Pengikut

Isnin, Mac 20, 2017

"KAMI tidak reda bayar cukai!"

TELAH disebarkan dalam media baru, data cukai GST 6 peratus yang didakwa menguntungkan pemerintah dan sebagai bukti penderitaan rakyat.  Ayat-ayat yang disertakan itu meminta rakyat pembayar cukai sedar.  Dalam banyak diskusi politik pula biasa kedengaran agar rakyat tidak meredai semua pembayaran cukai kepada kerajaan, kerna mereka mendakwa para pemimpin negara memboroskan wang yang diperoleh daripada cukai rakyat.


Kebanyakan kita sebagai rakyat telah diasuh untuk buruk sangka terhadap pemerintah.  Apa saja usaha pemerintah pasti disudahi kesimpulan: pemerintah memeras tenaga dan keringat rakyat. Maka rakyat mesti mencela atau membenci pemimpin negara.  Bersangka-sangka itu bukannya fakta zahir, malah hanya ilusi atau gambaran tidak pasti.  Apakah Islam melayan suatu sangkaan untuk membuat hukuman atau keputusan?

Daripada Hisyam bin Urwah, daripada ayahnya, daripada Zainab, daripada Ummu Salamah r.a., bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda (maksudnya), “Kalian menyerahkan persengketaan kalian padaku. Namun bisa jadi sebagian daripada kalian lebih pintar dalam berhujah daripada yang lain.  Maka barang siapa yang kerna kepintarannya itu, aku tetapkan suatu hal yang sebenarnya adalah hak orang lain. Maka hakikatnya, pada ketika itu aku telah menetapkan baginya sepotong api neraka.  Oleh itu hendaknya jangan mengambil ak orang lain.” (HSR Al-Bukhari (2680), Muslim (1713), An-Nasai (5401) dan At-Tirmidzi (1339)

Syeikh ‘Athiah Salim memberi komentar hadis itu bermaksud, hakim akan menghukumi suatu perkara berdasarkan hujah yang nyata di hadapannya.

Begitulah dalam agama memberi prinsip kita membuat keputusan berdasarkan fakta yang kita ketahui, bukan dengan menyangka-nyangka hal yang belum jelas. Hal ini dijelaskan oleh Syeikh Dr Khalid Basmalah ketika menanggapi sedekah kepada orang yang akhirnya diketahui seorang pendusta.  Misalnya ada orang meminta sumbangan infak untuk membangun masjid, namun pada waktu lain kita ketahui bahwa dia rupanya berdusta ketika mencari dana infak. Menurut Syeikh Dr Khalid, kita berhukum berdasarkan zahirnya.  Zahirnya dia meminta dana untuk kebajikan, maka kita infak kepadanya. Dan insya Allah atas keikhlasan itu ada pahala infak sekalipun suatu masa terbukti infak kita rupanya tidak untuk membangun kebajikan umat.

Begitulah kita membayar cukai-cukai atau bea  yang diwajibkan oleh pemerintah atau kerajaan.  Zahirnya permintaan kerajaan adalah untuk kebajikan bernegara. Negara memerlukan dana untuk pengurusan dan pembangunan, maka kerajaan menentapkan hal-hal percukaian.  Rakyat telah membayarnya atas permintaan kerajaan yang zahir.  Jika nanti kita mengetahui ada sebagian pegawai tinggi kerajaan melakukan korupsi dalam membelanjakan wang kerajaan (hasil percukaian), apakah pahala kita membayar cukai hilang? Tidak sama sekali.

Atau ya pahala hilang jika kita tidak ikhlas, mengungkit-ungkit pembayaran cukai kepada kerajaan.  Percuma atau sia-sia, wang ratusan ringgit atau ribuan ringgit yang dibayar kepada kerajaan dalam bentuk cukai tidak mendatangkan pahala kebajikan yang sangat berguna di akhirat kelak.  Walhal Allah memberi jaminan gandaan 700 peratus  infak atau sumbangan untuk kebajikan. Lihat maksud ayat 261 al-Baqarah, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada 100 biji. Allah melipatgandakan bagi sesiapa yang Dia kehendaki dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”

Berkenaan kewajiban rakyat terhadap pemerintah atau kerajaan  ialah mematuhi perintah yang baik. Percukaian adalah perintah yang baik dalam  bernegara. Bisa dilihat Allah mewajibkan orang beriman mentaati Allah, rasul dan pemerintah. Itu dalam ayat 59 surah An-Nisa.

