelakinya, atau anak tiri lelaki, atau saudara lelakinya, atau ponakan (anak saudara) lelakinya, atau ponakan lelaki daripada saudara perempuannya, atau (sesama) perempuan, atau hamba sahaya (lelaki) yang dimiliki, atau pelayan lelaki (tua) yang tidak punya keinginan kepada (seksual) wanita, atau anak-anak lelaki yang belum mengerti perihal aurat wanita.  Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.  Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-oran yang beriman, agar kamu beruntung.)

Wajib juga diketahui asbabun nuzul (sebab turun) ayat diatas supaya lebih difahami maksud ayat bab tutup aurat itu.  Seorang Sahabat, Hadhrami r.a. meriwayatkan bahawa ayat 31 surah an-Nur itu diturunkan berkenaan seorang wanita yang memakai dua gelang kaki.  Ketika berjalan di hadapan sekelompok orang, dia menghentakkan kakinya agar gelang-gelang kakinya berbunyi (diketahui orang lain). (Riwayat Ibnu Jarir).

Mesej ayat 31 itu ialah wanita beriman tidak memberitahu kepada lelaki bukan ahli keluarganya apa-apa perhiasan yang dimiliki.  Perhiasan itu ialah aurat dan juga barang hiasan yang menjadi kesukaan kaum wanita.  Tentulah bersebab bahawa wanita itu sebenarnya sentiasa menjadi objek perhatian kaum lelaki.  Sebab itu pada ayat sebelumnya (ayat 30), Allah telah wewajibkan lelaki beriman supaya menjaga pandangan dan kemaluannya!  Tentu sekali arahan itu terjadi kerna ‘kegilaan’ lelaki terhadap wanita sebagai objek seksual.

Kepada semua wanita muslim, wajib tahu bahawa pemakaian tudung itu bukanlah satu fesyen atau trend semata-mata.  Bertudung kepala yang dilabuhkan ke atas dada merupakan perintah Allah sama seperti perintah Allah mengenai daging haiwan apa yang boleh dimakan atau tidak.  Jika dalam bab daging haiwan yang Allah haramkan, kita tidak lagi membuat tafsir atau takwil lain, nampaknnya dalam bab berpakaian yang menutup aurat kita tidak mudah untuk ‘patuh dan dengar’.  

Masih ada keinginan untuk memberi maksud bahawa ‘asal saja bertudung’  atau ‘asal semua rambut dan kulit sudah tertutup’ maka itu sah mengikuti ayat 31.  Sebab itu banyak wanita muslim bertudung kepala yang tidak dilabuhkan ke dadanya.  Atau bertudung dengan berpakaian menampakkan susuk tubuh terutama bahagian dada dan pinggulnya.  Jika difahami sebab turun ayat ialah untuk ‘mengelak wanita menjadi perhatian lelaki’, maka banyak pakaian wanita yang ‘sendat’ sekalipun bertudung tetap masih mengalakkan perhatian dan pandangan lelaki!  Perhiasan wanita itu masih tidak disembunyikan lagi.

Tidak lupa disebut juga bahawa akhir ayat 31 itu, Allah menyeru bertaubat untuk mendapat keuntungan.  Itu janji atau jaminan Allah, bahawa jika lelaki yang menahan pandangan terhadap tubuh wanita dan wanita yang tidak mempamerkan bentuk tubuhnya kerna menyahut seruan Allah, maka Allah menjamin untung besar!