Pengikut

Memaparkan catatan dengan label ibadah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label ibadah. Papar semua catatan

Sabtu, Ogos 24, 2019

ZIKIR sehabis shalat fardu

(Pertama, Bacalah... )

اَسْتَغْفِرُاللهَ  اَللهُمَّ انْتَ السَّلاَمُ,وَمِنْكَ السَّلاَمُ,تَبَارَكْتَ,يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالاْءِكْرَامِ
(Astaghfirullah (3kali) , Allahumma antassalam wa minkassalam tabarakta ya zhal jalali wal ikram)

"Aku memohon keampunan kepada Allah (3kali), Ya Allah, Engkau Mahasejahtera dan daripada-Mu kesejahteraan . Maha suci Engkau , wahai Rabb Pemilik keagungan dan kemuliaan."
(HR.Muslim no.591 (135) , Riwayat Imam Ahmad, HR Abi Dawud, An-Nasaie, Ibnu Khuzaimah, Ad-Darimi dan Ibnu Majah, serta Sahabat Tsauban RA).

(Kedua, sambung ini.... )

سُبْحَانَ اللهِ (33 ×)

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ (33 ×)

اَللهُ أَكْبَرُ (33 ×)

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

Subhanallah (33x)
Al hamdulillah (33x)
Allahu akbar (33 x)

"Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir."

Artinya:
“Maha Suci Allah (33 x), segala puji bagi Allah (33 x), Allah Maha Besar (33 x). Tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan. Bagi-Nya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Faedah: Siapa yang membaca dzikir di atas, maka dosa-dosanya diampuni walau sebanyak buih di lautan.
[HR Imam Muslim,  nomer 597] 
Kata Imam Nawawi rahimahullah, tekstual hadis menunjukkan bahwa bacaan Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar, masing-masing dibaca 33 kali secara terpisah.[Syarh Muslim,  5:84]

(ketiga, sambung ini juga..... )
Membaca ayat Kursi.
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Maksud sabda Nabi: "Siapa membaca ayat Kursi setiap selesai shalat, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian." [HR An Nasai dalam Al Kubra 9:84]

Nota:
• lebih baik amalkan sendiri walau asalnya kita shalat berjamaah, sbb kalau imam nak cepat selalunya imam baca alfatihah dan doa. Walhal jika kita zikir yg di atas,  masanya juga hampir sama dgn doa yg imam lafazkan.
• sayang meninggalkan zikir di atas sbb ada jaminan oleh Rasulullah berkenaan penghapusan dosa dan masuk syurga. 

Sabtu, Jun 15, 2019

TIDAK sunah meraup muka setelah doa

Oleh: Ummu Andhe Sukardi


HUKUM MENGUSAP WAJAH SETELAH BERDOA

Hadits-hadits mengenai mengusap wajah setelah berdoa adalah hadits-hadits yang dhoif (lemah) dan tidak dapat saling menguatkan. Sehingga tidak bisa menjadi sandaran untuk amalan mengusap wajah setelah berdoa. Karena amalan ibadah hanya bisa ditetapkan oleh hadits yang maqbul.

Hal ini sebagaimana diutarakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,

وَأَمَّا رَفْعُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ: فَقَدْ جَاءَ فِيهِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ صَحِيحَةٌ وَأَمَّا مَسْحُهُ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ فَلَيْسَ عَنْهُ فِيهِ إلَّا حَدِيثٌ أَوْ حَدِيثَانِ لَا يَقُومُ بِهِمَا حُجَّةٌ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

“Adapun mengenai Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam mengangkat tangan dalam berdoa, ini telah diriwayatkan dalam banyak hadits shahih. Sedangkan mengusap wajah, maka tidak ada kecuali satu atau dua hadits saja yang tidak bisa menjadi hujah. Wallahu a’lam.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/519)

Ini adalah logika yang cerdas dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Pernyataan ini disebutkan dan diperluas lagi oleh Syaikh Al Albani rahimahullah:
“Adapun mengusap wajah (setelah doa) di luar shalat, maka tidak ada hadits kecuali ini dan yang sebelumnya. Dan tidak benar bahwa hadits-haditsnya saling menguatkan dengan banyaknya jalan (sebagaimana dikatakan oleh Al Munawi) karena terlalu beratnya kelemahan yang ada pada jalan-jalannya. Oleh karena itu Imam An Nawawi dalam Al Majmu’  mengatakan: ‘hukumnya tidak disunnahkan‘, juga dikuatkan oleh perkataan Ibnu Abdissalam (ulama Syafi’iyyah): ‘tidak ada yang melakukannya kecuali orang jahil‘.

Dan yang lebih menguatkan lagi bahwa hal tersebut tidaklah disyariatkan adalah bahwasanya mengangkat tangan dalam dia telah ada dalam banyak hadits shahih, namun tidak ada satupun di dalamnya yang menyebukan tentang mengusap wajah. Maka ini insya Allah menunjukkan pengingkaran terhadap perbuatan tersebut dan menunjukkan itu tidak disyariatkan”. (Irwa Al Ghalil, 2/182)

Wallaahu a’lam bisawab.

Ahad, Jun 09, 2019

ORANG mahu agama yang tulen

PADA saat ada barang tulen dan tiruan [kurang berkualiti], orang mantap mahukan yang tulen,  yang asal, kerna diyakini tepat dan sangat bagus. Begitu juga fitrah manusia sesuai untuk mencari kebenaran beragama. Manhaj beragama yang asal,  tulen dan tepat ada pada generasi yang awal.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku (iaitu generasi sahabat), kemudian orang-orang yang mengiringinya (iaitu generasi tabi’in), kemudian orang-orang yang mengiringinya (iaitu generasi tabi’ut tabi’in). [ Riwayat Al-Bukhari]

Barang,  semakin lama diolah atau ditokok tambah atau diperbaiki untuk keperluan zaman. Hal itu memang digalakkan untuk menyelesai masalah hidup manusia. Agama tidak boleh ditokok tambah atau dikurangi. Apa rupa ibadah agama pada jaman Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam itulah yang muktamad hingga akhir zaman.

pada firman Allah Ta’ala,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-redhai Islam itu jadi agama bagimu.” [QS. Al Ma’idah: 3]

Namun,  berdasarkan sejarah agama yang dibawa para Nabi seperti Nabi Ibrahim,  Nabi Musa dan Nabi Isa,  ada manusia yang menokok tambah ajaran agama untuk kepentingan nafsu. Tepat sekali Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memberi peringatan berkaitan menambah, mengubah suai ibadah atau seumpamanya.

Baginda Rasulullah ﷺ  bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”
[Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]

Sabda baginda ﷺ  lagi

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.”
[Riwayat Muslim]

Kesimpulannya,  beragama yang benar adalah mengikuti yang disebut oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam iaitu zamannya,  sahabat dan selepas sahabat. 