Namun jika  apa saja kebajikan yang kita lakukan termasuk pembayaran cukai itu diungkit-ungkit, hapuslah semua pahalanya.  Kita bisa lihat ayat 264 surah al-Baqarah, Allah umpamakan pahala kebajikan kita debu di atas batu licin, apabila ditimpa hujan habis hilanglah debu itu. Maknanya, apabila kita ungkit-ungkit semula kebajikan yang lalu, habis licinlah pahala yang asalnya ada.  Apakah kita hendak rugi begitu hanya kerna mendengar sangka-sangkaan yang jelas daripada syaitan?

Ya, terpulanglah kepada keimanan masing-masing.

Rabu, Mac 08, 2017

BAIK rakyat, baiklah pemimpin

foto untuk hiasan

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zholim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zholim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat. Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.
 Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Mu’awiyah, Umar bin Abdul Azis, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah Ta’ala.” (Lihat Miftah Daaris Sa’adah, 2/177-178)


Sabtu, Mac 04, 2017

BERAPA kali demontrasi antitahlilan?

MEMPENGARUHI atau menghasut pemikiran, sama saja sifatnya. hal ini berlaku terhadap sesuatu pemahaman yang dikatakan salah mahu dihalang. Maksud salah pun bisa saja jadi macam-macam.
Foto untuk hiasan
Ada orang agama yang betah dan mendapat nikmat hidup kerna kerja agamanya. jika ada pemahaman lain yang mengganggu kebetahannya, dia pasti marah. Oleh kerna masyarakat sudah menerima saja lisannya, tugasan hidupnya menjadi lebih mudah.

Agama yang benar ialah yang persis seperti dalam al-Quran dan hadis sahih Nabi s.a.w. Tanpa dua sumber itu, sudah lama Islam musnah sebagai agama langit. Itu telah terjadi pada agama Yahudi dan Nasrani.  Dalam khutbah akhir Nabi s.a.w. di Arafah pun dipesankan jangan meninggali al-Quran dan Sunahnya.

Rupa-rupanya tak semua yang dinamakan ritual ibadah di negeri kita persis seperti aturannya Nabi s.a.w. Ada sedikit-sedikit seperti ritual tahlilan itu bukan berdasar Sunah Nabi s.a.w.  Namun tahlilan sudah mendalam seperti akar tunjang pohon besar.  Apa saja berkumpulnya orang atas nama agama mesti dibuat tahlilan.

Kemudian muncul golongan yang mahu membuat tajdid, mahu memurnikan atau mengembalikan ritual agama ini seperti yang dijalankan oleh Nabi s.a.w. dan para sahabatnya. Tentu saja orang-orang yang sudah betah dengan tahlilan jadi marah. Maka mereka melabel 'wahhabi' kepada yang mahu membuat tajdid. Untuk menguat hujah agar menjauhi orang atau ustaz berfikrah 'sunah' atau 'salafi' atau wahhabi itu, masyarakat diingatkan bahaya berpecah-belah. Dan paling keras golongan sunah-salafi-wahhabi didakwa bakal membunuh orang yang tidak sefaham dengan mereka! Duh... semua gerun.

Hakikatnya apa? Pemahaman sunah atau salafi atau wahhabi sudah ada sejsk awal kurun ke-20 yang lalu. Dahulu mereka dipanggil 'kaum muda'. Dalam sejarah kaum muda menyumbang pada pengembangan dan membuka data fikir umat Melayu. Lihatlah buku sejarah di sekolah.

Telah lebih satu abad diskusi atau debat sunah dan mana yang tidak sunah, tidak ada perpecahan seperti adanya katolik dan protestant. Tidak ada muncul partai politik memperjuangkan sunah dan meghapus bid'ah.  Tidak ada demontrasi besar saban tahun untuk mengajak umah meninggalkan tahlilan. Tidak ada perlawanan bersenjata antara kumpulan anti dan protahlilan.

Pecahnya umah sejak dahulu kerna nafsu berpolitik. orang-orang agama yang mengatakan wahhabi pemecah umat dan bakal membunuh umat Islam lain juga sedang berada dalam salah satu partai yang membenci malah meracun kebencian partai lawannya!

Kerna berpolitik, terbukti sebuah keluarga berantakan. Ada suami istri bercerai akibat paham politik yang berbeda. Ada sekumpulan umat mati berdarah akibat berbeda paham politik. Malah begitu banyak demontrasi massa di merata-rata itu pun disebabkan pergaduhan politik.

Mengapa orang-orang agama yang betah dengan tahlilan itu tidak membayangkan bunuh-membunuh akan berlaku akibat perbedaan dan pertelingkahan politik sekarang? Jawabannya, sebab ahli-ahli agama yang memusuhi sunah-salafi-wahabi itu sebagian daripada aktor partai politik yang hari-hari menyuburkan kebencian umat terhadap anggota dan partai lawannya. Mereka menutupi kebejatan diri dengan mengalih perhatian masalah umah kepada pihak lain.

