Pengikut

Isnin, Julai 18, 2016

Lutherisme, Kaum Muda dan Salafiyah

SEORANG ulama muda, pensyarah UPSI dilarang memberi apa juga ceramah agama di Selangor.  Ini berita benar.  Caranya mudah, pihak berkuasa agama tidak memberinya tauliah atau lesen kebenaran mengajarkan agama. Jika pensyarah muda itu melanggar peraturan ini tentu dia bisa dihadapkan ke mahkamah syariah. Ini telah berlaku kepada Dr Asri Zainul Abidin dahulu.


Bukan disebabkan namanya Dr Muhamad Rozaimi Ramle atau Dr Asri Zainul Abidin, tetapi pendekatan pemahaman atau manhaj memahami agama yang berlawanan dengan yang dipahami oleh para ahli agama di jabatan berkuasa agama negeri.  Sementara ada kuasa mengehadkan pemikiran tokoh-tokoh muda, maka dikekang agar tidak merebak kepada penduduk Selangor, khasnya golongan intelektual muda di kota-kota.

Dahulu awal abad ke-20 telah pun berlaku seperti apa yang berlaku hari ini. Waktu tokoh aliran pemikiran Kaum Muda yang membawa pemahaman pembaharuan berdasarkan al-Quran dan hadis disekat menyebarkan idea-ideanya di negeri-negeri yang mempunyai raja. Justeru, tokoh seperti Syed Syeikh al-Hadi, Syeikh Tahir Jalaluddin, Abas Taha dan mereka yang lain hanya bebas beroperasi di negeri-negeri tidak beraja seperti Melaka, Pulau Pinang dan Singapura.  Namun pergerakan Kaum Muda (itulah yang disebut wahabi) dirakam sebagai pejuang kebangsaan, pembina daya intelektual Melayu atau obor pemcerah pada jaman kebekuan orang beragama.

Menyekat pemikiran pembaharuan dalam agama, mengingat contoh tindakan pihak gereja pada jaman kegelapan Eropah dahulu. Pihak gereja menyekat idea atau tokoh seperti Martin Luther daripada berbicara hal agama Kristian. Gereja percaya tindakannya pasti menang, dan pemikiran Martin Luther akan terhapus. Gereja terlupa bahawa saat itu telah dicipta mesin cetak yang bisa diperluas atau diperbanyak kitab Bible dan ajaran reformasi Martin Luther. Nah, akhirnya Lutherisme berkembang sehingga Kristian terbagi dua.

Kembali terhadap sekatan idea tajdid yang dibawa oleh golongan sunah seperti Dr Rozaimi, Dr Asri, Dr Fathul Bari dan banyak lagi tokoh, idea-idea mereka tidak menunjukkan kian kecil sebaliknya terus membiak di mana-mana khasnya golongan muda di institusi pengajian tinggi.  Mereka sedang mengembalikan kemurnian beragama sebagaimana masyarakat jaman Salaf memahami agama. 

Tidak ada siapa yang bisa mengempang kebenaran beragama.  Allah pasti memberi pertolongan kepada pejuang-pejuang yang ikhlas membawa manusia ke jalan benar sebagaimana jalan Rasulullah dahulu. Namun ya, tribulasi itu pasti dirasai sebagaimana Nabi dan para sahabatnya merasainya dahulu.

Ahad, Julai 17, 2016

PINTAR politik, kosong ilmu agamanya

KATA orang politik itu ilmu dan seni. Namun katanya untuk bicara politik tidak memerlukan orang keluar dari sekolah tinggi apatah lagi dengan gulungan diploma dan ijazah. Maka itulah orang-orang desa dan pinggiran kota duduk berjam-jam di warung kopi sambil ngobrol politik.  Saya sendiri pernah diejek oleh orang yang jauh lebih muda daripada saya kerja tidak sama pendapatnya dalam politik.  Dan banyak juga yang berkata, "mari saya sekolahkan kamu pasal politik".

Gagah banget bicara politik.  Namun apabila disuguh hal agama... banyak yang mulutnya bungkam atau lari tidak mahu bicara hal agama. Agama itu hal yang menjuruskan pada pemahaman hal akhirat. Berita-berita akhirat hanya ada dalam al-Quran dan hadis-hadis sahih Nabi s.a.w.  Jangan pandang enteng ya, pantas jika bicara keduniaan atau tadi hal politik, namun sepi dan kaku atau tidak mengerti hal-hal akhirat.

Maksud sabda Rasulullah s.a.w. "Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang kasar lagi sombong, bakhil lagi rakus, sibuk dengan pasar-pasar. Pada malamnya seperti bangkai (banyak tidur) dan siangnya seperti keldai.  Dia berilmu dalam urusan dunia namun jahil dalam urusan akhirat." (Sahih Ibn Hibban, nombor 72.  Sunan al-Kubra al-Baihaqi, nombor 20804)

Berpada-padalah dengan keduniaan yang sementara, pada saat hati mengakui akhirat itulah yang abadi.

Isnin, Julai 04, 2016

SHALAT Eid di lapangan atau di masjid?