Rabu, Jun 05, 2019

TARAWEH di luar Ramadan?🤔

Sebagian kita bersungguh-sungguh ke masjid untuk bertaraweh, tetapi tidak shalat seperti taraweh setelah tamat Ramadan. Ada yang mengatakan tidak mampu shalat sendiri 23 rakaat dan sebagian berkata, 'kami hanya layak jadi makmum,  takut shalat malam sendiri,  bimbang tak diterima'. Begitulah tinggi tanggapan shalat taraweh ini. Sebenarnya shalat taraweh ini ialah shalat sunat malam. Shalat sunat seperti shalat sunat sebelum atau selepas shalat fardu.

Jika faham begitu,  tidaklah begitu sukar untuk shalat malam setelah tamat Ramadan. Cuma yang afdal,  shalat malam ini dibuat setelah kita tidur,  atau saat bangun awal sebelum masuk waktu Subuh. Jika pada Ramadan,  kita bangun satu jam sebelum Subuh untuk urusan sahur, setelah Ramadan kita bangun waktu yang sama untuk shalat malam.

Mahu baca surah apa? Tidak surah khas dibaca setiap berdiri rakaat. Yang mampu baca surah panjang silakan, yang mampu hanya surah lazim yang pendek, silakan.

Teliti satu hadis daripada riwayat Ibn Umar Radhiallahu anhu,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ : " أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى ) " . رواه البخاري(946) ، ومسلم (749)

Maksudnya: Daripada Ibnu Umar,  seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang solat malam. Maka Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
"Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat, maka apabila kamu berasa bimbang masuknya waktu Subuh bershalatlah satu rakaat sebagai witir daripada shalat yang telah dilakukan tadi."
(Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Daripada hadis itu,  shalat malam itu dibuat pada sebelum waktu Subuh. Jumlahnya satu kali shalat hanya dua rakaat,  dan salam. Jika  mahu buat lagi,  berdirilah dua rakaat lagi. Malah,  jika kesuntukan waktu, sempatnya hanya buat shalat satu rakaat witir,  maka rebutlah.

Wallahu aklam

Khamis, Oktober 04, 2018

MUSLIM tidak beribadahnya kaum syirik

Surah ini merupakan surah Makkiyah dan mengandungi enam ayat. Ia dinamakan Al-Kafirun kerana terdapat perkataan Al-Kafirun dalam ayat pertamanya.
Foto untuk hiasan
Surah ini memutuskan harapan orang kafir untuk memujuk Rasul Sallallahu ’alaihi wasallam agar berkompromi dengan mereka dalam aspek penyembahan, peribadatan dan din.

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١

Katakanlah: “Wahai orang kafir

لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢

Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah

وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣

Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah

وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ ٤

Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah

وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٥

dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah

لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦

Untukmu dinmu dan untukku dinku”

Pengajaran

Surah ini memaparkan bahawa terdapat tiga aspek yang tiada titik pertemuan dan persamaan di antara Islam dan kufur.

Dalam aspek penyembahan. Bahawa, antara Nabi Sallallahu ’alaihi wasallam dan orang mukmin dengan golongan kuffar tiada titik pertemuan dalam aspek penyembahan. Sesungguhnya golongan mukmin hanya menyembah atau mengabdikan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala yang Maha Esa. Mereka tidak mempersekutukan-Nya. Manakala golongan kuffar pula menyembah sembahan yang lain daripada Allah Subhanahu wata’ala. Mereka menyembah berhala, patung, sesama manusia, malaikat, bintang dan berbagai lagi sembahan yang terdapat dalam ajaran mereka.

Dalam aspek peribadatan. Bahawa, antara Nabi Sallallahu 'alaihi wasallam dan orang mukmin dengan golongan kuffar tiada titik pertemuan dalam aspek peribadatan. Sesungguhnya golongan mukmin beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan penuh ikhlas kepada-Nya dan mengikut tatacara syari’at-Nya. Mereka tidak syirik kepada-Nya dan tidak menukar syari’at-Nya. Manakala golongan kuffar, jelas mereka melakukan syirik dalam peribadatan dan mereka beribadat mengikut cara ciptaan akal mereka sendiri atau mengikut hawa nafsu mereka.

Sebenarnya semua aliran kekufuran merupakan satu millah (agama yang satu), khususnya dalam konteks menentang Islam. Ini kerana hanya Islam merupakan din yang diakui oleh Allah Subhanahuwata’ala. Asas bagi seluruh ajaran Islam dan peraturannya adalah tauhid kepada Allah Subhanahu wata’ala. Manakala semua aliran kekufuran pula berasaskan hawanafsu atau akal pemikiran yang terbatas. Islam merupakan sistem hidup yang berasaskan sumber Rabbani (sumber wahyu daripada Allah Subhanahu wata’ala), manakala sistem kufur pula bersumberkan dengan sumber-sumber dunia yang cacat dan tercela. Orang yang mengamalkan ajaran Islam menuju kepada Allah Subhanahu wata’ala, manakala orang yang mengamalkan ajaran kufur semakin jauh daripada Allah Subhanahu wata’ala.

Daftar Rujukan Tafsir:

Wahbah Al-Zuhaily, Tafsir Al-Munir, Juz 30 (Terjemahan), Penerbit: Persatuan Ulama Malaysia dan Intel Multimedia and Publication, Selangor, 2001.

Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an (Di Bawah Naungan Al-Qur’an), Penerbit: Gema Insani, Jakarta, 2001.

Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni, Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir (Ringkasan Tafsir Ibn Katsir),Penerbit: Jabal, Bandung, 2013.

Dr Muhammad Mahmud Hijazi, Tafsir Al-Wadih (Terjemahan), Penerbit: Pustaka Salam, Kuala Lumpur, 2005.

Sumber: www.dakwahtarbiyah.com

Isnin, September 10, 2018

WUDHU, sapulah seluruh kepala

Antara kesalahan ketara semasa wuduk yang diamal oleh masyarakat Islam di tanah air adalah tatacara menyapu kepala, iaitu  sekadar menyapu sedikit saja daripada rambutnya atau kepalanya.


https://youtu.be/FZ-O9fThAcc

Yang sahih hendaklah menyapu seluruh kepalanya dengan tangan yang basah iaitu bermula dari bahagian hadapan kepalanya kemudian diteruskan sampai ke belakang di bahagian bawah kepala dekat dengan tengkuk, setelah itu dia tarik semula ke hadapan, kemudian terus menyapu cuping telinga, ini dikira satu sapuan. Cukup dilakukan sekali kerana begitu contoh daripada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Kata Imam al-Syafii rahimahullah:

وَأُحِبُّ أَنْ يَتَحَرَّى جَمِيعَ رَأْسِهِ وَصُدْغَيْهِ يَبْدَأُ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ، ثُمَّ يَذْهَبُ بِهِمَا إلَى قَفَاهُ، ثُمَّ يَرُدُّهُمَا إلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ
Maksudnya: "dan aku suka  supaya dia berusaha menyapu semua kepalanya bermula di bahagian hadapan (ubun²) kemudian dibawa ke belakang, kemudian ditarik semula kedua-dua tangannya ke tempat dia mula menyapukan (air) ". [Mukhtasar al-Muzanni, daripada al-Umm 8/94]

Kata Imam al-Nawawi rahimahullah:

الْعَاشِرَةُ: اسْتِيعَابُ الرَّأْسِ بِالْمَسْحِ. وَالسُّنَّةُ فِي كَيْفِيَّتِهِ: أَنْ يَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى مُقَدَّمِ رَأْسِهِ، وَيُلْصِقُ سَبَّابَتَهُ بِالْأُخْرَى، وَإِبْهَامَيْهِ عَلَى صُدْغَيْهِ، ثُمَّ يَذْهَبُ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ، ثُمَّ يَرُدُّهُمَا إِلَى الْمُبْتَدَأِ، فَالذَّهَابُ وَالرَّدُّ مَسْحَةٌ وَاحِدَةٌ.
Maksudnya: "Sunat yang ke-10: menyapu semua bahagian kepala dan yang sunnah dalam caranya: hendaklah dia meletakkan tangannya di bahagian hadapan kepala dan dia lekatkan jari telunjuknya satu sama lain dan dua ibu jari dilekatkan di tepi kepala (dekat dgn mata) kemudian dia menolak tangannya sehingga ke belakang kepala (dekat dengan tengkuk) kemudian dia tolak semula ke hadapan di tempat mulanya, tarik dan tolak ini dianggap satu sapuan". [Raudah al-Tolibin].

Dalilnya hadis Abdullah bin Zaid radiallahu 'anh dalam Sahihain berkenaan sifat wudhu Nabi sallallahu 'alaihi wa sallam:

 ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ، فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ، بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى المَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ
Maksudnya: "kemudian baginda menyapu kepalanya dengan kedua-dua tangannya, bermula dari bahagian hadapan dibawa kedua-duanya ke belakang (kepala dekat dengan tengkuk) kemudian baginda menolak kedua-duanya kembali ke tempat ia mula (hadapan kepala)". [HR al-Bukhari & Muslim].

Firman Allah dalam ayat 6 surah al-Maidah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (jamban) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

Oleh Muhammad Asri Sobrie,  dengan sedikit suntingan dan tambahan ayat al-Quran dan pautan video.

Sabtu, Disember 30, 2017

MAHU berdoa sama imam atau tidak?


ADA satu hadis menjelaskan imam shalat adalah untuk diikuti. Ada yang memahami mengikuti imam itu sehingga dia habis berzikir dan berdoa yang diaminkan.  Ada yang mengatakan selepas habis shalat,  semua bebas hendak bangun atau berzikir, sekalipun imam sedang berzikir. Malah jika sang imam hendak bangun setelah tamat shalat pun tidak mengapa. Ini hanya kelihatan aneh pada adat bangsa,  bukan pada agama.

Imam asy-Syafie menerangkan:
  ثم يقوم وإن قام قبل ذلك أوجلس أطول من ذلك فلا شيء عليه، وللمأموم أن ينصرف إذا قضى الإمام السلام قبل قيام الإمام
".... Kemudian imam boleh bangun. Jika dia bangun sebelum itu atau duduk lebih lama di situ, tidak mengapa. Makmum pula boleh pergi setelah imam selesai memberi salam , sebelum imam bangun...."
- Mausu’ah al-Imam asy-Syafie: al-Umm, jilid 1, ms. 355.

Kenyataan Imam asy-Syafie ini berlandaskan kepada hadith berikut:   عَنْ جَابِرِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ الأَسْوَدِ عَنْ أَبِيهِ, أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةَ الصُّبْحِ فَلَمَّا صَلَّى انْحَرَفَ.  Jabir bin Yazid Ibnu Aswad berkata, daripada ayahnya bahawa dia pernah shalat bersama Rasulullah Shallallu Alaihi Wasallam dalam shalat Subuh. Setelah selesai shalatnya, baginda segera meninggalkan tempat shalatnya.
- Shahih Sunan an-Nasa’i, no. 1334.

Isnin, September 04, 2017

PELAJARI sejarah tahlilan untuk mantapkan fahaman.

TAHLILAN atau majlis ibadah mengirimi pahala kepada arwah sangat mantap dalam budaya beragama masyarakat Nusantara. Jika ada kematian pastilah bertahlilan, sejak kematian sehingga selesai penguburannya berkali-kali dilakukan tahlilan mengikut kehendak orang yang hadir. Hampir semua majlis, seperti hari raya, perkahwinan, persediaan peperiksaan, persiapaan berhaji, majlis rombongan atau mahu membangun rumah, pasti dibuat tahlilan. Bagi mereka rugi jika tidak dibuat tahlian. Tahlilan sudah seperti shalat berjamaah pada zaman Nabi shallalahu alaihi wasallam, yang baginda dan para sahabatnya tidak meninggalkannya. Walhal tahlilan (semua susunan ayat yang dibaca, tujuan dan pilihan bertahlilan) tidak ada pada zaman Nabi kita.

Foto untuk hiasan saja

Berikut di bawah adalah kajian ilmiah pencinta Sunah Nabi shallalahu alaihi wasallam di Indonesia berkaitan tahlilan. Penulis membuat sedikit suntingan untuk disesuaikan dengan blog ini, termasuk menokok sumber rujukan iaitu buku Prof Dr Hamka. Silakan memahaminya!

Perintis, pelopor dan pembuka pertama penyebaran serta pengembangan Islam di Pulau Jawa adalah para ulama/mubaligh yang berjumlah sembilan orang, yang popular dengan panggilan Wali Songo. Atas perjuangan mereka, berhasil mendirikan sebuah kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang berpusat di Demak, Jawa Tengah.

Para ulama yang sembilan dalam menyebarkan dan mengembangkan Islam di tanah Jawa yang majoriti penduduknya beragama Hindu dan Buddha mendapat kesulitan dalam membuang adat istiadat upacara keagamaan lama bagi mereka yang telah masuk Islam.

Para ulama yang sembilan (Wali Songo) dalam mengatasi masalah adat istiadat lama bagi mereka yang telah masuk Islam terbahagi menjadi dua aliran iaitu aliran GIRI dan aliran TUBAN.

Aliran GIRI adalah suatu aliran yang dipimpin oleh Sunan Giri (Raden Paku atau Ainul Yaqin) dengan para pendukung Sunan Ampel (Raden Rahmat), Sunan Drajat (Raden Qasim) dan lain-lain.

Dalam masalah ibadah aliran ini sama sekali tidak mengenal kompromi dengan ajaran Buddha, Hindu, kepercayaan dan animisme. Sesiapa yang secara suka rela masuk Islam lewat aliran ini, perlu sanggup membuang jauh-jauh segala adat tradisi lama yang bertentangan dengan syari’at Islam tanpa kecuali. Kerana murninya aliran dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam, maka aliran ini disebut Islam Putih.

Adapun aliran TUBAN adalah suatu aliran yang dipimpin oleh Sunan Kalijaga (Raden Sahid) yang didukung oleh Sunan Bonang (Raden Makhdum Ibrahim), Sunan Muria (Raden Umar Said), Sunan Kudus (Ja'far Shadiq), dan Sunan Gunung Djati (Syarif Hidayatullah).

