Pengikut

Isnin, Ogos 17, 2015

REVOLUSI merdeka Indonesia berdarah!



HARI ini 17 Agustus hari kemerdekaan Indonesia.  Indonesia memproklamasikan kemerdekaan sebaik saja Jepun keluar dari Indonesia.  Belanda datang mahu memerintah semula semua wilayah asal jajahan. Maka berlaku perang revolusi kemerdekaan. 

Saya catatkan sebagian cerita perang kemerdekaan di Sumatera Barat yang ditulis oleh salah seorang pejuang revolusi kemerdekaan, al-Marhum Buya Hamka. Catatannya dalam Tafsir al Azhar berkait tafsir ayat-ayat awal surah al-Anfaal. Izinkan saya memetik catatan perjuangan berdarah demi kemerdekaan tanah air itu.

“…teringat penulis tafsir Al Azhar ini suatu hal yang pernah kejadian pada 17 haribulan Januari 1949, seketika tentara Kolonial Belanda melancarkan serangan dan serbuan besar kepada Republik Indonesia yang berjuang mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.

“Belanda telah mendapat tahu dari spion-spionnya bahawa di Situjuh (Payakumbuh) sedang bermesyuarat beberapa pemimpin Gerilya Republik.  Tempat itu segera mereka kepung, pada malam hari dan mereka tunggu sampai siang hari supaya mudah menangkap hidup atau membunuh pemimpin-pemimpin itu.

“Setelah pahlawan-pahlawan yang  terkepung itu bangun pagi-pagi hendak mengambil air sembahyang, untuk sembahyang Subuh, seorang di antaranya melihat musuh telah mengepung tempat persembunyian mereka itu dan moncong senapang telah dihadapkan kepada mereka.  Musuh bersorak menyerukan agar mereka menyerah.  Tetapi tidak seorang juapun yang berniat hendak menyerah, bahkan hendak melawan.  Melawan sambil lari meninggalkan tempat itu.  Tetapi karena ketatnya kepungan, baru saja mereka bergerak keluar, mereka telah dihujani dengan tembakan dari segenap penjuru, sehingga hanya beberapa orang saya yang bisa berlepas diri, lari dengan sembunyi-sembunyi dari satu selokan air.  Maka tewaslah 9 orang di antara mereka. Di antaranya ialah Bupati Harisun. Pimpinan Pertahanan Rakyat Khatib Sulaiman, Letnan Munir Latif dan Sersan Tantawi Mustafa.”

Demikianlah harga kemerdekaan yang dibayar dengan darah, agar anak bangsa  yang hidup kemudian hari dapat menikmati kebebasan hidup bernegara sebagai bangsa merdeka dan berdaulat seperti bangsa-bangsa lain di dunia.


Kepada mereka yang terkorban demi maruah agama dan negara, kita doakan semoga Allah mengampuni dan merahmati mereka!


Kekal merdeka.

Sabtu, Ogos 08, 2015

PROVOKASI berbuat kejahatan, apa pilihan kita?

foto hiasan

TIDAK ada hari yang terlepas daripada mencabar keindahan hidup beragama. Orang berusaha menjaga iman agar bertaqwa, namum setiap waktu ada sahaja cabaran besar yang menggoda jiwanya untuk terjun dalam kancah keburukan atau terus memilih jalan taqwa.

Sifat-sifat negatif, yang buruk, berdosa dan jalan hidup yang haram di sisi Allah terbentang luas.  Malah sebagaian orang sudah dan sedang menjayakan perkara-perkara buruk itu sekalipun sebagai orang yang beragama.  Apakah pilihan sebagai muslim yang mencari jalan pulang terbaik di sisi Allah?

Maksud ayat 133-136 surah Ali ‘Imran, “Dan bersegeralah kamu mencari keampunan daripada Tuhanmu dan mendapatkan syurga yang luasnya seluas antara langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.  (iaitu) Orang yang berinfak sama ada pada waktu lapang atau sempit, orang yang menahan kemarahannya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.  Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

“dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingati Allah, lalu memohon keampunan atas dosa-dosanya.  Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?  Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.  Balasan bagi mereka adalah ampunan dari Tuhan mereka dan syurga-syurga yang ada sungai-sungai mengalir di bawahnya.  Mereka kekal di dalamnya.  Dan itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal.”

Semoga kita tidak terpedaya dengan godaan duniawi yang jelas berlawanan dengan kehendak-kehendak Allah dan rasul-Nya.

Maksud ayat 32 surah Al An’aam, “Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau, sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang yang bertaqwa.  Tidakkah kamu mengerti?”


