Pengikut

Rabu, Mac 13, 2013

INILAH dalil-dalil agama Kenduri Arwah


NOTA: Berikut adalah dalil-dalil agama bagi amalan kenduri Tahlil Arwah atau Selametan (istilah Jawa).  Rencana asal dari Indonesia. Saya membuat sedikit ubah suai ejaan dan laras bahasa agar mudah difahami oleh pembaca Malaysia. Selamat membaca, semoga mendapat manfaat.


1.Dalil pengkhususan waktu selamatan kematian (1 hari,3 hari,40 hari dan seterusnya).

“Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu"
(Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193).

Perintah penyembelihan hewan pada hari tersebut:

“Tuhan telah menciptakan hewan untuk upacara kurban, upacara kurban telah diatur sedemikian rupa untuk kebaikan dunia.”
(kitab Panca Yadnya hal. 26, Bagawatgita hal. 5 no. 39).

Perkataan ulama':
“Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian orang Jawa hari ke-1, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000 hari, jelas adalah ajaran Hindu”
(Ida Bedande Adi Suripto laknatullah 'alaihi, lihat kitab “Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa).

2.Dalil Selamatan (kenduri arwah):

“Sloka prastias mai pipisatewikwani widuse bahra aranggaymaya jekmayipatsiyad aduweni narah”. Maksudnya, “Hantarkanlah sesembahan itu pada tuhanmu yang maha mengetahui”. Yang kegunaanya untuk menjauhi kesialan.
(kitab Sama Weda hal. 373 no.10).


a. Dewa Yatnya (selamatan) iaitu korban suci yang secara tulus ikhlas ditujukan kepada Sang Hyang Widhi dengan jalan bakti sujud memuji, serta menurut apa yang diperintahkannya (tirta yatra) metri bopo pertiwi.

b. Pitra Yatnya iaitu korban suci kepada leluhur (mengingati arwah nenek-moyang. Ed.) dengan memuji yang ada di akhirat supaya memberi pertolongan kepada yang masih hidup.

c. Manusia Yatnya iaitu korban yang diperuntukkan kepada keturunan atau sesama mereka (ed.) supaya hidup damai dan tentram.

d. Resi Yatnya iaitu korban suci yang diperuntukan kepada guru atas jasa ilmu yang diberikan (danyangan).

e. Buta Yatnya iaitu korban suci yang diperuntukan kepada semua makhluk yang kelihatan maupun tidak, untuk kemulyaan dunia ini.

(kitab Siwa Sasana hal. 46 bab ‘Panca maha yatnya’ dan pada Upadesa hal. 34).


Apakah dasar lain dalam agama Hindu?

Rukun Iman Hindu (Panca Srada) yang harus diyakini umat hindu

1. Percaya adanya Sang Hyang Widhi.
2. Percaya adanya roh leluhur.
3. Percaya adanya Karmapala.
4. Percaya adanya Smskra Manitis.
5. Percaya adanya Moksa.


 Panca Srada  punya lima rukun, iaitu:

PANCA YAJNA (artinya 5 macam selamatan / kenduri arwah).

1. Selamatan DEWA YAJNA (selamatan yang ditujukan pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau biasa dikenal orang dalam istilah dengan, ”memetri bapa kuasa ibu pertiwi “).

2. Selamatan PRITRA YAJNA (selamatan yang ditujukan kepada leluhur /roh nenek moyang).

3. Selamatan RSI YAJNA (selamatan yang ditujukan pada guru atau kirim do’a yang ditujukan pada guru, biasanya di punden / ndanyangan ). Kalau di kota dikenali dengan nama lain iaitu “selamatan / haul / hol” memperingati kiyainya atau gurunya, yang meninggal dunia.

4. Selamatan MANUSIA YAJNA (selamatan yang ditujukan pada hari kelahiran atau di kota disebut  “ulang tahun kelahiran”).

5. Selamatan BUTA YAJNA (selamatan yang ditujukan pada hari kebaikan), misalnya kita ambil contoh biasanya pada beberapa masyarakat Islam (Jawa) melakukan selamatan hari kebaikan pada awal bulan ramadan yang disebut “selamatan Megangan” (di Sabak Bernam disebut “unggah-unggahan” atau dilakukan sebab baru balik dari Makkah atau sebab lulus peperiksaan. ed.)


AKIBAT YANG TIDAK DISELAMATI DALAM KEYAKINAN HINDU, iaitu:

Pertanyaan ?
orang tua kalau tidak diselamati apa rohnya gentayangan?

Buka dalilnya dalam kitab suci umat Hindu, SIWASASANA halaman 46-47 cetakan tahun 1979. Bagi yang tidak mahu selamatan mereka di peralina hidup kembali dalam dunia bisa berwujud menjadi hewan atau bersemayam di dalam pohon. Oleh itu kalau anda ke Bali banyak pohon yang diberi kain-kain dan sajen-sajen itu, karena mereka meyakini rohnya ada dalam pohon itu, dan bersemayam dalam benda-benda bertuah misal keris dan jimat, di hari sukra umanis (jumaat legi) keris atau jimat diberi bunga dan sajen-sajen (sajian).

DEWA ASURA akan marah besar jika orang tidak mahu melakukan selamatan maka dewa asura akan mendatangkan bala/bencana dan membunuh manusia yang ada di dunia.

DEWA ASURA atau dikenal dalam masyarakat dengan nama BETHARAKALA, anak ontang anting harus diruwat (ritual dengan selamatan  dan sajen / jamuan/ sajian) karena takut betharakala, sendhang kapit pancuran(anak wanita diantara kedua saudara kandung anak laki-laki) diruwat karena takut betharakala, rabi ngalor ngulon merga rawani karo betharakala (nikah tidak boleh karena rumahnya menghadap utara dan barat, karena takut celaka ).