Aliran ini sangat moderat, mereka membiarkan dahulu terhadap pengikutnya yang mengerjakan adat tradisi upacara keagamaan lama yang sudah mendarah daging sulit dibuang, yang penting mereka mahu memeluk Islam. Agar mereka jangan terlalu jauh menyimpang dari syari’at Islam maka para wali aliran Tuban berusaha agar adat istiadat Buddha, Hindu, dan animisme  diwarnai keislaman. Kerana moderatnya aliran ini maka pengikutnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan pengikut aliran Giri yang “tegas”. Aliran ini sangat disorot oleh aliran Giri kerana dituduh mencampur-adukkan syari’at Islam dengan agama lain. Maka aliran ini dilabel sebagai aliran Islam abangan (campuran antara agama Islam dan tradisi agama lain seperti Hindu dan Buddha)

Dengan ajaran agama Hindu yang terdapat dalam kitab Brahmana, sebuah kitab yang isinya mengatur tata cara pelaksanaan korban, sajian-sajian untuk sembahan dewa-dewa dan upacara menghormati roh-roh orang yang telah mati (nenek moyang) ada aturan yang disebut Yajna Besar dan Yajna Kecil.

Yajna Besar terbahagi menjadi dua bahagian iaitu Hafiryayajna dan Somayjna. Somayjna adalah upacara khusus untuk orang-orang tertentu. Adapun Hafiryayajna untuk semua orang. Hafiryayajna terbahagi pula menjadi empat bahagian iaitu : Aghnidheya, Pinda Pitre Yajna, Catur Masya, dan Aghrain. Dari empat macam tersebut ada satu yang sangat berat dibuang sampai sekarang bagi orang yang sudah masuk Islam iaitu upacara Pinda Pitre Yajna (suatu upacara menghormati roh-roh orang yang sudah mati).

Dalam upacara Pinda Pitre Yajna, ada suatu keyakinan bahawa manusia setelah mati, sebelum memasuki karman, yakni menjelma lahir kembali ke dunia dengan menjadi dewa, manusia, binatang dan bahkan menjelma menjadi batu, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain sesuai dengan amal perbuatannya selama hidup, dari 1-7 hari roh tersebut masih berada dilingkungan rumah keluarganya. Pada hari ke 40, 100, 1000 dari kematiannya, roh tersebut datang lagi ke rumah keluarganya. Maka dari itu, pada hari-hari tersebut perlu diadakan upacara saji-sajian dan bacaan mantera-mantera serta nyanyian suci untuk memohon kepada dewa-dewa agar rohnya si fulan menjalani karma menjadi manusia yang baik, jangan menjadi yang lainnya.

Pelaksanaan upacara tersebut diawali dengan Aghnideya, iaitu menyalakan api suci (membakar kemenyan) untuk berhubung dengan para dewa dan roh si fulan yang dituju. Selanjutnya diteruskan dengan menghidangkan saji-sajian berupa makanan, minuman dan lain-lain untuk dipersembahkan ke para dewa, kemudian dilanjutkan dengan bacaan mantra-mantra dan nyanyian-nyanyian suci oleh para pendeta agar permohonannya dikabulkan.

Musyawarah Para Wali

Pada masa para wali di bawah pimpinan Sunan Ampel, pernah diadakan musyawarah di antara para wali untuk memecahkan adat tradisi lama bagi orang yang telah masuk Islam. Dalam musyawarah tersebut Sunan Kalijaga selaku ketua aliran Tuban mengusulkan kepada majlis musyawarah agar adat istiadat lama yang sulit dibuang, termasuk di dalamnya upacara Pinda Pitre Yajna digantikan dengan unsur keislaman.

Usulan tersebut menjadi masalah yang serius pada waktu itu sebab para ulama (wali) tahu benar bahawa upacara kematian adat lama dan lain-lainnya sangat menyimpang dengan ajaran Islam yang sebenarnya.

Mendengar usulan Sunan Kalijaga yang penuh diplomatis itu, Sunan Ampel selaku penghulu para wali pada waktu itu dan sekaligus menjadi ketua sidang/musyawarah mengajukan pertanyaan sebagai berikut :

“Apakah tidak dikhuatirkan di kemudian hari, bahawa adat istiadat lama itu nanti akan dianggap sebagai ajaran Islam, sehingga kalau demikian nanti apakah hal ini tidak akan menjadikannya bid’ah?”

Pertanyaan Sunan Ampel tersebut kemudian dijawab oleh Sunan Kudus sebagai berikut :

“Saya sangat setuju dengan pendapat Sunan Kalijaga”

Sekalipun Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Drajat keras membantah, akan tetapi majoriti anggota musyawarah menyetujui usulan Sunan Kalijaga, maka hal tersebut berjalan sesuai dengan keinginannya. Mulai saat itulah secara rasmi berdasarkan hasil musyawarah, upacara dalam agama Hindu yang bernama Pinda Pitre Yajna dilestarikan oleh orang-orang Islam aliran Tuban yang kemudian dikenal dengan nama nelung dino (kenduri hari ketiga), mitung dina (kenduri hari ketujuh), matang puluh (kenduri hari keempat puluh), nyatus (kenduri hari keseratus), dan nyewu (kenduri ulang tahun ketiga kematian).

Dari akibat lunaknya aliran Tuban, maka bukan saja upacara seperti itu yang berkembang subur, akan tetapi keyakinan animisme  serta upacara-upacara adat lain ikut berkembang subur. Maka dari itu tidak hairanlah muridnya Sunan Kalijaga sendiri yang bernama Syekh Siti Jenar merasa mendapat peluang yang sangat leluasa untuk mensinkritismekan ajaran Hindu dalam Islam. Dari hasil olahannya, maka lahir suatu ajaran klenik/aliran kesufian yang berbau Islam. Dan tumbuhlah apa yang disebut “Manunggaling Kaula Gusti” yang ertinya Tuhan menyatu dengan tubuhku (Wahdatul Wujud). Maka tatacara untuk mendekatkan diri kepada Allah lewat solat, puasa, zakat, haji dan lain sebagainya tidak perlu dilakukan apabila mencapai tingkatan (maqam) tertentu.

Sekalipun Syekh Siti Jenar berhasil dibunuh, akan tetapi murid-muridnya yang cukup banyak sudah menyebar dimana-mana. Dari itu maka ajaran seperti itu hidup subur sampai sekarang.

Keadaan umat Islam setelah para wali meninggal dunia semakin jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya. Para ulama aliran Giri yang cuba mempengaruhi para raja Islam khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk menegakkan syari’at Islam yang murni mendapat kecaman dan ancaman dari para raja Islam pada waktu itu, kerana majoriti raja-raja Islam menganut aliran Tuban. Sehingga pusat pemerintahan kerajaan di Demak berusaha dipindahkan ke Pajang agar terlepas dari pengaruh para ulama aliran Giri.

Pada masa kerajaan Islam di Jawa, di bawah pimpinan raja Amangkurat I (1654-1677), seramai 7,000 orang ulama beraliran Giri telah ditangkap dan dibunuh di lapangan Surakarta kerana dituduh cuba mempengaruhi istana dan masyarakat. Melihat tindakan yang sewenang-wenangnya terhadap ulama aliran Giri itu, maka Raden Trunojoyo serta Santri Giri berusaha menyusun kekuatan untuk menyerang Amangkurat I yang kejam itu.