Isnin, Februari 27, 2017

MENGUMPAT / MENGGUNJING APA?

CATATAN seorang sahabat kita:

Menceritakan ‘aib orang lain tanpa ada hajat sama sekali, inilah yang disebut dengan ghibah. Karena ghibah artinya membicarakan ‘aib orang lain sedangkan ia tidak ada di saat pembicaraan. ‘Aib yang dibicarakan tersebut, ia tidak suka diketahui oleh orang lain.

Adapun dosa ghibah dijelaskan dalam firman Allah Ta’ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)

Asy Syaukani rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Allah Ta’ala memisalkan ghibah (menggunjing orang lain) dengan memakan bangkai seseorang. Karena bangkai sama sekali tidak tahu siapa yang memakan dagingnya. Ini sama halnya dengan orang yang hidup juga tidak mengetahui siapa yang menggunjing dirinya. Demikianlah keterangan dari Az Zujaj.”

Asy Syaukani rahimahullah kembali menjelaskan, “Dalam ayat di atas terkandung isyarat bahwa kehormatan manusia itu sebagaimana dagingnya. Jika daging manusia saja diharamkan untuk dimakan, begitu pula dengan kehormatannya dilarang untuk dilanggar. Ayat ini menjelaskan agar seseorang menjauhi perbuatan ghibah. Ayat ini menjelaskan bahwa ghibah adalah perbuatan yang teramat jelek. Begitu tercelanya pula orang yang melakukan ghibah.”

Adapun yang dimaksud ghibah disebutkan dalam hadits berikut,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya, “Tahukah kamu, apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu tentang dirinya, maka berarti kamu telah menggibahnya (menggunjingnya). Namun apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah menfitnahnya (menuduh tanpa bukti).” (HR. Muslim no. 2589, Bab Diharamkannya Ghibah)

Ghibah dan menfitnah (menuduh tanpa bukti) sama-sama keharaman. Namun untuk ghibah dibolehkan jika ada tujuan yang syar’i yaitu dibolehkan dalam enam keadaan sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah. Enam keadaan yang dibolehkan menyebutkan ‘aib orang lain adalah sebagai berikut:
1- Mengadu tindak kezaliman kepada penguasa atau pada pihak yang berwenang. Semisal mengatakan, “Si Ahmad telah menzalimiku.”
2- Meminta tolong agar dihilangkan dari suatu perbuatan mungkar dan untuk membuat orang yang berbuat kemungkaran tersebut kembali pada jalan yang benar. Semisal meminta pada orang yang mampu menghilangkan suatu kemungkaran, “Si Rahmat telah melakukan tindakan kemungkaran semacam ini, tolonglah kami agar lepas dari tindakannya.”
3- Meminta fatwa pada seorang mufti seperti seorang bertanya mufti, “Saudara kandungku telah menzalimiku demikian dan demikian. Bagaimana caranya aku lepas dari kezaliman yang ia lakukan.”
4- Mengingatkan kaum muslimin terhadap suatu kejelekan seperti mengungkap jeleknya hafalan seorang perowi hadits.
5- Membicarakan orang yang terang-terangan berbuat maksiat dan bid’ah terhadap maksiat atau bid’ah yang ia lakukan, bukan pada masalah lainnya.
6- Menyebut orang lain dengan sebutan yang ia sudah ma’ruf dengannya seperti menyebutnya si buta. Namun jika ada ucapan yang bagus, itu lebih baik. (Syarh Shahih Muslim, 16: 124-125)
Kalau kita perhatikan apa yang dimaksud oleh Imam Nawawi di atas, ghibah masih dibolehkan jika ada maslahat dan ada kebutuhan. Misal saja, ada seseorang yang menawarkan diri menjadi pemimpin dan ia membawa misi berbahaya yang sangat tidak menguntungkan bagi kaum muslimin, apalagi ia mendapat backingan dari non muslim dan Rafidhah (baca: Syi’ah), maka sudah barang tentu kaum muslimin diingatkan akan bahayanya. Namun yang diingatkan adalah yang benar ada pada dirinya dan bukanlah menfitnah yaitu menuduh tanpa bukti. Wallahu waliyyut taufiq.
Disusun di Jayapura, Papua, 26 Rajab 1435 H

Jumaat, Februari 10, 2017

PAHALA sebesar Uhud pun bisa hilang!

