Pengikut

Memaparkan catatan dengan label agama. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label agama. Papar semua catatan

Ahad, November 24, 2019

BENCANA susah yang datang

Allah 'Azza wa Jalla telah berfirman : "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka itu akan dibiarkan mengatakan : "Kami telah beriman", sedangkan mereka tidak akan diuji lagi ?" (QS. Al-Ankabut [29]: 2)

Bergembiralah saudaraku, bagi orang yang sakit atau yang tertimpa musibah atau ujian, yaitu jika mereka bisa menyikapinya dengan ikhlas, sabar, ridha serta tidak buruk sangka kepada Allah Ta'ala, maka mereka itu akan :

(1). DIAMPUNI DOSA-DOSANYA
"Senantiasa ujian itu akan ditimpakan kepada seorang mukmin & mukminah, baik itu pada dirinya, anaknya serta hartanya, sampai dia pun nanti bertemu Allah tanpa mempunyai kesalahan" (HR. At-Tirmidzi, Ahmad serta al-Hakim, lihat Shahiihut Targhiib no. 3414)
"Tidaklah seorang pun muslim yang tertimpa rasa letih, penyakit, bingung, sedih, rasa sakit, duka cita, bahkan duri yang mengenai dirinya, melainkan dengan itu Allah akan gugurkan kesalahan-kesalahannya" (HR. Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573)

(2). SEMAKIN DICINTAI ALLAH
"Sesungguhnya besarnya pahala akan sesuai dengan besarnya cobaan, dan sesungguhnya apabila Allah telah mencintai suatu kaum mk Dia pun akan menguji mereka. Oleh karena itu, barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan (Allah), serta barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan (Allah)" (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 3407)

(3). DITINGGIKAN DERAJAT
"Sesungguhnya seorang hamba apabila telah ditetapkan oleh Allah Ta'ala suatu kedudukan baginya, kemudian dia tidak dapat mencapai (kedudukan itu) dengan amal perbuatannya, maka Allah pun akan memberikannya ujian pada tubuh, harta atau anaknya, kemudian dia bersabar atas ujian tersebut, hingga Allah Ta'ala menyampaikannya pd kedudukan yang telah ditetapkan untuknya dari Allah" (HR. Ahmad, Abu Dawud, ath-Thabrani dan Abu Ya'la, lihat Shahiihut Targhiib no. 3409)

(4). MENDAPATKAN SURGA
"Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman : "Wahai anak Adam, apabila kamu bersabar dan ikhlas saat tertimpa musibah, maka Aku tidak akan meridhai bagimu sebuah pahala kecuali Surga" (HR. Ibnu Majah no. 1597, lihat Takhrij Misykaatul Mashaabiih no. 1758)

(5). KESELAMATAN DARI API NERAKA
"Beritakanlah kabar gembira, sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berfirman : "Penyakit itu adalah api-Ku yang Aku telah timpakan kepada hamba-Ku yang mukmin di dunia ini, agar dia dapat selamat dari api Neraka pada hari akhir nanti" (HR. Ahmad II/440, Ibnu Majah no. 3470 dan al-Hakim I/345, lihat Silsilah ash-Shahiihah no. 557)

(6). MENDAPATKAN KEBAIKAN
"Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan, maka akan ditimpakan musibah (ujian) kepadanya" (HR. Bukhari no. 5645, hadits dari Abu Hurairah)
"Apabila Allah Ta'ala menghendaki kebaikan pada diri hamba-Nya, maka Dia pun akan menyegerakan untuknya suatu ujian di dunia (sebagai pelebur akan dosa-dosanya). Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada diri hamba-Nya, mk Dia akan mengakhirkan ujian lantaran dosa-dosanya, hingga dia pun didatangkan dengan membawa dosa-dosa itu kelak pada hari Kiamat" (HR. At-Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Majah no. 4031, lihat Silsilah ash-Shahiihah no. 1220)

(7, 8, 9). MENDAPATKAN KEBERKAHAN DAN RAHMAT SERTA PETUNJUK
"Mereka itulah (yaitu orang2 yang tertimpa ujian atau musibah) yang akan mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, & mereka itulah orang2 yang mendapat petunjuk" (QS. Al-Baqarah [2]: 157)

(10). MENDAPAT PAHALA TANPA BATAS
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas" (QS. Az-Zumar [39]: 10)
"Manusia yang sehat pada hari Kiamat nanti sangat menginginkan kulitnya agar dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa ujian di dunia" (HR. At-Tirmidzi no. 2402, lihat ash-Shahihah no. 2206)

Penulis : ✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar

Ahad, November 25, 2018

BAGAIMANA nabi bertahlil arwah?