Hukum Shalat Id di Masjid atau di Lapangan

A. Khoirul, NU Online | Selasa, 23 September 2008 05:40
Hukum shalat Idul Fitri dan Idul Adha adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan tetapi tidak wajib). Meskipun ibadah sunnah muakkadah, Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkannya setiap tahun dua kali.

Imam As-Syaukani berkata: "Ketahuilah bahwasanya Nabi SAW terus-menerus mengerjakan dua shalat Id ini dan tidak pernah meninggalkannya satu pun dari beberapa Id. Nabi memerintahkan umatnya untuk keluar padanya, hingga menyuruh wanita, gadis-gadis pingitan dan wanita yang haid.”<>

“Beliau menyuruh wanita-wanita yang haid agar menjauhi shalat dan menyaksikan kebaikan serta panggilan kaum muslimin. Bahkan beliau menyuruh wanita yang tidak mempunyai jilbab agar saudaranya meminjamkan jilbabnya.”

Shalat Id tidak disyaratkan harus dilaksanakan di Masjid. Bahkan menurut pendapat Imam Malik shalat Id juga baik dilaksanakan di lapangan terbuka. Karena Nabi Muhammad SAW juga melakukan shalat Id di lapangan kecuali karena ada hujan atau penghalang lainnya.

Adapun perbedaan di antara tanah lapang dengan masjid bahwa tanah lapang berada di tempat terbuka, sedangkan masjid berada di dalam sebuah tempat (bangunan) yang tertutup. 

عَنْ أَبِي سَعِيْدِ الْخُدْرِي رضي الله عنه قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَ اْلأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى. فَأَوَّلُ شَيْئٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَة، ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُوْمُ مُقَابِلَ النَّاسِ، وَ النَّاسُ جُلُوْسٌ عَلَى صُفُوْفِهِمْ، فَيَعِظُهُمْ وَ يُوْصِيْهِمْ وَ يَأْمُرُهُمْ. فَإِنْ كَانَ يُرِيْدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ، أَوْ يَأْمُرُ بِشَيْئٍ أَمَرَ بِهِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ

Dari Abi Sa'id Al-Khudri RA, ia berkata: "Rasulullah SAW biasa keluar menuju mushalla (tanah lapang/lapangan) pada hari Idul Fitri dan Adha. Hal pertama yang beliau lakukan adalah shalat. Kemudian beliau berpaling menghadap manusia, di mana mereka dalam keadaan duduk di shaf-shaf mereka. Beliau memberi pelajaran, wasiat, dan perintah. Jika beliau ingin mengutus satu utusan, maka (beliau) memutuskannya. Atau bila beliau ingin memerintahkan sesuatu, maka beliau memerintahkannya dan kemudian berpaling ...." (HR. Bukhari 2/259-260, Muslim 3/20, Nasa`i 1/234; )

Mengerjakan shalat Id di mushalla (tanah lapang) adalah sunnah, kerana dahulu Nabi SAW keluar ke tanah lapang dan meninggalkan masjidnya, yaitu Masjid Nabawi yang lebih utama dari masjid lainnya. Waktu itu masjid Nabi belum mengalami perluasan seperti sekarang ini.

Namun demikian, menunaikan shalat Id di masjid lebih utama. Imam As-Syafi'i bahkan menyatakan sekiranya masjid tersebut mampu menampung seluruh penduduk di daerah tersebut, maka mereka tidak perlu lagi pergi ke tanah lapang (untuk mengerjakan shalat Id) karena shalat Id di masjid lebih utama. Akan tetapi jika tidak dapat menampung seluruh penduduk, maka tidak dianjurkan melakukan shalat Id di dalam masjid. 

أَنَّهُ إِذَا كاَنَ مَسْجِدُ البَلَدِ وَاسِعاً صَلُّوْا فِيْهِ وَلاَ يَخْرُجُوْنَ.... فَإِذَا حَصَلَ ذَالِكَ فَالمَسْجِدُ أَفْضَلُ

”Jika Masjid di suatu daerah luas (dapat menampung jama’ah) maka sebaiknya shalat di Masjid dan tidak perlu keluar.... karena shalat di masjid lebih utama”

Dari fatwa Imam As-Syafi'i ini, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani telah membuat kesimpulan seperti berikut: "Dari sini dapat disimpulkan, bahwa permasalahan ini sangat bergantung kepada luas atau sempitnya sesuatu tempat, kerana diharapkan pada Hari Raya itu seluruh masyarakat dapat berkumpul di suatu tempat. Oleh kerana itu, jika faktor hukumnya (’illatul hukm) adalah agar masyarakat berkumpul (ijtima’), maka shalat Id dapat dilakukan di dalam masjid, maka melakukan shalat Id di dalam masjid lebih utama daripada di tanah lapang". (Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Baari, jilid 5, h. 283)

Sebenarnya, melaksanakan shalat Id hukumnyasunnah, baik di masjid maupun di lapangan. Akan tetapi melaksanakannya di lapangan maupun di masjid tidak menentukan yang lebih afdhal. Shalat di lapangan akan lebih afdhal jika masjid tidak mampu menampung jema’ah. Akan tetapi menyelenggarakan shalat Id lebih utama di masjid jika masjid (termasuk serambi dan halamannya) mampu menampung jema’ah.