PAHALA merupakan hadiah atau ganjaran kerna melakukan amal ibadah kepada Allah.  Pahala, sama seperti dosa (hukuman) di sisi Allah merupakan perkara ghaib, yang manusia tidak tahu apa-apa kecuali dikhabarkan oleh Allah atau melalui lisan rasul-Nya. Umumnya Allah memberikan pahala sebagai hadiah.  Allah dan rasulnya memberi gambaran sebanyak mana pahala itu dan bagaimana pahala itu juga bisa hilang setelah awalnya dihadiahkan oleh Allah.

Bukit Uhud di Madinah

Oleh kerna manusia menetap di muka bumi maka gambaran banyak atau sedikit atau hilangnya juga dicontohkan melalui apa yang ada di bumi.  Oleh itu mudahlah manusia memahami kuantiti pahala yang disandarkan dengan keperluan manusia.  Mislanya pahala menziarahi jenazah atau mensolati hingga selesai penguburannya.

Daripada  Abu Hurairah r.a.  katanya: "Rasulullah SAW  bersabda (maksudnya): ‘Barangsiapa menziarah jenazah orang Muslim kerana iman dan ikhlas serta turut solat jenazah bersama-sama dan menguruskan pengkebumiannya sampai selesai,  maka orang itu pulang membawa pahala dua qirat (satu qirat kira-kira sebesar Bukit Uhud). Dan siapa yang hanya mengikuti solat jenazah sahaja kemudian dia pulang sebelum pengkebumian maka orang itu pulang membawa pahala satu qirat."
(Hadis Riwayat Imam al-Bukhari)

Diriwayatkan hadis daripada Qatadah,  daripada Zurarah b Aufa , hadith daripada  Said b Hisyam, hadith daripada  A’isyah hadith daripada  Nabi s.a.w  yang bersabda: “Rak’atal fajri khairun minad-dunya wa-ma fiha.’ (bermaksud): Dua rakaat solat  (sunat) sebelum Solat Fajr (Subuh) itu lebih baik daripada dunia  dan seisinya.”  
(Hadis riwayat Imam  Muslim)

Orang menyebut gunung atau bukit Uhud, suatu yang besar. Tentu manusia sangat mahu memiliki barang berharga sebesar gunung.  Begitu juga motivasi kepada orang yang shaat dua rakaat (sunat) sebelum shalat fardu Subuh.  Ganjarannya melebihi satu planet bumi dan segala kekayaan yang ada pada bumi! Raja yang berkuasa dalam negeri dan punya hasil minyak pun sudah sangat mewah, inikan pula satu bumi dia miliki.  Itu di akhirat kelak dia mendapatnya. Jadi orang beriman berlumba-lumba meraih kekayaan di akhirat dengan shalat sunat itu.

Namun jangan dilupa Allah itu Maha  Adil. Jika kita melanggar syarat-syarat pemilikan hadiah itu, Allah akan mengambilnya semula.  Kosonglah kantong pahala yang selama ini tersimpan rapi.  Allah sahaja yang tahu kecuali kita hanya diberi gambaran pasal batu, debu dan air hujan.  Gambaran di sisi kehidupan yang mudah dipahami orang biasa.

Surah al-Baqarah ayat 264 (bermaksud), “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya kerna riya’ (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat.  Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi.  Mereka tidak memperoleh suatu apa pun daripada apa yang dikerjakan.  Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”


Allahu ‘aklam

Sabtu, Januari 28, 2017

"INILAH sebaik-baik bid'ah" tolonglah Pak Kiyai pahami.

hanya hiasan
SEBAHAGIAN orang suka mengambil kata-kata Khalifah Umar al-Kattab iaitu, “Ini sebaik-baik bid’ah.”  Hal ini merujuk pada tindakan Khalifah Umar mengumpulkan banyak orang shalat malam pada bulan Ramadan, berimamkan seorang sahaja.  Maksudnya, orang yang sukakan bid’ah mengatakan Khalifah Umar pun membuat bid’ah, maka tidak salah apa-apa  jika orang jaman-jaman seterusnya berbuat bid’ah sebab yang dilakukan amat baik.