Pada masa kerajaan dipegang oleh Amangkurat II sebagai pengganti ayahnya, dia membalas dendam terhadap Trunojoyo yang menyerang pemerintahan ayahnya. Dia bekerja sama dengan VOC menyerang Giri Kedaton dan semua upala serta santri aliran Giri dibunuh habis-habisan, bahkan semua keturunan Sunan Giri dihabisi juga. Dengan demikian lenyaplah sudah ulama-ulama penegak Islam yang tegar. Ulama-ulama yang boleh hidup di masa itu adalah ulama-ulama yang lunak (moderat) yang boleh menyesuaikan diri dengan keadaan masyarakat yang ada. Maka bertambah suburlah adat-istiadat lama yang melekat pada orang-orang Islam, terutama upacara adat Pinde Pitre Yajna dalam upacara kematian.

Rujukan:

- K.H. Saifuddin Zuhn, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, Al Ma’arif Bandung 1979.

- Umar Hasyim, Sunan Giri, Menara Kudus 1979.

- Solihin Salam, Sekitar Wali Sanga, Menara Kudus 1974.

- Drs. Abu Ahmadi, Perbandingan Agama, Ab. Siti Syamsiyah Solo 1977.

- Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Tri Karya, Jakarta 1961.

- Hasil wawancara dengan tokoh agama Hindu.

- A. Hasan, Soal Jawab, Diponegoro Bandung 1975.

- Prof. Dr. Hamka, Dari Perbendaharaan Lama,  Pustaka Panjimas, Jakarta, 1982.

Rabu, Julai 19, 2017

MELIPAT kaki seluar sebelum shalat


PERHATIKAN bahwa banyak lelaki yang berseluar akan menggulung atau melipat hujung kaki seluarnya sehingga di atas buku lali. Ada yang melipatnya dengan cermat dan ada yang melakukannya tanpa memerhatikan seluarnya.  Malah ada yang cuai sehingga lipatan seluar tidak sama panjang antara kiri dan kanan.

Bolehkah melipat seluar atau baju yg dibawa dlm shalat? Selalunya lelaki melipat seluarnya sehingga di atas buku lali sebab ada hadis nabi melarang pakaian melebihi buku lali.

Ini catatan Ustaz Idris Sulaiman dari KL. - Sebagian ulama tidak membolehkan menggulung (melipat) pakaian pada saat shalat berdasarkan hadits sebagai berikut:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ وَلَا نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَالشَّعْرَ
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku diperintah (oleh Allah) untuk bersujud pada tujuh tulang, yaitu pada dahi –dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk dengan tangannya pada hidung beliau-, dua (telapak) tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua telapak kaki. Dan kami tidak (boleh) menahan pakaian dan rambut”. [HR Bukhari, no. 812; Muslim, no. 490; dan lain-lain].

Ibnul Atsir rahimahullah mengatakan: “Menahan pakaian, yaitu: menghimpunnya dan mengumpulkannya dari menyebar”. [an Nihayah fii Gharibul Hadits].

- maksud menahan pakaian ialah melipat atau menggulungnya supaya tidak menyebar / melepas ke bawah. Pasal seluarnya panjang sampai tumit tu.

Isnin, Jun 05, 2017

ADAKAH Nabi dan para sahabatnya berpuasa waktu perang?

Oleh: Abdullah Bukhari bin Abdul Rahim.

“Ustaz! Ini kali pertama saya dengar para sahabat nabi TAK PUASA ketika berlakunya perang Badar. Biasanya kita ditegur kerana lemah dan lembik ketika puasa, sedangkan para sahabat nabi yang berpuasa tetap gagah perkasa menentang musuh dalam perang Badar. Saya sangsi, betulkah apa yang ustaz sebut?”

Semalam (2 Jun 2017, Jumaat) saya dijemput tazkirah Ramadhan bertajuk “RAMADHAN: HADIAH ALLAH KEPADA KITA” di Pejabat Ana Muslim di Desa Melawati, Selangor. Semasa sessi soal jawab, seorang kaki tangan Ana Muslim bertanya soalan di atas.

Perlu kita sedar dan tahu bahawa Islam adalah agama untuk manusia yang sangat logik. Agak sukar bertempur menghayun pedang, berlari mengelakkan serangan musuh dan sebagainya jika orang Islam berpuasa. Tentang adakah benar atau tidak baginda dan para sahabat berbuka puasa dalam peristiwa pembukaan Kota Mekah dan perang Badar, cukuplah nass hadith ini menjawab:

سَافَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى مَكَّةَ وَنَحْنُ صِيَامٌ قَالَ فَنَزَلْنَا مَنْزِلًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكُمْ قَدْ دَنَوْتُمْ مِنْ عَدُوِّكُمْ وَالْفِطْرُ أَقْوَى لَكُمْ فَكَانَتْ رُخْصَةً فَمِنَّا مَنْ صَامَ وَمِنَّا مَنْ أَفْطَرَ ثُمَّ نَزَلْنَا مَنْزِلًا آخَرَ فَقَالَ إِنَّكُمْ مُصَبِّحُو عَدُوِّكُمْ وَالْفِطْرُ أَقْوَى لَكُمْ فَأَفْطِرُوا وَكَانَتْ عَزْمَةً فَأَفْطَرْنَا

Ertinya: Abu Sa’id al-Khudri berkata, kami pernah musafir dengan Rasulullah SAW ke Mekah dalam keadaan kami berpuasa. Kami pun singgah di suatu tempat, setelah itu baginda SAW bersabda: “Kamu sudah hampiri musuh kamu, sedangkan berbuka puasa lebih menguatkan kamu  (untuk menghadapi musuh).” Cadangan nabi itu menjadi pilihan kepada kami, ada yang berbuka manakala ada juga yang meneruskan puasa.  Setelah kami sampai ke tempat persinggahan yang lain, baginda bersabda lagi: "Kamu sedang berhadapan dengan musuh kamu, buka puasa itu lebih kuat untuk kamu maka berbukalah". (Abu Said al-Khudri berkata): Maka itu sudah menjadi satu kewajipan, maka kami pun berbuka (Sahih Muslim  & Sunan Abu Dawud).

Dalam riwayat lain, ‘Umar bin al-Khattab turut menceritakan perkara yang sama:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ غَزَوْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ غَزْوَتَيْنِ يَوْمَ بَدْرٍ وَالْفَتْحِ فَأَفْطَرْنَا فِيهِمَا

Ertinya: ‘Umar RA berkata: Kami berperang dalam 2 buah perang (Badar dan Pembukaan Kota Mekah) bersama Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan, LALU KAMI BERBUKA PUASA PADA KEDUA PERANG TERSEBUT (Sunan al-Tirmidhi).

Semoga 2 nass ini menjawab soalan yang diajukan. Islam adalah agama yang sesuai untuk manusia. Ketika keadaan terdesak seperti saat perang, musafir dan sebagainya, Allah MEMBERI HADIAH RUKHSAH ATAU KELONGGARAN KEPADA KITA UNTUK BERBUKA. Ia jelas menunjukkan rahmat Allah:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْ

Khamis, April 06, 2017

MALAM Jumaat kalian buat apa?