Wallahu ‘aklam

Sabtu, Ogos 01, 2015

MENGUMPAT ahli politik atau jiran tetangga, sama saja dosanya!

SURAH Al-Hujurat  ayat 12 (maksudnya), “Wahai orang-orang beriman, jauhilah banyak buruk sangka, sesungguhnya sebagian buruk sangka adalah dosa, jangan mencari-cari kesalahan orang lain, dan jangan menggunjing (mengumpat) sebagian yang lain…..”

Ayat di atas bukan ayat metafora, yang punya maksud lain daripada yang nyata begitu.  Jelas di situ larangan Allah.  Larangan Allah bermakna hukum haram. Hukum haram di ayat itu ialah ‘buruk sangka, mencari-cari salah orang lain dan mengunjing orang’. Menggunjing orang ialah menceritakan kisah orang lain bukan di tempat yang dibenarkan (mahkamah).

Namun itulah yang banyak sedang berlaku sekarang. Semuanya kerna keserakahan ahli-ahli politik mahu berkuasa. Pengikut-pengikutnya tentu saja meneruskan kerja-kerja buruk atas nama perjuangan rakyat, demokrasi dan kebebasan.  Lihatlah orang-orang yang duduk di warung kopi bicara buruk peribadi pemerintah negara. Anak-anak belasan tahun melepaskan ayat-ayat penghinaan terhadap pemimpin negara walhal mereka tidak tahu apa pun urusan birokrasi dan pentadbiran.  Semua atas nama kebebasan bersuara dan jiwa memberontak.

Mengapa sebagian masyarakat muslim jadi bobrok begitu, pada saat dikatakan semakin banyak parti dan NGO tumbuh berasaskan Islam?  Jawabnya ialah sebagian yang menjadipemimpin organisasi yang dikatakan Islam itu sendiri adalah ahli-ahli politik berakidah demokrasi barat: Kebebasan rakyat bersuara!  Kepada mereka ayat-ayat al-Quran yang disebut ialah untuk mengumpul massa dalam organisasinya, dan mentarbiyah mereka mengenai kesatuan dalam organisasi. Kepada muslim di luar organisasinya, semua dianggap munafik atau fasik.  Sebab itu anak kecil dan remaja yang baru mendengar kuliah agama, berani mencerca dan membuat tuduhan palsu atas orang lain yang tidak dalam organisasinya (kabilahnya).

Sayang sekali, sebab sesiapa yang mencela atas nama suci pun tidak terlepas daripada ancaman Allah dan rasul-Nya.  Tidak ada perbedaan sikap dan perkataan yang dilepaskan. Tidak ada keharusan disebabkan musim berpolitik dan keharaman disebabkan jiran tetangga. Kanjeng Nabi s.a.w. membayangkan muflis atau bangkrap di akhirat kelak. Tapi hadis Nabi s.a.w.  ini sangat tidak disukai oleh orang yang mulutnya tidak dapat dibendung lagi. 

Sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam maksudnya: “Tahukah kalian, siapa orang yang muflis itu?” Jawab sahabat-sahabatnya,  “Orang yang muflis dalam kalangan kami ialah seseorang yang tidak mempunyai dirham dan tidak pula mempunyai harta-benda!”

Jelas Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya seorang yang muflis dalam kalangan umatku ialah seseorang yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa pahala-amalan solat, puasa dan zakat; dan kedatangannya itu sesudah ia mencaci-cela orang lain, membuat tuduhan palsu (fitnah), memakan harta, mencedera, dan memukul orang lain,  maka pahala kebaikannya itu akan diberikan kepada orang yang dianiayainya itu, dan apabila pahala kebaikannya habis sebelum selesai hutangnya maka orang-orang yang telah dianiayaai itu akan diambil dosa-dosa mereka lalu dibebankan ke atasnya pula, dan kemudian itu ia dicampakkan kedalam api neraka.”
(HR Muslim, no:4684)

Kepelikan masyarakat kita: Bab makanan sangat teliti jika ada unsur babi, dalam bab politik tidak ada ketelitian seperti mencari makanan yang halal.


Wallahu ‘aklam

Ahad, Julai 26, 2015

HABISlah pahala amal ibadahnya.....

foto hanya hiasan

SETIAP muslim yang melakukan amal ibadah tentulah sangat mengharap mendapat ganjaran yang menjadi harta di akhirat kelak.  Namun bagaimana jika, di sana kelak si pengamal mendapati akaun amalannya tidak sebagaimana yang disangka banyak atau tiada langsung?  Sungguh mendukacitakan.  Daripada al-Quran dan hadis sahih ada penjelasan perihal amalan-amalan yang hilang begitu saja.  Maka kita wajiblah kita berwaspada.