BERAGAMA dan menata jalan hidup,  muslim tiada pilihan kecuali menuruti Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Itu berarti, tiada peluang masih menyimpan amalan ibadah yang tidak jelas sumbernya,  kendatipun kita hanya mengatakan "ini sudah turun temurun dan mantap dalam kalangan kita".

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” [Ali ‘Imran: 31]

Berkata Imam Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H): “Ayat ini adalah pemutus hukum bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah namun tidak mau menempuh jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka orang itu dusta dalam pengakuannya tersebut hingga ia mengikuti syari’at dan agama yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua ucapan dan perbuatannya.” [Tafsir Ibnu Katsir, cetakan Darus Salaam]

Setelah para kiyai kita mengatakan,  "ya betul tahlilan itu tiada pada jaman Nabi,  tapi kebiasaan ibadah ini sangat lama", mahu memilih apa kita? 

Kerap kita berpikir,  "rugi waktu yang ada tidak dibikin tahlilan", sekalipun kiyai ada menyatakan cinta Nabi itu nerima dengan polos daripada Kanjeng Nabi. Ada diambil,  tiada...., maka kita tidak membuat yang baru. 

Isnin, September 24, 2018

SATU cara diampuni dosa-dosa


MANUSIA sememangnya lemah. Ada waktunya tahap iman kepada Allah tinggi,  waktu yang lain imannya lemah. Saat imannya tinggi,  dia merayu-rayu kepada Allah,  mencari keampunan semua dosa.  Saat seperti itu, tiada yang sangat berharta dalam hidupnya melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya. 

Ada satu jaminan daripada Allah yang DIA pasti mengampuni dosa hamba-Nya,  iaitu menuruti saja apa yang diucapkan oleh kekasihnya,  Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.  Artinya, setelah tahu begitu dan begini kehendak atau contoh Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, terus saja diikuti tanpa ditakwil apa-apa pun.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“(Wahai Muhammad) Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” [Surah Ali ‘Imran: 31]

Bukan sahaja petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam itu dalam hal ibadah,  malah dalam hal cari makan hari-hari.  Ini contohnya,  berkenaan penipuan dalam perniagaan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah bahawa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam lalu berdekatan dengan selonggok makanan lalu baginda memasukkan tangannya ke dalam longgokan itu. Tiba-tiba jari baginda terkena sesuatu yang basah. Baginda bertanya: “Apa semuanya ini wahai tuan punya makanan? Orang itu menjawab: “Terkena hujan, wahai Rasulullah.” Baginda bersabda: “Mengapa tidak kamu letakkan di atas supaya orang ramai dapat melihatnya. Sesiapa yang menipu maka dia bukan daripada kalanganku. (HR Muslim, al-Tirmizi)

Adakah kita muslim yang tahu banyak dosa bakal diampuni Allah? Tentu saja hanya yang benar-benar membenci amal dosa, lalu bertaubat maka hapuslah dosa-dosanya. Jika masih ada yang berbangga dengan dosanya, tentulah belum dibersihkan oleh Allah.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

"Seluruh umatku akan diampuni, kecuali orang-orang yang melakukan dosa secara terang-terangan. Dan sesungguhnya termasuk (hukum) melakukan dosa secara terang-terangan, iaitu seseorang yang melakukan perbuatan (dosa) pada waktu malam, dan Allah telah menutupinya, kemudian pada waktu pagi dia mengatakan,  'Hai Fulan, malam tadi aku telah melakukan ini dan itu,'  padahal Rabb-nya telah menutupi dosa pada waktu malam, tetapi pada waktu pagi dia membuka tabir yang Allah tutup terhadapnya."
(HR al Bukhari dan Muslim) 

Jumaat, Jun 08, 2018

MUSLIM menyembah batu Kaabah?

"KATANYA muslim tidak menyembah batu atau berhala.  Bahkan muslim menghadap Kaabah yang terbuat daripada batu,  malah di Masjidil Haram itu mereka sujud pada Kaabah!"