Salam malam Jumaat semua. Yuk kita pada ngaji. kesaksian Kanjeng Nabi s.a.w. adalah orang pilihan Allah untuk ditaati.

Nabi s.a.w. menghalau ahli bid'ah.

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

“Aku akan mendahului kamu di al-Hudh (telaga). Lalu diperlihatkan di hadapanku beberapa orang di antara kamu. Ketika aku hendak mengambil (minuman) untuk mereka dari al-Haudh, mereka dijauhkan dariku. Lalu aku  berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku’. Allah berfirman, 'Engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan (bid'ah) setelah (kewafatan)mu’." (Shahih Al-Bukhari no. 6576, 7049).

Dalam riwayat yang lain:

إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

“(Wahai Rabb), sungguh mereka sebahagian daripada pengikutku. Lalu Allah berfirman: ‘Sungguh engkau tidak tahu bahawa setelah (kewafatan)mu mereka telah mengganti ajaranmu”.  Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku setelahku.”(Shahih Al-Bukhari, no. 7050).

Sabtu, April 01, 2017

RASULULLAH tegas menolak Bid'ah Hasanah


MASYAKARAKAT kuat berhujah  “ada bid’ah hasanah” atau “niat ikhas kerana Allah, jadilah ibadah” atau “apa saja yang baik itu ibadah dan ada pahala”.  Bid’ah hasanah ialah amal ibadah yang direka atau tambahan daripada ibadah yang diajarkan oleh Nabi s.a.w.  Sebagai contoh, amalan beribadah membaca al-Quran di rumah orang mati selama beberapa malam yang ditetapkan. Pada malam penutupnya diadakan majlis khatamul Quran.  Membaca al-Quran itu sungguh ibadah khusus yang diajarkan oleh Nabi s.a.w., namun mengkhususkan membacanya sebagai ibadah di rumah orang mati itu Nabi s.a.w. tidak ajarkan. Maka ibadah itu menjadi bid’ah hasanah.


Malangnya Nabi s.a.w. menolak dengan tegas amal bid’ah hasanah yang tiga orang sahabatnya cuba lakukan.  Bahawa Nabi s.a.w. shalat malam, dan itu adalah contoh ibadah yang sunah. Namun apabila ada sahabatnya yang mahu menambah cara shalat (sehingga tidak tidur malam), Nabi s.a.w. menolaknya mentah-mentah!  Tidakkah itu pengajaran daripada Nabi s.a.w.?

Dalam hadits Mihzan bin al-Adra’ yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan:

إِنَّكُمْ لَنْ تَنَالُوْا هَذَا الأَمْرَ بِالمُغَالَبَةِ، وَخَيْرَ دِيْنِكُمْ اليُسْرَةُ

Kalian tidak akan dapat melaksanakan agama ini dengan memaksakan diri. Sebaik-baik urusan agamamu adalah yang mudah.”

Pernah ada tiga orang yang ingin mengetahui keadaan ibadah Nabi di rumah. Mereka tidak bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas mereka bertanya kepada ‘Aisyah tentang ibadah beliau. Setelah diberitahukan, mereka merasa ibadah baginda Nabi itu hanya sedikit. Mereka berkata: “Di manakah kedudukan kami dibanding dengan Nabi!? Padahal (Allah) telah ampuni dosa-dosa beliau yang lalu maupun yang akan datang.”

Maka salah seorang dari mereka berkata: “Aku akan shalat malam terus menerus tidak akan tidur.”
Yang kedua berkata: “Aku akan puasa terus menerus tanpa berbuka.”

Dan yang ketiga berkata: “Aku tidak akan menikah selama-lamanya.”


Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka seraya mengatakan:

أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا؟ أَمَا وَاللهِ إِنِّي لأَخْشَاكُمْ للهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ؛ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Kaliankah yang mengatakan begini dan begini? Adapun diriku, demi Allah Azza wa Jalla , aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada-Nya, tetapi aku berpuasa aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur serta aku menikahi wanita! Barangsiapa membenci sunnahku maka ia bukan termasuk golonganku.” (Mutafaqun 'alaih)




Jumaat, Februari 10, 2017

PAHALA sebesar Uhud pun bisa hilang!

PAHALA merupakan hadiah atau ganjaran kerna melakukan amal ibadah kepada Allah.  Pahala, sama seperti dosa (hukuman) di sisi Allah merupakan perkara ghaib, yang manusia tidak tahu apa-apa kecuali dikhabarkan oleh Allah atau melalui lisan rasul-Nya. Umumnya Allah memberikan pahala sebagai hadiah.  Allah dan rasulnya memberi gambaran sebanyak mana pahala itu dan bagaimana pahala itu juga bisa hilang setelah awalnya dihadiahkan oleh Allah.

Bukit Uhud di Madinah

Oleh kerna manusia menetap di muka bumi maka gambaran banyak atau sedikit atau hilangnya juga dicontohkan melalui apa yang ada di bumi.  Oleh itu mudahlah manusia memahami kuantiti pahala yang disandarkan dengan keperluan manusia.  Mislanya pahala menziarahi jenazah atau mensolati hingga selesai penguburannya.

Daripada  Abu Hurairah r.a.  katanya: "Rasulullah SAW  bersabda (maksudnya): ‘Barangsiapa menziarah jenazah orang Muslim kerana iman dan ikhlas serta turut solat jenazah bersama-sama dan menguruskan pengkebumiannya sampai selesai,  maka orang itu pulang membawa pahala dua qirat (satu qirat kira-kira sebesar Bukit Uhud). Dan siapa yang hanya mengikuti solat jenazah sahaja kemudian dia pulang sebelum pengkebumian maka orang itu pulang membawa pahala satu qirat."
(Hadis Riwayat Imam al-Bukhari)

Diriwayatkan hadis daripada Qatadah,  daripada Zurarah b Aufa , hadith daripada  Said b Hisyam, hadith daripada  A’isyah hadith daripada  Nabi s.a.w  yang bersabda: “Rak’atal fajri khairun minad-dunya wa-ma fiha.’ (bermaksud): Dua rakaat solat  (sunat) sebelum Solat Fajr (Subuh) itu lebih baik daripada dunia  dan seisinya.”  
(Hadis riwayat Imam  Muslim)

Orang menyebut gunung atau bukit Uhud, suatu yang besar. Tentu manusia sangat mahu memiliki barang berharga sebesar gunung.  Begitu juga motivasi kepada orang yang shaat dua rakaat (sunat) sebelum shalat fardu Subuh.  Ganjarannya melebihi satu planet bumi dan segala kekayaan yang ada pada bumi! Raja yang berkuasa dalam negeri dan punya hasil minyak pun sudah sangat mewah, inikan pula satu bumi dia miliki.  Itu di akhirat kelak dia mendapatnya. Jadi orang beriman berlumba-lumba meraih kekayaan di akhirat dengan shalat sunat itu.

Namun jangan dilupa Allah itu Maha  Adil. Jika kita melanggar syarat-syarat pemilikan hadiah itu, Allah akan mengambilnya semula.  Kosonglah kantong pahala yang selama ini tersimpan rapi.  Allah sahaja yang tahu kecuali kita hanya diberi gambaran pasal batu, debu dan air hujan.  Gambaran di sisi kehidupan yang mudah dipahami orang biasa.