Pertama:  Amal ibadah atau kebajikan yang disekutukan dengan yang lain, maka amal ini hanyut begitu saja. Misalnya seseorang yang melakukan ibadah umrah, dan juga mencari keseronokan di kota suci Makkah. Atau dia sendiri mengatakan, “esok-esok ketika semua pembinaan di Makkah selesai barulah saya pergi berumrah, sekarang pemandangan pun tidak cantik.”

Maksud  firman Allah ayat 110 surah al-Kahfi, “….Maka sesiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

Kedua: Amal ibadah yang asalnya dilakukan dengan ikhlas dan menepati sunah Nabi s.a.w., namun akhirnya tidak berguna di sisi Allah. Ini berlaku apabila si pelaku entah disebabkan apa, dia mengungkit-ungkit amal. Mungkin dia mahu membuktikan telah melakukan amal sebagai pembelaan diri daripada  kata-kata orang lain.

Maksud firman Allah ayat 262 surah al-Baqarah, “Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang diinfakkan itu dengan menyebut-nyebut atau menyakiti (perasaan penerima), mereka memperolah pahala di sis Tuhan mereka.  Tidak ada rasa takut pada mereka, dan tidak bersedih hati.”

Ketiga: Amal ibadah yang dilakukan berdasarkan rekaan, bukan mencontohi sunah Nabi s.a.w., maka amalan itu tiada  nilai di sisi Tuhan.  Tiada  hujah ‘amalan itu sangat baik’, kerna baginda Nabi s.a.w. jelas mengatakan amal yang tidak daripadanya, maka tertolak.

Maksud sabda Rasulullah s.a.w., “Sesiapa  yang beramal dengan sesuatu amalan yang tidak di atas petunjuk kita, maka amal itu  ditolak.”  (Hadis  sahih riwayat Al- Bukhari)

Keempat: Amal kerna riya atau untuk mendapat pujian manusia. Amal itu tertolak di sisi Allah.

Maksud firman Allah ayat 264 surah al-Baqarah, “…. Orang yang menginfakkan hartanya kerna riya (dipamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat.  Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi.  Mereka tidak memperoleh apa pun daripada apa yang dikerjakan.  Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang kafir.”


Wallahu ‘aklam

Selasa, Julai 21, 2015

KITAB Tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab


NAMA Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, seorang ulama dan  tokoh tajdid dari Arab Saudi kurun ke-18 tidak popular berbanding nama nama Syaikh Hassan al-Banna dari Masir atau Al-Maududi dari Pakistan. Tumpan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ialah memurnikan akidah, memperjelas sunah Nabi disamping membanteras hal-hal buruk dalam beragama.

Buku Kitab TAUHID MEMURNIKAN LA ILAHA ILLALLAH oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab terjemahan bahasa Melayu Indonesia sebanyak 216 muka surat terbitan Media Hidayah, Jakarta.  Terdapat  67 bab dengan  tuntas memperjelas perkara yang dibenarkan dan dilarang dalam agama: kedua-duanya prinsip itu sangat memurnikan perjanjian muslim menyebut ‘tiada  tuhan melainkan Allah’

Pengarang kitab tidak banyak menelurkan bicara untuk setiap bab, cukup beliau memberikan tajuk bab dan penjelasannya adalah ayat al-Quran dan hadis sahih.  Daripada dua sumber itu, pengarang memberi penjelasan ringkas  tapi tepat membawa panduan hidup yang persis kepada janjisebut La ilaha illallah (tiada tuhan melainkan Allah).  Apa saja permasalahan tauhid yang mengagungkan Allah sebagai Tuhan, pengarang memberikan hujahnya daripada al-Quran dan hadis sahih.  Oleh itu permasalahan tauhid itu dilunasi dengan cara yang betul mengikut kehendak Allah dan rasul-Nya.

Sebagai misal, bab 19 ialah ‘Bahaya Sikap Berlebih-lebihan Terhadap Orang Shalih’.  Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menuliskan ayat 171 daripada surah An-Nisa’ (maksudnya), “Wahai ahli kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agamamu. Janganlah berkata tentang Allah kecuali yang benar.”

Surah Nuh: 23, “mereka (ahli kitab) menyatakan, ‘janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) sesembahan kalian. Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) terhadap wadd, suwa, yaghuts, Ya’us dan Nasr’ “.

Disusun pula hadis berkaitan tajuk bab seperti:

Daripada Umar r.a., telah bersabda Rasulullah (maksudnya), “Janganlah kalian memujiku dengan berlebih-lebihan seperti pujian orang-orang Nasrani kepada Ibnu Maryam.  Sesungguhnya aku adalah hamba.  Oleh itu katakanlah (Muhammad) adalah hamba Allah dan rasul-Nya.” (HR al-Bukhari 2445 dan Muslim).