Sekali lagi, fokus utama dalam hukum shalat Id ini adalah dapat berkumpulnya masyarakat untuk menyatakan kemenangan, kebahagiaan dan kebersamaan.

Di antara hikmah berkumpulnya kaum muslimin di satu tempat adalah untuk menampakkan kemenangan kaum muslimin; untuk menguatkan keimanan dan memantapkan keyakinan; untuk menyatakan fenomena kegembiraan pada Hari Raya; untuk menyatakan salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.


HM Cholil Nafis MA
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU

Rabu, Jun 22, 2016

DOA anak untuk ibu bapanya daripada al-Quran

Doa Nabi Nuh a.s.:

رَّبِّ ٱغۡفِرۡ لِى وَلِوَٲلِدَىَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيۡتِىَ مُؤۡمِنً۬ا وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتِ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّـٰلِمِينَ إِلَّا تَبَارَۢا (٢٨

"Wahai Tuhanku! Ampunkanlah bagiku, dan bagi kedua ibu bapaku, serta bagi sesiapa yang masuk ke rumahku dengan keadaan beriman; dan (ampunkanlah) bagi sekalian orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan (dalam segala zaman); dan janganlah Engkau tambahi orang-orang yang zalim melainkan kebinasaan!" (Surah Nun: ayat 28)

----------------------------------------------------
Doa Nabi Sulaiman a.s.

 رَبِّ أَوۡزِعۡنِىٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٲلِدَىَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَـٰلِحً۬ا تَرۡضَٮٰهُ وَأَدۡخِلۡنِى بِرَحۡمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصَّـٰلِحِينَ (١٩

" Wahai Tuhanku, ilhamkanlah daku supaya tetap bersyukur akan nikmatMu yang Engkau kurniakan kepadaku dan kepada ibu bapaku, dan supaya aku tetap mengerjakan amal soleh yang Engkau redai; dan masukkanlah daku - dengan limpah rahmatMu - dalam kumpulan hamba-hambaMu yang soleh (Surah an-Naml: ayat 19)

---------------------------------------------------

Doa Kebaikan dan kesejahteraan:

 رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرً۬ا (٢٤

"Wahai Tuhanku! Cucurilah rahmat kepada mereka berdua sebagaimana mereka telah mencurahkan kasih sayangnya memelihara dan mendidikku semasa kecil." (Surah al-Israk:24)

------------------------------------------------------

Doa mohon rahmat buat kedua ibu bapa:

 رَبِّ أَوۡزِعۡنِىٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٲلِدَىَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَـٰلِحً۬ا تَرۡضَٮٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ‌ۖ إِنِّى تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ (١٥

"Wahai Tuhanku, ilhamkanlah daku supaya tetap bersyukur akan nikmatmu yang engkau kurniakan kepadaku dan kepada ibu bapaku, dan supaya aku tetap mengerjakan amal soleh yang Engkau redai; dan jadikanlah sifat-sifat kebaikan meresap masuk ke dalam jiwa zuriat keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepadamu, dan sesungguhnya aku dari orang-orang Islam (yang tunduk patuh kepadamu)". (Surah al-Ahqaf: 15)

Doa dari anak buat ibu bapa adalah satu ibadah yang dituntut dalam Islam.  Doa dari anak yang soleh solehah adalah harta yang tak ternilai dengan segala isi dunia.

Doakanlah ibu bapa, sentiasa.. bukan terhad selepas solat sahaja.

Ahad, Jun 12, 2016

40 tahun dahulu kami tunggu hantu malam puasa

Surau Saadah Batu 2 Sepintas
SALAM Ramadan. Inilah desa saya Batu 2 Sepintas Sabak Bernam. Saya berpuasa di desa. Apa bedanya berpuasa di desa saat ini tahun 2016 dibanding dengan tahun 1970-an.  Apa yang telah berubah ialah usia-usia orang desa.  Jika tahun 70-an dahulu saya kanak-kanak sekolah rendah, maka sekarang saya sudah lebih 50 tahun.  Begitulah yang semua dahulu sebagai kanak-kanak, semua sudah memanjat usia. Malah sebagian antara kami sudah meninggal.

Tempat surau tempat kami dahulu bertarawih adalah surau yang sama, lokasi juga sama.  Tentulah sebagian besar orang dewasa tahun 70-an dahulu sudah meningal dunia.

Tahun 70-an dahulu, imam utamanya Haji Abdullah bin Abdul Razak, dan hanya sekali-sekala diganti ayah saya, Haji Siraj Hanan.  Tentulah ayah saya waktu itu usia  40-an.  Hari ini ayah saya pada usia 80-an masih menjadi imam di surau, memimpin jemaah beribadah.