Bagaimana menangkis tuduhan musuh muslim seperti di atas? Dr Khalid Basalamah dari Jakarta memberi panduan menangkis soalan provokasi seperti itu.  Menurut beliau,  muslim shalat menghadap Kaabah disebabkan perintah Tuhan,  iaitu Allah.  Jika diperintah shalat menghadap laut,  nescaya muslim shalat menghadap laut. Jika ditakdir Kaabah runtuh pun,  muslim tetap menghadap tapak atau sisanya Kaabah.

Ini telah diperintah dalam al -Quran.

 قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا
 فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
"Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar daripada Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah daripada apa yang mereka kerjakan." (Al Baqarah:144)

Muslim mentaati perintah Allah dan yang ditunjukkan oleh nabi Allah,  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam,  tanpa menyoal apa-apa.

Bahawa Umar bin al Khattab ketika mahu mencium hajar aswad di kaabah dia berkata,

إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ
“Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan mudarat (bahaya), tidak bisa pula mendatangkan manfaat. Seandainya bukan kerna aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (HR. Muslim no. 1270).

Pengajaran lain,  kita tidak campur urusan agama atau ibadah.  Apa yang ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam seperti lafaz,  susunan ayat al-Quran, pergerakan,  tempat,  waktu dan lain,  itulah yang dilakulan oleh muslim orang beriman.  Tiada satu apa pun contoh daripada baginda Shallallahu alaihi wasallam,  tiada boleh sesiapa membuat ibadah baru. 

Sabtu, Ogos 05, 2017

HADIAH menahan amarah ialah syurga

Foto hanya hiasan

Tazkirah kepada sesama hamba Allah, moga-moga diberkahi Allah.

Maksud ayat 133-136 surah Ali Imran.
"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan daripada Tuhanmu dan mendapatkan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa (iaitu) orang yang berinfak, baik pada waktu lapang atau sempit, dan orang yang menahan marahnya, dan yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila  melakukan perbuatan keji (dosa besar yg kesannya terkena juga orang lain)   atau menzalimi diri sendiri (dosa terkena diri sendiri), segera mengingat Allah dan memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapakah lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan dosa itu sedangkan mereka mengetahui.  Balasan bagi mereka ialah ampunan daripada Tuhan mereka dan syurga-syurga yang sungai-sungai mengalir  di bawahnya. Dan itulah sebaik-baik pahala bagi orang yang beramal."

Dipermudahkan.... antara isi kandungan firman Allah.
- Allah menyuruh kita segera bertaubat.
- Allah menyuruh kita bercita-cita menduduki syurga.
- Syurga untuk orang yang bertaqwa.
- Ciri-ciri orang bertaqwa ialah suka bersedekah, bersabar ketika tercabar marah, memaafkan kesalahan orang terhadap dirinya, jika berbuat dosa cepat-cepat bertaubat.

Selasa, Julai 18, 2017

SUNAH tidak berkasut di kuburan

BAGAIMANA ketika kita di kuburan? Selain berdoa ada sunah lain iaitu tidak beralas kaki atau berkasut di permukaan tanah kubur.  Amalkan sunah ini sebagai satu tanda mencintai Nabi Shallallahu alaihi wasallam.

Basyir bin Handzalah ra, meriwayatkan bahawa Nabi saw. menanggalkan sandalnya bila berada di k
awasan perkuburan. (HR an-Nasa’i, Tirmidzi, Abu Daud dan Ibn Majah)

Ketika aku menemani Rasulullah saw. melalui perkuburan kaum Muslimin, baginda terlihat seorang lelaki berjalan di antara kubur dengan memakai terompah, maka baginda pun bersabda, "Wahai orang yang memakai terompah, lepaskanlah kedua terompahmu itu. Maka orang tersebut memandang dan ketika bahawa yang dipandang itu adalah Rasulullah, dia pun segera melepaskan kedua terompahnya lalu melemparkan keduanya. (HRiwayat al-Baihaqi)

Ibn Hajar berpendapat makruh hukumnya memakai sandal/kasut di kawasan perkuburan.

Imam at-Thahawi mengatakan jika kawasan perkuburan itu bersih dan selamat barulah ditanggalkan kasut atau sandal dengan tujuan menghormati ahli kubur, tetapi jika kawasan kuburan itu kotor atau berduri maka tidak perlu membuka alas kaki.