Kitab terjemahan ini sangat bermanfaat dan mudah difahami oleh pembacanya. Dianjurkan juga kitab ini dijadikan teks akidah atau tauhid dalam kalangan ahli usrah.


Isnin, Julai 20, 2015

KALI ini Solat Hari Raya di Dataran Merdeka

20 TAHUN dahulu banyak yang rasa  ganjil dengan berita orang Solat Eid atau Solat Hari Raya (Idul fitri dan Idul Adha) di lapangan terbuka. Foto-fotonya pun sukar ditemukan sebagai bukti, apa lagi hendak memberitahu di seluruh dunia termasuk negara ‘komunis’ umat Islam melakukan Solat Eid di lapangan terbuka.

Solat Eid  di sebuah negara di Eropah

Maka di Malaysia, kebanyakan yang menolak Solat Eid di lapangan memberi alasan takut hujan, tidak ada masalah solat di masjid, boleh solat di surau-surau atau  tidak ada dalil melarang Solat Eid di masjid.  Oleh kerna yang menyatakan alasan-alasan itu adalah yang berwewenang dalam penggurusan agama, maka orang awam atau sipil menerima begitu sahaja.  Jika kata pepatah mengatakan ‘Hendak seribu daya, tidak mahu seribu dalih’, dalam hal ini kebanykan birokrat agama memilih seribu dalih!

Solat Eid di lapangan adalah sunah Nabi s.a.w., bukan satu gerakan ideologi zaman globalisasi. Bohonglah para agamawan yang bertahun-tahun menekuni kitab dan bertalaqi tidak menemui hadis-hadis Rasulullah membawa umah Solat Eid di lapangan. Yang hadir bukan sahaja mereka yang akan menunaikan Solat Eid, malah kaum perempuan yang tidak boleh menunaikan solat juga diseru keluar dan berhimpun sama. Ini adalah hari kemenangan setelah melalui satu perjuangan.

Bayangnya di negara yang paling banyak Mufti dan Jabatan Agama, seluruh Malaysia kumpulan yang melakukan Solat Eid  di lapangan boleh dibilang dengan jari. Itu pun kuantiti mereka yang hadir tidak mencapai angka ribuan. Rasa  malu dengan 200 ribu hadir solat Eid di negara China yang komunis atau di England ada kehadiran 70 ribu di satu kawasan. Di Hong Kong mereka berkumpul, di Albania, di negara-negara Afrika yang dikatakan tidak aman pun sama. Apa masalah di Malaysia?

Fikirlah jika Dataran Merdeka dipenuhi orang Solat Eid, satu perhimpunan yang jelas bertujuan keamanan.  Satu tempat yang selama ini menjadi pertikaian untuk dihimpunkan sekian banyak manusia bermotifkan perasaan marah dan dendam!  Fikirlah di mana-mana dataran luas dan terbuka berjaya mengumpulkan lautan muslim tanpa mengira ideologi politik dan kaum, bersama-sama membesar Allah, melakukan pergerakan yang sama menuruti seorang imam (pemimpin).  Mereka mendengar khutbah  yang menaikkan semangat persaudaraan dan saling maaf-memaafi.  Tidakkah ini bukan satu syiar dan medium dakwah terhada bukan Islam yang melihat secara langsung?


Tolonglah wahai para agamawan dan mereka yang berwewenang, berfikirlah.  Selama ini ada pihak boleh membawa sekian banyak perhimpunan hanya untuk menunjukkan marah dan protes, yang berdepan dengan amaran-amaran pihak berkuasa, tentulah lebih mudah menyusun perhimpunan aman yang jelas bertujuan menambah kasih sayang sesama umat, dan perhimpunan keamanan sebagai ibadah kepada Allah juga berlaku di serata dunia.  Perhimpunan Solat Eid di serata dunia selama ini berakhir dengan kemesraan dan kasih sayang, bukan mala petaka rusuhan dan kemusnahan!

Sabtu, Julai 11, 2015

BERIKAN hak muslim kepada Datuk Seri Najib dan isterinya

MASIH dalam Ramadan, malah dalam 10 hari terakhirnya. Inilah detiknya, mereka yang benar-benar mencari reda Allah akan menguatkan hubungan dengan Allah melalui ibadah khusus (yang menepati Sunah Nabi s.a.w.).  Inilah waktunya orang yang mencita-citakan kedamaian dunia akhirat memperelok budi perkerti atau akhlak supaya diampuni dan diredai Allah. Kemudian, menjadi harapan pabila Ramadan sudah menghilang, madrasah Ramadan kekal dalam kehidupan bulan-bulan sesudahnya.