Tidak banyak pertambahan keluarga atau rumah sejak tahun 70-an.  Jika ada keluarga baru yang membuat rumah, telah ada keluarga terdahulu yang sudah tiada.  Misalnya dahulu ada rumah Haji Ismail dengan  10 anak, hari ini semua anak telah membina keluarga sendiri dan rumah itu dijual.  Begitu juga rumah Haji Salihun sudah dijual, tetapi tapaknya diganti oleh ponakannya, Haji Abdullah bin Murkijan.  Rumah haji Surahad sudah suwung, tidak jauh darinya didirikan sebuah rumah anak saudaranya. Manakala keluarga Haji Abas dan Arwah Mokhtar bertukar karyah surau atas faktor lokasi dan kemudahan jalan.  Dua rumah itu kini bukan ahli karyah Surau Saadah kami.

Dahulu hanya jalan tanah liat dan rimbun kiri kanan. Ada hantu lampu!
Kerna tidak tampak pertambahan besar, maka jumlah ahli yang tarawih di surau tidak banyak bedanya, satu saf lelaki kira-kira 20 orang.  Dahulu pun begitu.  Namun pada jaman dahulu bilangan kanak-kanak agak banyak di tambah dengan orang muda.  Bolehlah menyampai dua saf. Namun pada jaman saya kanak-kanak, keseronokan ke surau bukanlah untuk shalat tarawih, tetapi moreh dan bermain dengan teman-teman. Jaman itu, yang sebaya lingkungan usia  ada 10 orang.  Ada kesukaan lain iaitu mencabar ‘medi damar’ atau hantu lampu.  Tidak ada elektrik, seluruh kampung menggunakan pelita minyak tanah. Di surau digunakan lampu gaslin atau gasolin yang dipam. Jalan tepi surau masih sangat langka dilalui orang luar. Oleh itu jalan terus ke pekan Sabak itu sangat semak dan sebagiannya dilingkungi pokok kayu, nipah dan kelapa yang rimbun.  Tidak ada rumah orang di situ, tetapi hari ini ada empat buah rumah.  Entah apa sebenarnya, dahulu mesti kelihatan ada lampu pelita yang seolah-oleh bergerak seperti mendekat dan menjauh pada jalan di kawasan paling sepi.  Itu yang kami suka dan jadi hiburan atau menguji keberanian masing-masing.

Ayah saya yang berkopiah merah
Orang mudanya berpakat membuat meriam batang kelapa yang operasinya di kawasan surau. Maka, habis saja tarawih mereka akan membuatnya. Bermula dengan mengambil betang kepala di kebun-kebun pada waktu malam (berlampukan gaslin), dibelah dan dikorek.  Setelah memasuki hari 25 berpuasa, belahan-belahan batang kelapa yang sudah dikorek berada di bawah surau. Di situlah dikerjakan sehingga menjadi hampir lapan atau 10 batang meriam besar.  Setiap malam selepas tarawih meriah dengan kerja begitu.  Kini tidak ada lagi.  Walaupun saya ada pengetahuan penuh membuat meriam daripada batang kepala, ilmu itu tidak akan diwariskan.Dengan kefahaman agama saya, melakukan ibadah lebih utama ketimbang membuat meriam untuk kemeriahan malam hari raya.

Moreh atau jamuan selepas  tarawih kekal ada. Sistem gilirannya pun kekal sepanjang lebih lima puluh tahun.  Setiap malam ada empat atau lima keluarga membawa pacitan untuk moreh. Air minumnya dimasak d surau.  Pada malam satu likur dan tujuh likur kami membuat jamuan besar.  Oleh kerna desa terbahagi oleh jalan, maka giliran membawa nasi ambeng ke surau di bagi mengikut seberang jalan untuk kedua-dua malam itu.  Sehingga sekarang pun keadaannya sama.


Begitulah, perkara-perkara agama telah kekal puluhan tahun dan untuk menyokong perjalanan ibadah perkara-perkara lain telah menjadi adat resam pula.  Adat bermeriam pupus. Termasuk yang pupus adat memukul kentong secara berirama ketika zikir selepas tarawih. Jika dahulu sahutan selawat dan lafaz ‘amin’ dibuat dengan sekuat-kuatnya, hari ini secara perlahan saja.  Adat menghilang dan ibadah kian lurus kerna ada perubahan ilmu dalam kalangan warga desa.

 
Jadual giliran membawa more

Khamis, Mei 12, 2016

BERHALA zaman Nabi Ibrahim, Dr Zakir dan budaya Malaysia


TIBA-tiba saya membuka blog Tan Sri Zainuddin Maidin atau Zam.  Zam tidak setuju banget kedatangan Dr Zakir berceramah dan membanding antara Islam dan agama lain. Itu dasar tulisannya.  Bagi Zam, membanding antara Islam dan agama lain bukan cara dakwah di Malaysia yang masyarakatnya berbilang agama.  Pada tafsiran saya, tentulah mendedahkan ‘kesalahan’ agama lain suatu yang sensitif dan menimbulkan lagi rasa syak atau curiga antara kaum yang berlainan agama.

Tulisan Zam disambut oleh banyak orang yang sama pendirian.