Penulis mencuplik kisahnya. Seorang sahabat,  Abdurrahman bin Abdul Qariy berkata : “Suatu malam di bulan Ramadhan, aku keluar bersama Khalifah Umar bin Al-Khattab menunju masjid. Ternyata kami dapati manusia berpencar-pencar di sana-sini. Ada yang shalat sendirian, ada juga yang shalat mengimami beberapa orang.  Beliau (Umar) berkomentar: “(Demi Allah), seandainya aku kumpulkan orang-orang itu untuk shalat bermakmum kepada satu imam, tentu lebih baik lagi”. Kemudian beliau melaksanakan tekadnya, beliau mengumpulkan mereka untuk shalat bermakmum kepada Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘anhu. Abdurrahman melanjutkan: “Pada malam yang lain, aku kembali keluar bersama beliau, ternyata orang-orang sudah sedang shalat bermakmum kepada salah seorang qari mereka. Beliaupun berkomentar, “Ini sebaik-baik bid’ah, namun mereka yang tidur dahulu (sebelum shalat) lebih utama dari mereka yang shalat sekarang.”  Yang Khalifah Umar  maksudkan iaitu mereka yang shalat pada akhir waktu malam. Sedangkan orang-orang tadi shalat di awal waktu malam”
Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwattha (I : 136-137), demikian juga Al-Bukhari (IV : 203), Al-Firyabi (II : 73, 74 : 1-2). Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi Syaibah (II : 91 : 1) dengan lafazh yang mirip, namun tanpa ucapan beliau : “sebaik-baiknya bid’ah, ya yang seperti ini”. Demikian juga Ibnu Sa’ad (V : 42) dan Al-Firyabi dari jalur lain (74 : 2) meriwayatkannya dengan lafazh : “kalau yang seperti ini dianggap bid’ah, maka sungguh satu bid’ah yang amat baik sekali”. Para perawinya terpercaya, kecuali Naufal bin Iyyas. Imam Al-Hafizh mengomentarinya dalam “At-Taqrib” ; “Bisa diterima”, maksudnya apabila diiringi hadits penguat, kalau tidak, maka tergolong hadits yang agak lemah. Begitu penjelasan beliau dalam mukaddimah buku tersebut.

Khalifah Umar bukan mereka-reka sendiri perbuatan mengumpul orang shalat malam dalam satu jamaah berimamkan seorang qari.  Sungguh sahabat yang mulia hanya menuruti sahaja apa yang pernah dilakukan oleh Muhammad Rasulullah s.a.w.  Perhatikan apa yang diceritakan oleh Isteri Rasulullah.

Daripada  A’isyah r.a., dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam keluar di tengah malam untuk melaksanakan shalat di masjid, orang-orang kemudian mengikuti beliau dan shalat di belakangnya. Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam berikutnya orang-orang yang berkumpul bertambah banyak lalu ikut shalat dengan beliau. Dan pada waktu paginya orang-orang kembali membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam yang ketiga orang-orang yang hadir di masjid semakin bertambah banyak lagi, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk shalat dan mereka shalat bersama beliau. Kemudian pada malam yang keempat, masjid sudah penuh dengan jama’ah hingga akhirnya beliau keluar hanya untuk shalat Shubuh. Setelah beliau selesai shalat Fajar, beliau menghadap kepada orang banyak membaca syahadat lalu bersabda: “Amma ba’du, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku takut shalat tersebut akan diwajibkan atas kalian, sementara kalian tidak mampu.” (HR al-Bukhari no. 924 dan Muslim no. 761)

Kan jelas Khalifah Umar hanya membina semula apa yang telah dibina oleh Rasulullah, dan kemudian dihentikan atas sebab yang disebut oleh Rasulullah juga.  Apabila Rasulullah sudah wafat, tidak ada lagi wahyu turun, maka Khalifah Umar membangunkan semula shalat malam berjamaah pada bulan Ramadan.  Apakah ini masih dikata Khalifah membikin tatacara ibadah sendiri?


Jika Khalifah mahu membikin shalat berjamaah yang tidak ditunjuk oleh Rasulullah, banyak lagi shalat sunat yang dilakukan oleh manusia pada jamannya secara terpencar-pencar (malah sehingga hari ini). Khalifah Umar kekal membiarkan orang shalat tahiyatal masjid secara terpencar-pencar.  Begitu juga shalat sunat rawatib. Bukankah bisa saja Khalifah Umar mengumpulkan manusia buat shalat rawatib berjamaah dan mengatakan ‘Ini adalah sebaik-baik bid’ah.’  Nyatanya, bukan saja Khalifah Umar tidak melakukannya, malah tidak ada seorang pada jaman salaf atau ulama jaman sesudahnya berani mengumpulkan orang buat shalat tahiyatal masjid secara berjamaah!

Khamis, Januari 26, 2017

PEGAWAI agama hina sunah Nabi?

JIKA orang yang pendidikannya terhad dan kehidupannya dalam lingkungan bukan ahli agama, lalu dia menyindir dan mencela orang yang mengamalkan sunah Nabi s.a.w., mudah difahami. Namun jika orang punya ijazah agama berjawatan pegawai penting dalam institusi agama tertinggi kerajaan negeri menghina sunah Nabi s.a.w., ada dua kemungkinan. Pertama, dia jahil namun berjaya berjawatan tinggi disebabkan faktor luar. Kedua, dia tahu agama tetapi sengaja membenci sunah dan suka orang lain bersamanya membenci sunah.