Datuk Seri Najib dan isteri
Allah mencoba iman dan kekuatan jiwa yang sedang berpuasa. Sekonyong-konyong lidah (media) kaum yang tidak beriman memancarkan kabar-kabar ‘buruk’ terhadap pemerintah Islam, iaitu Perdana Menteri Natuk Seri Najib dan isterinya. Cobaan Tuhan juga bahawa adanya jaringan komunikasi internet menyebabkan kabar-kabar mudah dan pantas bertebaran. Lalu jadi hingar-bingar satu negara (juga melebar ke negara luar) kabar-kabar buruk yang tidak dipastikan. Bukan saja kabar ‘buruk’ pekerjaan Sang Perdana Menteri, malah kabar ‘buruk’ peribadi dua manusia muslim itu.  Yang menjengkelkan, kabar-kabar ‘buruk’ disebar oleh mereka yang muslim dan sedang berpuasa, malamnya berdiri malam (tarawih), merayu-rayu doanya agar diampuni segala dosa.

Catatan ini bukan mendewa-dewakan peribadi penjawat Perdana Menteri. Ini cuma nasihat peribadi sesama muslim dalam bulan yang penuh keberkahan. Bulan yang muslim diseru merendah diri terhadap Allah dan menyantuni semua yang mengakui ‘Tiada tuhan Selain Allah dan Muhammad itu Rasulullah’.

Marilah kita bersabar dengan cobaan bulan Ramadan ini sekalipun pada bulan-bulan sebelumnya, sebagian antar kita sengaja tidak mengawal diri menjadi mata rantai penyebaran kabar yang tidak disukai Allah.

DSN Najib dan isterinya adalah muslim yang menunaikan solat.  Kita adalah muslim yang menunaikan solat. Kita adalah dalam masyarakat muslim yang saling ada hak antara satu sama lain.  Kita adalah dalam masyarakat bersaudara, seperti persaudaraan sedarah. Bukankah Rasulullah telah mempersaudarakan golongan Muhajirin dan Ansar kerna iman sehingga mereka seperti adik-beradik?  Itulah contoh masyarakat muslim, sekalipun dalam kalangan mereka tetap ada salah-silapnya kerna mereka juga adalah manusia seperti kita.

Penulis catatkan hadis-hadis Rasulullah daripada buku Sirah Nabawiyyah – A-Rahiq al-Makhtum oleh Syaikh Shafiyyarrahman al-Mubarakfuri.  Buku ini merakamkan ketenteraman masyarakat muslim di Madinah kerna mereka menerima pakai nasihat-nasihat Rasulullah, sekali gus membenamkan sifat-sifat buruk jaman jahiliyah sebelum disatukan Muhajirin dan Ansar.  Inilah contoh masyarakat madani yang pernah disebut-sebut oleh pemimpin negara kita pada tahun 1990-an dahulu.

Maksud sabda Nabi s.a.w. “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambunglaha talipersaudaraan, salatlah pada malam hari ketika semua orang sedang tidur, nescaya kalian akan masuk syurga dengan aman.” (HR At-Tirmizi, Ibn Majah dan Ad-Darimi)

Maksud sabda Nabi, “Tidak masuk syurga orang yang tetangganya tidak aman daripada gangguannya.” (HR Muslim)

Maksud sabda Nabi s.a.w. “Muslim itu adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya.” (HR Al-Bukhari)

Maksud sabda Nabi s.a.w. “Tidak sempurna keimanan salah seorang anatara kalian sebelum dia sendiri mencintai saudaranya seperti apa yang dia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR Al-Bukhari)

Maksud sabda Nabi s.a.w., “Janganlah kalian saling membenci, dengki-mendengki,  bermusuh-musuhan, jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara, dan seseorang muslim tidak boleh mendiamkan saudaranya (tidak menyapa) lebih dari tiga hari.” (HR Al-Bukhari)

Maksud sabda Nabi s.a.w., “Kasihanilah siapa yang ada di muka bumi, nescaya yang ada di langit akan mengasihimu.”  (HR Abu Dawud dan At-Tirmizi)

Maksud sabda Nabi s.a.w., “Mencaci orang mukmin adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekafiran.” (HR Al-Bukhari)


Semoga ada manfaat kepada yang mahu menjaga iman kepada Allah.