Saya tidak menghakimi pemikiran Zam itu liberal atau sekular.  Cuma saya suka kita kembali kepada metod alquran yang merupakan rakaman sejarah dakwah para nabi. Tidak ada cerita nabi siapa pun yang dakwahnya disambut permaidani merah dan bunga-bungaan oleh masyarakat sekitarnya.  Jika dikata Nabi Muhammad diraikan tatkala tiba di Madinah, ingat selama 13 tahun di Makkah baginda dimangsakan oleh masyarakatnya sendiri disebabkan mengajarkan agama yang sangat berlawanan dengan agama masyarakatnya.

Semua nabi mengajarkan tauhid, mendedahkan kesyirikan dan kebejatan hidup masyarakat jahiliyah atas nama agama yang mereka yakini.  Sebab itu Allah ceritakan kisah Nabi Ibrahim memusnahkan berhala-berhala dalam kuil.  Tentunya, tindakan itu setelah baginda berdakwah secara lisan agar masyarakatnya menyembah Allah, bukan batu berhala yang bisu dan pekak.  Perhatikan sebenarnya kisah pembantaian berhala itu satu ledakan bom minda apabila nabi Ibrahim meminta masyarakatnya bertanya kepada si berhala yg masih utuh, supaya berhala itu memberitahu siapa yang memusnahkan  berhala-berhala lain.

Kita membaca kisah-kisah dakwah dan responnya dalam alquran  yang tidak pun dibuat di Malaysia.  Siapa berani memecah berhala kuil di Malaysia seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim?  Siapa kaum ateis di unversiti yang berani pula menabur satu lori rangka-rangka manusia dan mencabar Allah, bagaimana tulang-tulang manusia ini mahu dihidupkan semula? Helo… ini berlaku dalam dakwah para nabi yang tercatat dalam alquran.

Memang kita tidak mahu konflik terbuka akibat dakwah seperti kisah Bilal yang disiksa secara terbuka.  Ini tidak bisa berlaku dalam dunia modern yang kuat anutan demokrasinya.  Namun dakwah dengan menerangkan suatu yang benar  dan salah merupakan prinsip alquran.  Jika alquran menerangkan keindahan dan nikmat syurga Allah, kitab itu juga menerangkan keterukan dan sengsara neraka Allah. Kenapa kaum liberal dan sekular panas dengan dakwah yang memaparkan antara yang benar dan salah, sedangkan mereka lebih dahsyat mendedahkan ‘kejahatan’ parti atau orang yang tidak disukainya dalam persaingan politik?  Oh sebab politik kalian kata ‘hantam saja…’ jika agama kalian bilang tidak boleh.


Tidak suka dengan metod Dr Zakir Naik tak mengapa, tetapi kedatangan beliau membuka satu babak baru dalam dakwah.  Dakwah kepada kaum bukan Islam dilakukan secara terbuka.  Ini sudah biasa di negara jiran.  Di Malaysia, yang liberal dan sekular mahu menjadi jumud dalam hal bandingan agama. Mereka takut apa sih?

Ahad, Mei 08, 2016

ANTARA paksi akidah: Ikuti hujah para Sahabat Nabi s.a.w.

foto hiasan

MENJADI sebagian daripada akidah mukmin ialah menghindari bid’ah dan berittiba dengan sunnah Nabi s.a.w.  Maksud sabda Nabi s.a.w. “Sebaik-baik perkara adalah ‘Kitabullah’ dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (s.a.w.). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR Imam Muslim).

Menurut Imam Asy Syatibi, bid’ah merupakan rekaan baru yang semyerupai  ibadah sahih,  yang tujuan pengamalnya (bid’ah) untuk lebih bertaqarub kepada Allah. Maka, tidak ada bid’ah dalam urusan bukan keagamaan atau ibadah. Malah sangat digalakkan mukmin menggunakan akal pikirannya untuk mencari kemajuan keduniaan seperti meneroka sains dan teknologi.

Para sahabat Nabi s.a.w. sangat prihatin permasalahan bid’ah, kerna pada jaman Nabi s.a.w. hidup pun sudah ada dalam kalangan muslim membuat bid’ah supaya mereka merasa lebih dekat dengan taqwa kepada Allah.

Berikut petikan kalam para sahabat dalam kitab Akidah Salaf Ahlus Sunnah wal Jamaah oleh Syeikh ‘Abdillah bin ‘Abdil Hamid al-Atsari.

Kata Muaz bin Jabal r.a. (maksudnya), “Wahai manusia, berpedomanlah dengan ilmu sebelum ia diangkat (dicabut).  Ketahuilah bahwa diangkatnya ilmu ialah dengan kematian ahlinya (ulama).  Hati-hatilah terhadap bid’ah, perbuatan bid’ah dan memfasih-fasihkan pembicaraan, serta berpegang dengan perkara kalian yang terdahulu.” (AlBida wan Nahyu ‘anhaa karya Ibnu Wadhah.