AKIBAT YANG DISELAMATI DALAM KEYAKINAN HINDU, iaitu:

Dalam keyakinan hindu bagi yang mahu selamatan maka mereka langsung punya tiket ke surga.

3. NASI TUMPENG

Konsep dalam agama hindu : dalam kitab MANAWA DHARMA SASTRA WEDHA SMRTI, bagi orang yang berkasta Sudra (kasta rendah) yang tidak bisa membaca kalimat persaksian:

“Hom suwastiasu hom awi knamastu ekam eva adityam Brahman”, kepada yang tidak tahu mengucapkan ayat itu dalam bahasa Sanskrit, sebagai pengganti cukuplah dengan membuat Nasi Tumpeng. Bentuknya adalah segitiga yang bermaksud Trimurti (konsep tiga tuhan hindu: Shiva, Vishnu dan Brahma)  artinya tiga manifestasi tuhan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.  Kepercayaan dalam Hindu ialah, sesiapa yang membuat Nasi Tumpeng maka dia seorang Hindu!

Dikitab BAGHAWAGHITA dijelaskan tuhan orang hindu minum dan di tengahnya ada tumpeng, dan di depan dewa brahma ada sajen-sajen /sajian makanan.  Nasi Tumpeng itulah sajian makanan yang dimaksudkan (ed.)

3. Pemberangkatan mayat diwajibkan dipamitkan di depan rumah lalu beberapa sanak keluarga akan lewat di bawah tandu mayat (tradisi brobosan), karena umat hindu meyakini brobosan sebagai wujud bakti pada orang tua dan salam pada dewa, dalam hindu mayat ditandu lalu di atasnya diberi payung, pemberangkatan mayat menggunakan sebar/sawur bunga, uanglogam, beras kuning (kunyit) dll, lalu bunga dironce (dirangkai dengan benang) lalu ditaruh atau dikalungkan di atas beranda mayat.

Hindu meyakini :
a. Bunga warna putih mempunyai kekuatan dewa Brahma.
b. Bunga warna merah mempunyai kekuatan dewa Wisnu.
c. Bunga warna kuning mempunyai kekuatan dewa Siwa.

Umat Hindu berkeyakinan bunga itu berfungsi sebagai pendorong do’a (muspha/trisandya) dan pewangi.


4. KETUPAT

Di dalam hindu roh anak menjelang hari raya pulang ke rumah, sebagai penghormatan orang tua kepada anak, maka biasanya hindu setelah hari raya dipasang ketupat di atas pintu dan dibagi-bagikan tetangga.

Dengan penjelasan di atas maka teranglah bahwa ritual-ritual itu bukanlah sesuatu yang baru dalam agama hindu, dikatakan bid'ah apabila itu dikerjakan oleh umat islam dan dianggap bagian dari ajaran islam. Seperti yang kita ketahui agama Islam lahir ribuan tahun setelah adanya agama hindu tersebut. Hanya saja beberapa "orang hindu" itu menggunakan kalimat TAHLIL (Laa ilaha illallah) atau membaca surat YASIN pada ritual-ritual tersebut. Jadilah serupa tapi tak sama dengan ajaran islam. Islam tidaklah mengenal ritual-ritual tersebut, tidak ditemukan dalilnya baik di dalam al-qur'an, al-hadits mahupun ijma' para sahabat. Meminjam istilah fiqih "laukana khairan Lasabaquunaa ilaihi" (kalaulah seandainya perbuatan / amal itu baik, tentulah para sahabat mendahului kita mengerjakannya).


Islam adalah agama yang sempurna, tidak perlu lagi ditambah-tambahi dengan syari'at baru, bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mewasiatkan kpd kita agar menjauhi bid'ah dalam sabdanya:

“Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan”.
(HR Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya).


“Sesungguhnya sebaik baik perkataan adalah kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk muhammad sholullah alaihi wasalam, sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka”
(HR Abu dawud , an-Nasa’i, Ahmad).

Kita tentu tidak mhau agama kita yang mulia ini mengalami nasib serupa seperti agama-agama samawi lainnya (Yahudi dan Kristen) yang alasan adat budaya telah mengambil alih dalil-dalil utama kitab suci sendiri, karena alasan menghormati leluhur dan budaya lokal.

Allah azza wajalla telah memperingati kita dalam firman-Nya:
”Dan apabila dikatakan kepada mereka:”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Mereka menjawab :”(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”
(Qs. Al-Baqarah:170).

Allah juga berfirman:
“Dan janganlah kamu mencampur-adukkan kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran sedangkan kamu mengetahuinya”
(Qs. Al-Baqarah:42).

Allah menyuruh kita untuk tidak boleh mencampuradukkan ajaran agama islam (kebenaran) dengan ajaran agama Hindu (kebatilan) tetapi kita malah ikut perkataan manusia bahwa mencampuradukkan agama itu boleh, Apa manusia itu lebih pintar dari Allah?

Selanjutnya Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”.
(Qs. Al-Baqarah:208).

Allah menyuruh kita dalam berislam secara kaffah (menyeluruh) tidak setengah-setengah. Setengah Islam setengah Hindu.

1 ulasan:

  1. terimakasih infonya

    sebagai seorang mualaf sungguh info ini sangat membantu saya




    salam hangat,

    judi bola online | agen sbobet indonesia

    BalasPadam