Surah al-Baqarah ayat 264 (bermaksud), “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya kerna riya’ (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat.  Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi.  Mereka tidak memperoleh suatu apa pun daripada apa yang dikerjakan.  Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”


Allahu ‘aklam

Rabu, Disember 21, 2016

BANYAK celana berlipat ketika shalat


SOALAN
Ustadz, bagamaimana hukum menggulung pakaian ketika sholat? Sebagai contoh, ada orang yang memakai celana isbal, lalu ketika sholat ia gulung diatas mata kaki? Dan juga, orang yang memakai baju lengan panjang, lalu lengan panjangnya dilipat menjadi pendek? mohon jawabannnya, Ustadz.... Barokallohu fiik


Jawabnya:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Larangan mengumpulkan kain yakni melipatnya ketika shalat didasari oleh hadits shahih berikut:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الجَبْهَةِ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَاليَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ القَدَمَيْنِ وَلاَ نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَالشَّعَرَ

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Aku diperintah (oleh Allah) untuk bersujud pada tujuh tulang, yaitu pada dahi –dan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menunjuk dengan tangannya pada hidung beliau-, dua (telapak) tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua telapak kaki. Dan kami tidak (boleh) menahan pakaian dan rambut”. HR. Bukhari no.812 dan Muslim no.490

Imam Nawawi berkata: Ulama' bersepakat tentang larangan seseorang shalat sedangkan pakaiaan atau lengan bajunya tergulung....semua ini terlarang dengan kesepakatan ulama', Makruh di sini adalah makruh Tanziih (bukan keharaman.pent), seandainya seseorang shalat dan keadaannya seperti itu maka dia telah berbuat buruk akan tetapi shalatnya tetap sah. Al-Minhaaj syarh shahih Muslim bin Al-hajjaaj oleh imam An-Nawawi 4/209

Telah jelas pula larangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengenai Isbal, Beliau bersabda:

مَا أَسْفَلَ مِنَ الكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ

Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka. HR. Bukhari no.5787

orang yang memanjangkan kainnya hingga melampaui mata kaki maka dia telah melanggar larangan Rasul shallallahu alaihi wa sallam baik dia dalam keadaan shalat atau tidak, jika dia dalam keadaan shalat melipat kainnya supaya tidak Isbal maka dia di sisi lain terkena larangan mengumpulkan (melipat) kain saat shalat sebagaimana disebutkan haditsnya di atas.

Kala itu larangan yang lebih keraslah yang harus dihindari, dan larangan yang lebih keras adalah larangan menjulurkan kain sampai melebihi mata kaki (Isbal), perbuatan ini termasuk dosa besar, sehingga orang yang Isbal hendaknya menggulung kainnya supaya bisa diatas mata kaki.

Meski demikian ini bukan berarti pembolehan bagi orang-orang untuk melakukan Isbal. Karena Isbal terlarang baik itu ketika shalat atau di luar shalat.

(Sumber: Sahabat sunah Indonesia)

Selasa, November 01, 2016

TAHLILAN arwah itu daripada Samaveda Samhita?



ISLAM agama wahyu, yang punya citra tersendiri.  Allah sangat mahu hamba-hamba-Nya yang patuh senantiasa menjaga keberadaan dalam agama yang benar ini. Allah perintahan terus dalam al-Quran atau melalui utusan-Nya, Muhammad Rasulullah s.a.w. agar orang Islam yang beriman teguh dengan citra Islam. Hal ini bermaksud, tidak dapat diterima sama sekali adanya persamaan dengan penganut agama lain yang Allah tidak reda.

Dalam hal ketauhidan, jelas Allah mahu umat Islam berbeda dengan penganut agama lain.  Seruan Tuhan sebenar ialah Allah dan Allah itu tunggal, tidak dilahirkan atau punya keturunan (al-Quran surah al-Ikhlas).  Bahawa Allah itu tidak menyamai apa pun (al-Quran surah Syura: 11).  Walhal penganut agama lain membikin berhala dan gambar yang dikatakan arca tuhan!

Jika orang Yahudi berpuasa, Muhammad Rasulullah s.a.w. mengajarkan amalan bersahur agar berbeda dengan penganut Yahudi.  Jika kaum penyembah berhala itu mencukur jenggot dan membiarkan  kumisnya, maka sekali lagi Muhammad Rasulullah s.a.w. memerintahkan hamba Allah beriman agar menipiskan kumis dan membiarkan jenggotnya panjang.  Ini sebagian kaedah agar jelas siapa orang Islam yang beriman dalam kalangan kelompok manusia lain.

Di Makkah dahulu, telah ada tawaran daripada penyembah berhala agar kompromi atau tolak-ansur antara ibadah menyembah berhala dengan menyembah Allah yang satu. Allah balas terus dengan turunnya surah al-Kafirun: Bagi kamu itu agama kamu, dan bagi kami ini agama kami!  Sangat jelas, tidak ada silang amal ibadah atau penyusupan ibadah penyembah berhala dalam Islam dengan helah berdakwah atau menjaga persaudaraan dalam bangsa.


Lalu mengapa majlis ibadah dalam Hindu seperti peringatan terhadap ruh-ruh orang mati pada hari-hari tertentu disusupkan dengan ayat-ayat al-Quran, dan dikatakan ini sebagai ibadah dalam agama Islam? Lihat saja ibadah tahlilan arwah yang sejarahnya daripada Hindu jaman Majapahit, dipertahankan oleh ustaz dan kiyai! Untuk apa?


sumber tahlilan arwah

Isnin, Oktober 24, 2016

APA contoh saf shalat yang lurus dan rapat?


Cara meluruskan dan merapatkan shaf yang benar

*Daripada Anas bin Malik r.a,  dia berkata:

وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ

“Dahulu (pada masa Nabi) salah seorang dari kami menempelkan pundaknya dengan pundak teman (di sebelah)nya dan tapak kakinya dengan tapak kaki teman (di sebelah)nya.” [HR Al Bukhari (725)]

Daripada An Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu, dia berkata:

فرأيت الرجل يلزق منكبه بمنكب صاحبه وركبته بركبة صاحبه وكعبه بكعبه

“Saya melihat seseorang menempelkan pundaknya dengan pundak teman (di sebelah)nya, lututnya dengan lutut teman (di sebelah)nya, dan mata kakinya dengan mata kaki teman (di sebelah)nya.” [HR Abu Daud (662)]

Inilah janji yang diberikan kepada orang yang memiliki semangat yang tinggi dalam mengamalkan sunnah Rasulullah-Shallallahu ‘alaihi wasallam-

‘A`isyah -radhiallahu Ta’ala ‘anha- berkata, Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
مَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang menutupi suatu celah (dalam shaf), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya karenanya dan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga”.