Kata Huzaifah bin Al Yamani r.a.  (maksudnya), “Semua peribadahan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat Rasulullah s.a.w. maka janganlah melakukan peribadahan itu, kerna generasi pertama tidak meninggalkan pendapat bagi generas akhir. Maka bertaqwalah wahai ahlul qura (ahli al Quran), ambillah jalan sebelum kalian.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dala m al-Ibanah)

Kata ‘Abdullah bin Mas’ud r.a. (maksudnya), “Barang siapa yang ingin mencontoh maka mencontohlah kepada kaum yang sudah mati, iaitu para Sahabat Rasulullah s.a.w..  Mereka adalah sebaik-baik umat ini, paling bersih hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling sedikit memaksakan diri.  Satu kaum yang dipilih Allah untuk menyertai Nabi-Nya dan menukil agama-Nya, maka tirulah akhlak dan jalan mereka kerna mereka berada di jalan yang lurus.” (Diriwayatkan oleh al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah)

Kata ‘Abdullah bin Umar r.a. (maksudnya), “Manusia senantiasa berada di jalan (yang lurus) selagi mereka mengikuti atsar.” (Diriwayatkan oleh al-Lalika’I dalam Syarh Ushuul I’tiqaad ahlis Sunnah wal Jamaah)


Nota: Atsar ialah perkataan atau pendapat para Sahabat Nabi s.a.w.

Jumaat, April 15, 2016

NABI sebut "bukan daripada golonganku"

FOTO HANYA HIASAN

ADA orang berkata, “ibadah itu dilakukan oleh Nabi yang maksum, kita manusia berdosa tentulah lebihkan amal ibadah.”  Ayat seperti ini selalunya diluahkan apabila mempertahankan ibadah-ibadah yang dilakukan, sedangkan mereka mengetahui ibadah itu bukanlah bersumberkan hadis-hadis sahih Nabi s.a.w.

Dahulu, pada zaman Nabi s.a.w. hidup, telah ada sahabat baginda yang berkata begitu dan melakukan amal ibadah melebihi daripada apa yang Nabi s.a.w. lakukan.  Ada yang enggan tidur, berkahwin dan berpuasa setiap hari. Berita itu telah sampai kepada Nabi s.a.w., dan baginda berkata (maksudnya), “Kamukah yang menyebut begini, begini? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertawakal kepada-Nya dalam kalangan kamu, tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur dan aku mengahwini wanita.  Barang siapa tidak suka kepada sunahku, maka dia bukan daripada golonganku.”  (HSR Imam al-Bukhari)

Antara lain orang yang dilihat berwatak ahli agama juga menggunakan hujah ‘Nabi beramal begitu sebab baginda Nabi, kita manusia biasa maka berlebihlah..’  misalnya:

“Memang Nabi tidak melakkan zikir beramai-ramai selepas shalat, itu dia Nabi…, kita ini manusia biasa yang lemah, jadi eloklah kita berzikir beramai-ramai.”

“Jika diikutkan cadangan (Nabi) iaitu membawa makanan ke rumah orang mati, tentu nanti jumlah makanan begitu banyak dan berlaku pembaziran.”  Ini memberi respon terhadap hadis  Nabi berkenaan pesan baginda supaya sahabat-sahabat baginda membawa makanan untuk keluarga Jaafar bin Abi Talib yang terbunuh dalam peperangan.

Walhal Nabi s.a.w. telah menyatakan, “Barang siapa tidak suka kepada sunahku, maka dia bukan daripada golonganku.”  Begitulah beraninya antara kita dalam beramal.  Tidak lain kerana dimotivasi oleh iblis.


Wallahu ‘aklam

Ahad, April 03, 2016

SAMBUTAN Maulud Fatimah buka pintu untuk Syiah


MAULUD Fatimah az Zahra binti Muhammad Rasulullah? Baru sekarang ada segelintir ahli agama merayakan Maulud Fatimah.  Tidak ada salahnya dari sudut sosial sebagaimana orang menyambut Maulud Nabi atau hari ulang tahun Hang Tuah atau Parameswara!

Fatimah adalah anak perempuan Nabi s.a.w.  Dan orang yang mencintai Nabi s.a.w. juga mencintai keluarga baginda. Namun tidak ada wasiat untuk umat Islam merayakan kelahiran atau kematian Nabi dan keluarganya. Maulud Nabi, Maulud Fatimah dan Hari Karbala adalah bikinan manusia sesudah kewafatan Nabi s.a.w.


Ratusan tahun orang Melayu Nusantara hanya mengenal Maulud Nabi s.a.w. Tidak ada maulud para sahabat kanan atau anak-anak baginda Nabi s.a.w.  Hanya penganut Syiah yang sudah lama merayakan Maulud Fatimah.  Kepada ahlus sunnah, syiah bukanlah mengikuti al-Quran dan Sunnah Nabi s.a.w.  Kerna itu para ulama Ahlus Sunah memfatwakan tidak boleh umat Islam memilih akidah Syiah.  Jika tidak murtad, pastinya dalam kesesatan yang jelas.