Rabu, Julai 08, 2015

Ya..... PM turun pada Lailatul Qadr!

foto hanya hiasan

RAMADAN dalam fasa akhir. 10 hari terakhir yang di dalamnya terdapat satu malam yang ditunggu-tunggu untuk direbut tawaran hebatnya.  Sekalipun syaitan dikurung, namun sikap sebagian antara orang yang berpuasa seperti di kelilingi syaitan juga.  Seperti dirancang, isu politik dipanaskan untuk 10 hari terakhir Ramadan kali ini.  Maka, akhbar cetak dan maya pun meletakkan berita utamanya akisah politik negara.

Semua seperti tergoda membuka sekian banyak akhbar, mencari sebanyak mungkin ulasan politik yang memihak pendiriannya. Jiwa tidak pernah puas, maka berjumpa rakan dan saudara-mara pun ceritanya pasal politik negara.  Jika musim pilihan raya yang ada kempen untuk mengundi calon atau parti mungkin munasabah, tetapi sembang politik dalam 10 hari terakhir tahun 2015 ini tidak ada manfaat keagamaan.  10 hari terakhir adalah ruang dan peluang ‘sembang’ keagamaan untuk meraih ganjaran pahala besar di sisi Allah.

Tidak ada ada faedahnya orang desa atau yang tidak ada kepentingan dan kedudukan politik bicarakan politik tertinggi di Putrajaya.  Tukarlah masa tadarus al Quran selepas solat Tarawih dengan forum politik, itu tidak dapat mengubah atau mengekalkan seseorang di kerusi Perdana Menteri.  Apa yang orang dapat dengan sembang, forum dan mendengar ceramah politik pada 10 hari akhir Ramadan? Tidak ada apa, kecuali kepuasan nafsu. Nafsu yang cuba dipuaskan tetapi tidak pernah puas.

Eloklah balik ke jalan agama saat genting menunggu Malam al Qadr. “Sesungguhna Kami telah menurunkannya (al Quran) pada malam Al Qadr. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada 1000 bulan.  Pada malam itu turun malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.  Sejahtera (malam itu) sehingga terbit fajar.” (Surah al-Qadr: 1-5)

Lebihkan masa membaca al Quran dan memanjangkan berdiri solat malam atau tarawih kita. Kita menambah harapan dan doa kepada-Nya.  Moga-moga kita dalam kebaikan iaitu diampuni semua dosa dan diredai oleh sebenar-benar Tuhan.


Wallahu ‘aklam

Sabtu, Jun 27, 2015

PUASA untuk bertakwa, ikuti sunah Nabi s.a.w.

foto hiasan

SERUAN yang benar adalah “Bertakwalah kepada Allah”. Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang memebawa kebenaran dalam kehidupannya. Tidak lain yang menjadi contah adalah para Nabi Allah. Maksud ayat 33 surah Az Zumar, “Dan orang yang membawa kebenaran (iaitu Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang yang bertakwa.”

Sebab itulah Allah mempertahankan apa sahaja yang Rasulullah Muhammad s.a.w. ucapkan dan lakukan kerna pada diri Rasulullah s.a.w. itu merupakan sebaik-baik petunjuk atau contoh kebenaran dalam kehidupan.  Agama atau kebenaran-kebenaran  datangnya daripada Allah, lalu Allah memerintahkan kekasihnya iaitu Rasulullah s.a.w. menjelaskan agama atau kebenaran kepada manusia.  Maka Rasulullah tidak bisa diingkari oleh sesiapa pun.

Maksud ayat 65 surah An-Nisa’, “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad s.a.w.) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

Oleh itu jelas apa yang dibawa oleh Rasulullah adalah kebenaran dari sisi Tuhan. Dan kebenaran yang ada pada Rasulullah s.a.w. itulah maksud atau contoh takwa.  Orang-orang yang setia mengikuti Rasulullah atau menjayakan sunahnya merupakan pendukung kebenaran Rasulullah. Semoga mereka benar-benar tergolong sebagai orang yang bertakwa.

Apa untungnya bertakwa?  Maksud ayat 34-35 surah Az-Zumar, “Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhannya.  Demikianlah balasan bagi orang-orang yang berbuat baik. Agar Allah menghapuskan perbuatan paling buruk (dosa-dosanya) yang pernah mereka lakukan dan memberi pahala kepada mereka dengan lebih baik daripada apa yang mereka kerjakan.”

Maknanya dengan bertakwa atau menuruti kebenaran yang dibawa Rasulullah s.a.w., seseorang itu dijamin Allah dengan keampunan sekalipun sebelumnya pernah melakukan dosa yang begitu besar.  Allah juga berjanji akan memberi ganjaran atau pahala yang jauh lebih baik berbanding nikmat kebaikan daripada perbuatan di dunia ini.