[HR.Ibnu Majah Al-Qozwini dalam Sunan-nya (1004). Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Muhammad Nashir Al-Albany -rahimahullah- dalam Shohih Sunan Ibnu Majah (1004) dan At-Ta’liq Ar-Roghib (1/335) cet. Maktabah Al-Ma’arif , tahun 1421 H]

(Sumber: rakan facebook)

Rabu, Jun 22, 2016

DOA anak untuk ibu bapanya daripada al-Quran

Doa Nabi Nuh a.s.:

رَّبِّ ٱغۡفِرۡ لِى وَلِوَٲلِدَىَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيۡتِىَ مُؤۡمِنً۬ا وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتِ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّـٰلِمِينَ إِلَّا تَبَارَۢا (٢٨

"Wahai Tuhanku! Ampunkanlah bagiku, dan bagi kedua ibu bapaku, serta bagi sesiapa yang masuk ke rumahku dengan keadaan beriman; dan (ampunkanlah) bagi sekalian orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan (dalam segala zaman); dan janganlah Engkau tambahi orang-orang yang zalim melainkan kebinasaan!" (Surah Nun: ayat 28)

----------------------------------------------------
Doa Nabi Sulaiman a.s.

 رَبِّ أَوۡزِعۡنِىٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٲلِدَىَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَـٰلِحً۬ا تَرۡضَٮٰهُ وَأَدۡخِلۡنِى بِرَحۡمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصَّـٰلِحِينَ (١٩

" Wahai Tuhanku, ilhamkanlah daku supaya tetap bersyukur akan nikmatMu yang Engkau kurniakan kepadaku dan kepada ibu bapaku, dan supaya aku tetap mengerjakan amal soleh yang Engkau redai; dan masukkanlah daku - dengan limpah rahmatMu - dalam kumpulan hamba-hambaMu yang soleh (Surah an-Naml: ayat 19)

---------------------------------------------------

Doa Kebaikan dan kesejahteraan:

 رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرً۬ا (٢٤

"Wahai Tuhanku! Cucurilah rahmat kepada mereka berdua sebagaimana mereka telah mencurahkan kasih sayangnya memelihara dan mendidikku semasa kecil." (Surah al-Israk:24)

------------------------------------------------------

Doa mohon rahmat buat kedua ibu bapa:

 رَبِّ أَوۡزِعۡنِىٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٲلِدَىَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَـٰلِحً۬ا تَرۡضَٮٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ‌ۖ إِنِّى تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ (١٥

"Wahai Tuhanku, ilhamkanlah daku supaya tetap bersyukur akan nikmatmu yang engkau kurniakan kepadaku dan kepada ibu bapaku, dan supaya aku tetap mengerjakan amal soleh yang Engkau redai; dan jadikanlah sifat-sifat kebaikan meresap masuk ke dalam jiwa zuriat keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepadamu, dan sesungguhnya aku dari orang-orang Islam (yang tunduk patuh kepadamu)". (Surah al-Ahqaf: 15)

Doa dari anak buat ibu bapa adalah satu ibadah yang dituntut dalam Islam.  Doa dari anak yang soleh solehah adalah harta yang tak ternilai dengan segala isi dunia.

Doakanlah ibu bapa, sentiasa.. bukan terhad selepas solat sahaja.

Sabtu, April 02, 2016

TAUHID Uluhiyah menolak bid'ah hasanah

ORANG debatkan Sifat 20 dengan Tauhid Tiga (Rububiyah, Uhuliyah dan Asma wa Sifat), mana satu yang betul. Lebih ekstrim, ada antara pengikut salah satunya menuduh sesat pengguna yang sebelah sana.  Sifat 20 atau Tauhid Tiga, hanya kaedah atau cara memahami tauhid beragama. Kedua-dua itu bukan agama! Jika ada ilmuan menemukan satu lagi kaedah, boleh juga diguna pakai asalkan tidak menyalahi ajaran Allah dan rasul-Nya.

Teman saya seorang ustaz lepasan universiti di Jordan memberi kuliah kepada saya mengenai kelebihan Tauhid Tiga berbanding Sifat 20 atau manhaj Asya’irah.  Bukan bermakna dia menyalahkan atau menuduh kaedah Sifat 20 tidak berguna.  Sifat kita katanya, pilihlah kaedah yang lebih baik.

Ustaz menerangkan Tauhid Tiga bagi bahagian Uluhiyah. Tauhid Uluhiyah itulah yang menyebabkan manusia menerima sunah dan kental dengannya. Sebalik itu, mereka menjadi berjaga-jaga dengan bid’ah sepajang masa.

Apa itu Tauhid Uluhiyah? Saya pinjam catatan dalam kitab Aqidah Salaf Ahlus Sunnah Wal Jamaah oleh Abdullah bin Abdil Hamid al-Atsari terbitan Pustaka al-Inabah, Jakarta. Catat Tuan Syeikh Abdullah, “Keyakinan yang kuat bahawa Allah swt adalah ilah (yang diibadahi) yang haq, yang tidak ada ilah selain-Nya dan segala yang diibadahi selain-Nya adalah bathil, serta mengesakan-Nya dengan peribadahan, ketundukan dan ketaatan secara mutlak.  Tidak boleh seorang pun dipersekutukannya dengan-Nya, siapa pun dia, dan tidak boleh sesuatu pun dari peribadahannya dipalingkan kepada selain-Nya, seperti shalat, puasa, zakat, haji doa, meinta pertolongan, nazar, menyembelih, tawakal, khauf (rasa takut terhadap siksa-Nya), raja’ (mengharap kurnia dan rahmat-Nya), cinta, dan selain dari jenis-jenis peribadahan yang zahir (nampak) dan batin (tersembunyi).  Allah swt harus diibadahi dengan mahabbah (kecintaan), khauf (rasa takut) dan raja’ (pengharapan) secara bersamaan. Beribadah kepada-Nya dengan sebagian jenis ibadah, tanpa sebagian ibadah yang lainnya adalah kesesatan.”

Ayat 5 surah al-Fatihah, “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami minta tolong.”

Ayat 25 surah al-An’biya, “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘bahawa sanya tidak ada ilah (yang haq) melainkan Aku’ maka ibadahlah kamu terhadap Aku.”

Beribadah dengan tepat mesti ada prinsipnya.

Pertama: Semua jenis peribadahan ditujukan kepada-Nya semata-mata, bukan kepada selain-Nya dan tidak boleh diberikan kepada makhluk lain sedikit pun dari hak-hak d an kehususan Sang Pencipta. Ayat 3 surah Az Zumar, “Ingatlah hanya kepunyaan Allah agama yang bersih (daripada syirik)….”

Kedua: Ibadah tersebut harus selaras dengan perintah Allah dan perintah rasul-Nya. Ayat 21 surah As Syura, “Patutkah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang mensyariatkan mana-mana bahagian daripada agama mereka sebarang amalan yang tidak diizinkan Allah? Jika tidak kerna kalimah tetetapan yang menjadi pemutus, tentulah dijatuhkan azab dengan serta merta kepada mereka.  Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu beroleh azab seksa yang pedih.”

Bahagian Uluhiyah inilah yang menjadi benteng muslim daripada menerima bid’ah hasanah, kerna apa saja ibadah yang bukan diajarkan oleh Nabi-Nya, bermakna satu ibadah rekaan  orang,  walhal Islam sudah sempurna.


Allahu aklam.