Oleh itu sedaya upaya, unsur-unsur Syiah mahu dihindari supaya ajaran dan budaya Syiah tidak memasuki ruang keagamaan Ahlus Sunnah.  Namun telah berlaku orang-orang Melayu daripada Ahlus Sunnah menyeberang kepada akidah dan budaya Syiah.  Pada 30 Mac, Syiah merayakan Hari Bunda atau Maulud Fatimah as Zahra.  Dalam Syiah, merayakan hari kelahiran Fatimah sama hebatnya seperti masyarakat Melayu merayakan Maulud Nabi. Tidak wajib dalam agama, tapi mesti buat!

Apabila ada orang Melayu yang mengaku Ahlus Sunnah dan menafikan cenderung Syiah merayakan hari kelahiran Fatimah, artinya mereka sedang menerima unsur Syiah.  Kepada Syiah Melayu yang dikatakan sejuta orang, jika ada kumpulan Melayu yang bukan Syiah ini merayakan Maulud Fatimah… itu sudah cukup menggembirakan.  Bagi mereka ini signal Syiah yang mula diterima. Selepas masyarakat Melayu menerima budaya Maulud Fatimah, langkah seterusnya tentulah syiar karbala! Isunya cantik, iaitu mencintai ahlul bait atau keluarga Nabi. Siapa mahu menafikan!

Ketahuilah, hanya kumpulan Melayu yang ada semangat syiah saja yang merayakan Maulud Fatimah. Bagi yang membenci Syiah, lebih baik tidak mengadakan Maulud Fatimah sekalipun mereka sayangkan keluarga Nabi s.a.w.  Dalam keadaan jarum Syiah sedang dicucuk di mana-mana, Ahlus Sunnah tidak akan melakukan Maulud Fatimah.


Untuk apa membuka pintu kepada Syiah?


Sabtu, April 02, 2016

TAUHID Uluhiyah menolak bid'ah hasanah

ORANG debatkan Sifat 20 dengan Tauhid Tiga (Rububiyah, Uhuliyah dan Asma wa Sifat), mana satu yang betul. Lebih ekstrim, ada antara pengikut salah satunya menuduh sesat pengguna yang sebelah sana.  Sifat 20 atau Tauhid Tiga, hanya kaedah atau cara memahami tauhid beragama. Kedua-dua itu bukan agama! Jika ada ilmuan menemukan satu lagi kaedah, boleh juga diguna pakai asalkan tidak menyalahi ajaran Allah dan rasul-Nya.

Teman saya seorang ustaz lepasan universiti di Jordan memberi kuliah kepada saya mengenai kelebihan Tauhid Tiga berbanding Sifat 20 atau manhaj Asya’irah.  Bukan bermakna dia menyalahkan atau menuduh kaedah Sifat 20 tidak berguna.  Sifat kita katanya, pilihlah kaedah yang lebih baik.

Ustaz menerangkan Tauhid Tiga bagi bahagian Uluhiyah. Tauhid Uluhiyah itulah yang menyebabkan manusia menerima sunah dan kental dengannya. Sebalik itu, mereka menjadi berjaga-jaga dengan bid’ah sepajang masa.

Apa itu Tauhid Uluhiyah? Saya pinjam catatan dalam kitab Aqidah Salaf Ahlus Sunnah Wal Jamaah oleh Abdullah bin Abdil Hamid al-Atsari terbitan Pustaka al-Inabah, Jakarta. Catat Tuan Syeikh Abdullah, “Keyakinan yang kuat bahawa Allah swt adalah ilah (yang diibadahi) yang haq, yang tidak ada ilah selain-Nya dan segala yang diibadahi selain-Nya adalah bathil, serta mengesakan-Nya dengan peribadahan, ketundukan dan ketaatan secara mutlak.  Tidak boleh seorang pun dipersekutukannya dengan-Nya, siapa pun dia, dan tidak boleh sesuatu pun dari peribadahannya dipalingkan kepada selain-Nya, seperti shalat, puasa, zakat, haji doa, meinta pertolongan, nazar, menyembelih, tawakal, khauf (rasa takut terhadap siksa-Nya), raja’ (mengharap kurnia dan rahmat-Nya), cinta, dan selain dari jenis-jenis peribadahan yang zahir (nampak) dan batin (tersembunyi).  Allah swt harus diibadahi dengan mahabbah (kecintaan), khauf (rasa takut) dan raja’ (pengharapan) secara bersamaan. Beribadah kepada-Nya dengan sebagian jenis ibadah, tanpa sebagian ibadah yang lainnya adalah kesesatan.”

Ayat 5 surah al-Fatihah, “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami minta tolong.”

Ayat 25 surah al-An’biya, “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘bahawa sanya tidak ada ilah (yang haq) melainkan Aku’ maka ibadahlah kamu terhadap Aku.”

Beribadah dengan tepat mesti ada prinsipnya.

Pertama: Semua jenis peribadahan ditujukan kepada-Nya semata-mata, bukan kepada selain-Nya dan tidak boleh diberikan kepada makhluk lain sedikit pun dari hak-hak d an kehususan Sang Pencipta. Ayat 3 surah Az Zumar, “Ingatlah hanya kepunyaan Allah agama yang bersih (daripada syirik)….”