Sebagian daripada kaedah yang Allah tunjukkan kepada muslim supaya menjadi orang bertakwa ialah dengan mematuhi perintah berpuasa sepanjang bulan Ramadan. Maksud ayat 183 surah Al-Baqarah, “Wahai orang-orang beriman, diwajibkan kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”

Kata sebagian orang pandai, berpuasa itu menahan keserakahan keinginan atau nafsu. Nafsu itu mengajak diri melakukan perkara yang tidak cocok dengan pembawaan Rasulullah s.a.w., maka puasa akan mendidik diri supaya taat hadis sahih atau sunah Rasulullah s.a.w. Moga dengan madrasah Ramadan ini kita berjaya membentuk jiwa yang bertakwa, yang taat sunah Nabi sebab Allah sudah perintah manusia mentaati Nabi s.a.w.


Wallahu ‘aklam

Ahad, Jun 21, 2015

TARAWIH di masjid, witir di rumah?

 
foto hiasan
Mahu Qiamullail di rumah. Perlukah meninggalkan imam ketika solat witir?

Jawapan: (oleh Dr Abu Anas Madani)

Pertama: Sewajarnya solat bersama imam sehingga selesai, jadi tidak perlu balik ketika imam solat witir. Ini kerana nabi sallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya sesiapa yang solat bersama imam hingga selesai, ditulis untuknya (ganjaran) menghidupkan keseluruhan malam.”  [Imam an-Nasaie dalam as-Sunan al-Kubra, Kitab Qiyamillail Wa Tathowu’ an-Nahar, hadis no : 1281]

Kedua: Perlu diingatkan bahawa witir hanya boleh dilakukan sekali sahaja dalam 1 malam.

Thalaq radiallahu 'anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ Tiada dua witir dalam satu malam.”
[Sunan at-Tirmizi, Kitab as-Solat, Abwab al-Witr, hadis no: 432, hasan gharib]

Ketiga: Oleh sebab itu, jika anda mahu mendirikan Qiamullail, ada 2 cara:

A- Solat witir bersama imam di masjid. Ketika bangun Qiamullail tidak perlu lagi solat witir. Tiada masalah mendirikan solat sunat walau sudah mendirikan solat witir.

‘Aisyah radiallahu ‘anha berkata: “Baginda Nabi s.a.w. solat sebanyak tiga belas rakaat. Baginda melakukan solat sebanyak lapan rakaat, kemudian melakukan witir (sebanyak lima rakaat), kemudian solat dua rakaat dalam keadaan duduk.”
[Sahih Muslim, Kitab Solat al-Musafirin Wa Qasriha, Bab Solat al-Lail Wa ‘Adadi Raka’ati, hadis no: 1226]

B- Solat bersama imam, tetapi ketika imam solat witir, kita berniat untuk solat sunat 2 rakaat. Jadi apabila imam memberi salam, kita menambah satu rakaat lagi. Dengan ini, kita dapat melaksanakan witir di hujung malam selepas qiamullail.

‘Abdullah bin ‘Umar radiallahu ‘anhuma meriwayatkan Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jadikanlan witir sebagai akhir solat kalian di waktu malam.”
[Sahih al-Bukhari, Kitab al-Jumu’ah, Abwab al-Witr, hadis no: 948]

Wallahua'lam.


Sabtu, Jun 13, 2015

INILAH dalil Al-Qur'an tentang Kenduri Arwah

LUPAKAN  sama ada Kenduri Arwah itu adat resam Melayu atau ibadah dalam agama Islam. Orang pun telah banyak yang menjelaskan keadaan itu. Hakikatnya, Kenduri Arwah merupakan satu perkara mesti dalam masyarakat Islam di Nusantara sebagai ‘acara wajib’ ketika ada kematian atau saat-saat mengenang orang yang telah mati.

Ringkasnya Kenduri arwah merupakan satu ritual ibadah. Kenduri Arwah sebagai satu set modul pemerolehan pahala daripada Allah yang pahalanya dipindahkan kepada para arwah yang dikenang dan dikasihi.  Maksudnya, orang yang membacakan ayat-ayat al-Quran dalam set modul Kenduri Arwah telah berniat bahawa semua pahala itu dengan reda diserahkan kepada arwah-arwah berkenaan. Ini merupakan satu pertolongan orang yang hidup terhadap kepayahan (atau menambah kesenangan) orang dalam kubur. Sebagai ganjaran dunia, orang-orang yang meredakan pahalanya diserah kepada orang mati akan diberi penghargaan: jamuan makan.

dalil kalam ulama bukan kalam Allah dan Nabi

Setakat ini pembela tidak memberikan dalil-dalil khusus mengenai berkesannya pahala-pahala yang diserahkan itu kepada si mati.  Paling habis mereka memberikan kata-kata ulama sebagai dalil sahnya amalan itu sebagai salah satu ibadah di sisi Allah.  Walhal Allah telah merakamkan dalil-dalilnya dalam al-Quran sejak sekian lama.