Telah berlaku, seorang berjawatan tinggi dalam institusi agama memcela dan kesal orang yang berwuduk menuruti cara wudhuknya Nabi s.a.w. Dia sesal ada orang berwudhuk pada bagian mengusapkan air di kepala, orang berkenaan mengusapkan air di kepala dengan tangan dan terus ke telinga sekali saja.
Hadis berwudhuk dalam Bulughul Maram
Walhal, hadis sahih al-Bukhari dan Muslim sudah masyhur termasuk dalam kitab Bulughul Maram oleh Imam Ibnu Hajar al-Asyqalani.

Menghina sunah Nabi s.a.w. bukan remeh temeh, mengikuti sunah Nabi s.a.w. itu fardhu sebagai petunjuk ibadah. Apakah sikap orang beragama apabila orang berkata, "...seperti tidak ada kerja lain dalam hidup, asyik berulang-alik antara rumah dan masjid (maksudnya shalat berjamaah di masjid)."

Sunah merupakan jalan beragama, maka siapa yang menghina sunah tentulah dia pembenci sunah.

Harap orang berkenaan bertaubat dan kembali ke jalan as-Sunnah Nabi s.a.w.

Ahad, Januari 08, 2017

KEMAHIRAN Berfikir Aras Tinggi (KBAT) dan tahlil arwah

APABILA ibadah dilakukan sebab warisan, ada kemungkinan akan berkonflik dengan al-Quran dan sunah Nabi s.a.w.  Ada yang mahu ibadah itu disesuaikan menuruti jalan Allah dan nabi-Nya. Ada pula yang mahu wahyu Allah dan petunjuk nabi-Nya disesuaikan pula dengan amal ibadah bangsa yang sudah mantap dan meluas.

Contoh terbaik ialah ibadah berkait orang mati iaitu Tahlilan Arwah.  Sudah jelas kepada semua ahli agama ibadah itu bukan yang dicontohkan oleh Nabi s.a.w. atau para sahabatnya. Ini rekaan oleh ahli agama bangsa ratusan tahun dahulu.  Sebagian ahli agama yang mahu menuruti sunah Nabi s.a.w. mahu Tahlilan Arwah itu dihentikan untuk menjaga ketulenan ajaran  Nabi s.a.w.  Penggiat Tahlilan Arwah mempunyai hujahnya sendiri iaitu, 'walaupun tidak daripada Nabi s.a.w. tetapi tahlilan arwah itu baik dan niatnya baik' dan satu lagi 'tidak ada larangan daripada Nabi s.a.w.'.

Benarkah Nabi tidak melarang tahlilan arwah? Jika kita mencari sabda Nabi s.a.w. yang begini memang tidak ada: "Janganlah kalian lakukan tahlilan arwah sesudah ketiadaanku."

Perhatikan hadis sahih berikut, harap penggiat Tahlilan Arwah ada unsur Kemahiran Berfikir Aras Tinggi (KBAT) dalam memahaminya.
Daripada A'isyah r.a. bahawa Nabi s.a.w. bersabda (maksudnya), "Sesiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami (urusan agama) perkara  yang tidak ada padanya, maka ia tertolak." (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Jika hadis itu dibahas oleh murid sekolah yang berunsur KBAT tentu mereka menyenaraikan beberapa maksud hadis yang tersirat selain tersurat itu.  Antaranya seperti:
 - mencipta ibadah sendiri adalah kerja sia-sia.
 - kita tidak ada hak mencipta amal ibadah.
 - Nabi s.a.w. melarang kita mencipta ibadah sendiri.
 - Nabi s.a.w. mahu umatnya hanya mengguna pakai ibadah yang  baginda ajarkan.
 - Ibadah dalam Islam hak Allah dan rasul-Nya.
 - Muslim diminta patuh saja apa yang Nabi s.a.w. ajarkan.

Semoga program KBAT Kementerian Pendidikan akan melahirkan rakyat yang betfikiran  matang dan keluar daripada belenggu kejumudan berfikir.

Jumaat, Januari 06, 2017

HUKUM mengaji suara tinggi dalam masjid

TELAH biasa orang membaca al-Quran di dalam masjid menggunakan pembesar suara. Banyak berlaku sebelum azan subuh dan azan Jumaat. Sama ada orang terganggu atau tidak, sukar sekali 'ibadah' itu mahu dihentikan. Dalilnya 'membaca al-Quran itu ibadah. orang yang mendengarlan berpahala. baca kuat itu syiar agama'. Kini ada pula kuliah agama sebelum azan Jumaat.

Lihatlah komentar ulama besar.