Kedua: Ibadah tersebut harus selaras dengan perintah Allah dan perintah rasul-Nya. Ayat 21 surah As Syura, “Patutkah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang mensyariatkan mana-mana bahagian daripada agama mereka sebarang amalan yang tidak diizinkan Allah? Jika tidak kerna kalimah tetetapan yang menjadi pemutus, tentulah dijatuhkan azab dengan serta merta kepada mereka.  Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu beroleh azab seksa yang pedih.”

Bahagian Uluhiyah inilah yang menjadi benteng muslim daripada menerima bid’ah hasanah, kerna apa saja ibadah yang bukan diajarkan oleh Nabi-Nya, bermakna satu ibadah rekaan  orang,  walhal Islam sudah sempurna.


Allahu aklam.

Sabtu, Mac 19, 2016

MENGAPA saya muslim, bukannya Kristian

foto hiasan
KEBANYAKAN manusia beragama kerna nenek-moyangnya beragama. Jika nenek-moyangnya beragama Islam, maka keturunannya beragama Islam.  Begitu juga jika nenek-moyangnya beragama Kristen, Hindu atau Buddha, maka itu jugalah agama keturunanya.  Mewarisi kepercayaan orang terdahulu dan mengikutinya sahaja tanpa mengambil pengetahuan mengenainya. Hanya sedikit yang jujur dan bersungguh-sungguh berilmu dengan agamanya, termasuklah dalam kalangan penganut agama apa pun.

Dalam kalangan muslim pun mewarisi kepercayaan atau tradisi beragama nenek-moyangnya. Jika nenek-moyangnya bukan ahli shalat di masjid, maka keturunannya pun banyak begitu sekalipun mereka telah punya pelbagai ilmu kemahiran (dengan adanya pemilikan diploma dan ijazah).

Jika muslim telah berbangga dengan Islam yang dikatakan agama keilmuan, setiap kita mesti bersedia menerima pertanyaan hebat: Mengapa aku seorang muslim, bukan seorang Kristen?

Adalah sangat tidak masuk akal, seorang yang kelihatan hebat ilmunya dan disanjung masyarakat, tidak bersedia menjawab soalan mengapa dirinya seorang muslim. Malah ketakutan apabila melihat gambar salib di tepi-tepi jalan.  Tampak ada yang tidak beres daripada ilmu yang ditekuni belasan tahun.  Agama yang dia yakini sendiri sebagai jalan akhir dan benar menuju akhirat, tidak dipahami lagi.

Al Baqarah ayat 170, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘ikutilah apa yang diturunkan Allah’ mereka menjawab ‘(tidak) kami mengikuti apa yang kami dapati daripada nenek kami (yang melakukannya)’.  Padahal nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk.”
                            
Al An’am ayat 116, “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini nescaya mereka akan menyesatkan mu dari jalan Allah.  Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanya membuat kebohongan.”

An Nuur ayat 51, “Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata ‘kami mendengar dan taat’ dan mereka itulah orang-orang  yang beruntung.”

Al Ahzab ayat 36, “Dan tidaklah pantas bagi lelaki dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka.  Dan sesiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.”


Apakah kita sebagai seorang muslim yang bersekolah tinggi masih beragama kerna sangkaan sahaja?

Isnin, Mac 14, 2016

TAHLILAN arwah itu diakui daripada Hindu Buddha

TAHLILAN orang mati yang dipahami sebagai ritual agama Islam hanya ada di Nusantara.  Kerna itu telah berlaku perdebatan atau diskusi kedudukan tahlilan arwah sebagai ritual agama. Sebagian ilmuan yang menjunjung ketulenan beragama berhujah tahlilan arwah atau selametan itu tidak ada pada jaman Nabi s.a.w.  Sebagian lagi menjawab ritual tahlilan itu tetap diterima sebagai  jalan ibadah kerna di dalamnya terkandung bacaan ayat-ayat al-Quran dan doa.  Ini dilihat sangat baik dan sesuai dengan adat budaya masyarakat Nusantara.

Kiyai Idrus Ramli bukan nama kecil dalam dakwah.  Beliau pula terkenal sebagai pejuang agama versi Nusantara yang melanggengkan tahlilan arwah, selametan, yasinan malam Jumaat dan hal-hal lain yang dikritik oleh pihak 'wahabi'.  Namun Kiyai Idrus Ramli mengakui bahwa sejarahnya, tahlilan arwah itu berasal dari luar Islam. Sebelum beragama Islam, masyarakat Nusantara telah terlalu lama beramal dengan Hindu-Buddha.  Terlalu sukar masyarakat menyisihkan terus ritual Hindu-Buddha.  Oleh itu konsep ritual kematian dalam Hindu-Buddha dikekalkan, tetapi isinya ditukar kepada ayat-ayat al-Quran.

Komentar pengarang: Setelah sadar begitu, kembalilah ke jalan salafus shalih. Manhaj salaf sebaik-baik jalan memahami dan melalui keagamaan.