Ayat 46 surah al-Fusilat, “Sesiapa yang mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan sesiapa yang yang berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhanmu tidak sesekali menzalimi hamba-hamba-Nya.”

Ayat 48 surah al-Baqarah, “Dan takutlah kamu pada hari (ketika) tidak ada seorang pun dapat membela orang lain sedikit pun.  Sedangkan syafaat dan tebusan apa pun daripadanya tidak diterima dan mereka tidak akan ditolong.”

Ayat 110 surah al-Baqarah, “Dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkannya (pahala/ganjaran) di sisi Allah.”

Ayat 54 surah Yaasin, “Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dan kamu tidak akan diberi balasan, kecuali sesuai dengan apa yang telah kamu kerjakan.”

Ayat 17 surah Ghafir, “Pada hari ini setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya.  Tidak ada yang dirugikan pada hari ini.  Sungguh Allah sangat cepat perhitungannya.”

Itulah beberapa ayat Allah yang membawa maksud setiap amal salih seseorang balasannya hanya terhadap dirinya sendiri. Maknanya amal salihnya membaca beberapa ayat al-Quran dalam Kenduri Arwah, pahalanya hanya untuk dirinya dan tidak berguna kepada mana orang sama ada yang masih hidup atau telah mati.


Allahu ‘aklam

Isnin, Jun 08, 2015

MATI apa jika tidak taat pemimpin?

 
foto hanya hiasan
Ada yang punya sifat membangkang pada penguasa atau pemimpin mereka. Bahkan bukan hanya tidak taat, sehingga pemimpin mereka pun dikafirkan. Padahal hidup di bawah pemimpin muslim adalah suatu kebaikan. Enggan taat pada pemimpin yang sah adalah suatu bencana bahkan disifatkan oleh Nabi kita Muhammad - shallallahu 'alaihi wa sallam - sebagai orang yang mati jahiliyah. Apa itu mati jahiliyah?

Ibnu 'Umar berkata bahawa beliau mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (artinya), "Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan kepada pemimpin, maka ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa hujah yang membelanya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliyah ."  (HR. Muslim no. 1851).

Pengertian Hadits
Yang dimaksud melepaskan tangan dari ketaatan adalah tidak mau taat pada pemimpin padahal ketaatan tersebut bukan dalam perkara maksiat, sehingga ia enggan berbaiat pada pemimpin.  Yang dimaksudkan tanpa hujah yang membelanya adalah tidak ada uzur (alasan) ketika ia membatalkan janjinya untuk taat.

Sedangkan kalimat tidak ada baiat di lehernya adalah tidak mau berbai'at, iaitu mengikat janji setia untuk taat pada pemimpin.  Mati jahiliyah yang dimaksudkan adalah mati dalam keadaan sesat dan salah jalan sebagaimana keadaan orang-orang jahiliyah kerana dahulu mereka tidak mau taat kepada pemimpin walaupun mereka menilai aib jika mesti taat seperti itu. Namun bukanlah yang dimaksud mati jahiliyah adalah mati kafir sebagaimana sangkaan sebahagian golongan yang keliru dan salah paham.

Faedah Hadits
Wajib mentaati jama'ah atau penguasa yang sah dan wajib berbai'at pada mereka. Dan jamaah yang dimaksudkan di sini bukanlah kelompok, golongan, atau kumpulan orang tertentu tetapi yang dimaksudkan adalah yang punya kuasa dan punya wilayah yang sah. Sehingga jika di negara NKRI, taat pada jama'ah bererti taat pada pimpinan negara selama bukan dalam perkara maksiat.

Siapa yang enggan taat pada penguasa dengan membatalkan janji setianya untuk taat (baca: bai'at), maka ia bererti telah terjerumus dalam dosa besar dan telah sama dengan kelakuan orang Jahiliyah.
Hendaknya setiap umat mempunyai pemimpin yang urusan agama diatur oleh mereka.

Mati jahiliyah bukan bererti mati kafir tetapi mati dalam keadaan tidak taat pada pemimpin. Sehingga orang-orang yang enggan taat pada pemimpin atau penguasa yang mengatur maslahat mereka, maka ia pantas menyandang sifat ini.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita pemimpin yang jujur ​​dan adil, yang mampu mensejahterakan rakyat. Moga kita pun dikurniakan oleh Allah sebagai hamba yang taat pada Allah, Rasul-Nya dan ulil amri kaum muslimin.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Rujukan :  Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhis Sholihin , Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al Hilali, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 655.