Foto hanya hiasan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanyakan,

“Bagaimana hukum bagi orang yang mengeraskan bacaan Al Qur’an sedangkan yang lain sedang mengerjakan shalat sunnah di masjid atau mengerjakan shalat tahiyatul masjid? 
Bacaan keras tersebut dapat mengganggu saudaranya yang lain. 
Apakah dilarang mengeraskan bacaan Al Qur’an ketika itu?”

Syaikhul Islam rahimahullah menjawab:

Tidak boleh bagi seorang pun untuk mengeraskan bacaan baik ketika shalat atau keadaan lainnya, sedangkan saudaranya yang lain sedang shalat di masjid, lalu dia menyakiti saudaranya dengan mengeraskan bacaan tadi.

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemui beberapa orang yang sedang shalat di bulan Ramadhan dan mereka mengeraskan bacaannya.

Lalu Nabi shallallahu berkata pada mereka,

أَيُّهَا النَّاسُ كُلُّكُمْ يُنَاجِي رَبَّهُ فَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ

“Wahai sekalian manusia. Kalian semua sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Rabbnya. Oleh karena itu, janganlah di antara kalian mengeraskan suara kalian ketika membaca Al Qur’an sehingga menyakiti saudaranya yang lain.”

Beliau rahimahullah mengatakan, 
“Dari sini tidak boleh bagi seorang pun mengeraskan bacaan Al Qur’an-nya sehingga menyakiti saudaranya yang lain seperti menyakiti saudara-saudaranya yang sedang shalat.” (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 23/64)

Al-Ustâdz Abu Rumaysho, Muhammad Abduh Tuasikal bin Usman Tuasikal 

Artikel https://rumaysho.com | Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat

[Sumber : https://rumaysho.com/562-hukum-mengeraskan-bacaan-quran-padahal-yang-lain-sedang-shalat.html ]

Khamis, Disember 29, 2016

SYIRIK dan bid'ah - jalan syaitan


SUATU ketika  Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkisah,

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هذه سبل و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,’  kemudian beliau membaca,

{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya’” ([Al An’am: 153] Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya)

Para imam tafsir menjelaskan bahwa pada ayat ini, Allah Tabaraka wa Ta’ala menggunakan bentuk jamak ketika menyebutkan jalan-jalan yang dilarang manusia mengikutinya, yaitu {السُّبُلَ}, dalam rangka menerangkan cabang-cabang dan banyaknya jalan-jalan kesesatan. Sedangkan pada kata tentang jalan  kebenaran, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan bentuk tunggal dalam ayat tersebut, yaitu {سَبِيلِهِ}. karena memang jalan kebenaran itu hanya satu, dan tidak berbilang.  (Sittu Duror, hal.52).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dan ini disebabkan, karena jalan yang mengantarkan (seseorang) kepada Allah hanyalah satu. Yaitu sesuatu yang dengannya, Allah mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Tiada seorangpun yang dapat sampai kepada-Nya, kecuali melalui jalan ini” (Sittu Duror, hal.53).

Jika Anda ingin tahu apa itu jalan kebenaran yang hanya ada satu tersebut? Jawabannya adalah jalan yang pernah ditempuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, itulah satu-satunya jalan yang bisa mengantarkan seorang hamba kepada Allah Azza wa Jalla. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah menjelaskan bahayanya tidak mengetahui jalan kebenaran ini, beliau mengatakan,

الجهل بالطريق و آفاتها و المقصود يوجب التعب الكثير، مع الفائدة القليلة

“Ketidaktahuan terhadap jalan kebenaran ini dan rintangan-rintangannya, serta tidak memahami maksud dan tujuannya, akan menghasilkan kepayahan yang sangat, disamping itu faedah yang didapatkanpun sedikit” (Sittu Duror, hal. 54). 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan jalan yang lurus tersebut dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِيْ

“Aku tinggalkan untuk kalian sesuatu. Jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku” (Diriwayatkan Imam Malik dan yang lainnya, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).

Sumber: http://muslim.or.id/25459-jalan-kebenaran-hanya-satu-1.html

Ahad, Disember 25, 2016

HARI NATAL vs akidah muslim

Foto hanya hiasan
HARI Natal Nasrani itu tanggal 25 Disember. Hari Natal itu hari agung, penuh kebesaran dan kemegahan kepada penganut agama Nasrani. Orang Nasrani itu mengatakan menyembah tuhan iaitu Allah. Itu sama seperti umat Islam yang menyembah Allah sebagai Tuhan yang menguasai segala-gala yang ada dalam alam ini.

Muslim kental berakidah Allah Dialah satu-satunya Tuhan, yang tidak menyamai dengan apa-apa pun yang pernah dipikirkan oleh manusia. Oleh itu apabila umat Nasrani mengatakan Allah itu tiga ialtu Allah bapa, Allah anak iaitu Yesus (Nabi Isa) dan Allah bundanya Yesus, ini sangat berlawanan dengan ayat-ayat al-Quran bahwa Allah itu satu atsu esa.

Al-Quran sangat jelas menceritakan kedurjanaan orang Nasrani mengubah ajaran suci Nabi Isa kepada satu ajaran Allah itu tiga. Dan al-Quran juga menjelaskan orang Nasrani yang berakidah triniti itu sungguh mahu umat Islam menjadi seperti mereka.

Al-Ma'idah: 73 "Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah itu adalah satu daripada tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti (bertaubat) daripada apa yang mereka katakan, pasti orang-orang kafir di antara mereka adan ditimpakan azab yang pedih."

Al-Baqarah: 109 "Banyak antara ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) ingin sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu (muslim) setelah kamu beriman menjadi kafir kembali kerna rasa dengki dalam diri mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka....)

Akidah Nasrani yang direka setelah ketiadaan Yesus (Nabi Isa) ialah Allah itu ialah Yesus. Allah menjelma dalam Yesus untuk menebus dosa Adam yang melanggar perintah Allah di surga. Oleh itu sesiapa yang menerima Yesus sebagai Allah berarti orang itu telah terselamat daripada dosanya Adam. Oleh itu mereka sangat berharap setiap muslim menerima ketuhanan Yesus. Dan mereka menjadiksn tanggal 25 Disember.

Hari Natal itu adalah kemuncak kegembiraan penerimaan Yesus sebagai tuhan yang dikatakan menyelamat manusia daripada dosa.  Apakah muslim yang utuh akidah dan imannya kepada Allah Tuhan yang Esa bisa bermuka manis berjabat tangan melafazkankan "Selamat Hari Natal"?

Kecuali dia seorang muslim yang tidak sadar apa-apa perbedaan antara iman dan kufur, maka dia akan bergelumang dalam apa juga kaitan hari perayaan kaum yang kufur itu.

Rabu, Disember 21, 2016

BANYAK celana berlipat ketika shalat


SOALAN
Ustadz, bagamaimana hukum menggulung pakaian ketika sholat? Sebagai contoh, ada orang yang memakai celana isbal, lalu ketika sholat ia gulung diatas mata kaki? Dan juga, orang yang memakai baju lengan panjang, lalu lengan panjangnya dilipat menjadi pendek? mohon jawabannnya, Ustadz.... Barokallohu fiik


Jawabnya:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Larangan mengumpulkan kain yakni melipatnya ketika shalat didasari oleh hadits shahih berikut:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الجَبْهَةِ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَاليَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ القَدَمَيْنِ وَلاَ نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَالشَّعَرَ

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Aku diperintah (oleh Allah) untuk bersujud pada tujuh tulang, yaitu pada dahi –dan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menunjuk dengan tangannya pada hidung beliau-, dua (telapak) tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua telapak kaki. Dan kami tidak (boleh) menahan pakaian dan rambut”. HR. Bukhari no.812 dan Muslim no.490

Imam Nawawi berkata: Ulama' bersepakat tentang larangan seseorang shalat sedangkan pakaiaan atau lengan bajunya tergulung....semua ini terlarang dengan kesepakatan ulama', Makruh di sini adalah makruh Tanziih (bukan keharaman.pent), seandainya seseorang shalat dan keadaannya seperti itu maka dia telah berbuat buruk akan tetapi shalatnya tetap sah. Al-Minhaaj syarh shahih Muslim bin Al-hajjaaj oleh imam An-Nawawi 4/209

Telah jelas pula larangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengenai Isbal, Beliau bersabda:

مَا أَسْفَلَ مِنَ الكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ

Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka. HR. Bukhari no.5787

orang yang memanjangkan kainnya hingga melampaui mata kaki maka dia telah melanggar larangan Rasul shallallahu alaihi wa sallam baik dia dalam keadaan shalat atau tidak, jika dia dalam keadaan shalat melipat kainnya supaya tidak Isbal maka dia di sisi lain terkena larangan mengumpulkan (melipat) kain saat shalat sebagaimana disebutkan haditsnya di atas.

Kala itu larangan yang lebih keraslah yang harus dihindari, dan larangan yang lebih keras adalah larangan menjulurkan kain sampai melebihi mata kaki (Isbal), perbuatan ini termasuk dosa besar, sehingga orang yang Isbal hendaknya menggulung kainnya supaya bisa diatas mata kaki.

Meski demikian ini bukan berarti pembolehan bagi orang-orang untuk melakukan Isbal. Karena Isbal terlarang baik itu ketika shalat atau di luar shalat.

(Sumber: Sahabat sunah Indonesia)