Isnin, Mei 29, 2017

ISLAM asing, jawaban Syaikh Abdul Aziz Bin Baz


foto hiasan
Soalan
Apa arti dari hadits:
بدأ الإسلام غريباً وسيعود غريباً كما بدأ فطوبى للغرباء
“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing”

Jawaban oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz
Artinya bahwa islam dimulai dalam keadan asing sebagaimana keadaan di Makkah dan di Madinah ketika awal-awal hijrah. Islam tidak diketahui dan tidak ada yang mengamalkan kecuali sedikit orang saja. Kemudian ia mulai tersebar dan orang-orang masuk (Islam) dengan jumlah yang banyak dan dominan di atas agama-agama yang lain.

Dan Islam akan kembali asing di akhir zaman, sebagaimana awal kemunculannya. Ia tidak dikenal dengan baik kecuali oleh sedikit orang dan tidak diterapkan sesuai dengan yang disyariatkan kecuali sedikit dari manusia dan mereka asing. Dan hadits lengkapnya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
فطوبى للغرباء
“Maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing” (HR. Muslim).

dan dalam riwayat yang lain :
قيل يا رسول الله ومن الغرباء؟ فقالالذين يصلحون إذا فسد الناس
Rasulullah- Shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya “wahai rasulullah siapa yang asing itu (al-Ghuraba)?” Rasulullah- Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Yaitu orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan”.

Dan dalam lafadz yang lain:
هم الذين يصلحون ما أفسد الناس من سنتي
”mereka adalah orang-orang yang memperbaiki sunnahku yang dirusak manusia”
Kita memohon kepada Allah – Subhanahu wata’ala agar menjadikan kita dan juga saudara kita kaum muslimin seluruhnya bagian dari mereka dan Dialah sebaik-baik tempat meminta.

Sabtu, Mac 04, 2017

BERAPA kali demontrasi antitahlilan?

MEMPENGARUHI atau menghasut pemikiran, sama saja sifatnya. hal ini berlaku terhadap sesuatu pemahaman yang dikatakan salah mahu dihalang. Maksud salah pun bisa saja jadi macam-macam.
Foto untuk hiasan
Ada orang agama yang betah dan mendapat nikmat hidup kerna kerja agamanya. jika ada pemahaman lain yang mengganggu kebetahannya, dia pasti marah. Oleh kerna masyarakat sudah menerima saja lisannya, tugasan hidupnya menjadi lebih mudah.

Agama yang benar ialah yang persis seperti dalam al-Quran dan hadis sahih Nabi s.a.w. Tanpa dua sumber itu, sudah lama Islam musnah sebagai agama langit. Itu telah terjadi pada agama Yahudi dan Nasrani.  Dalam khutbah akhir Nabi s.a.w. di Arafah pun dipesankan jangan meninggali al-Quran dan Sunahnya.

Rupa-rupanya tak semua yang dinamakan ritual ibadah di negeri kita persis seperti aturannya Nabi s.a.w. Ada sedikit-sedikit seperti ritual tahlilan itu bukan berdasar Sunah Nabi s.a.w.  Namun tahlilan sudah mendalam seperti akar tunjang pohon besar.  Apa saja berkumpulnya orang atas nama agama mesti dibuat tahlilan.

Kemudian muncul golongan yang mahu membuat tajdid, mahu memurnikan atau mengembalikan ritual agama ini seperti yang dijalankan oleh Nabi s.a.w. dan para sahabatnya. Tentu saja orang-orang yang sudah betah dengan tahlilan jadi marah. Maka mereka melabel 'wahhabi' kepada yang mahu membuat tajdid. Untuk menguat hujah agar menjauhi orang atau ustaz berfikrah 'sunah' atau 'salafi' atau wahhabi itu, masyarakat diingatkan bahaya berpecah-belah. Dan paling keras golongan sunah-salafi-wahhabi didakwa bakal membunuh orang yang tidak sefaham dengan mereka! Duh... semua gerun.

Hakikatnya apa? Pemahaman sunah atau salafi atau wahhabi sudah ada sejsk awal kurun ke-20 yang lalu. Dahulu mereka dipanggil 'kaum muda'. Dalam sejarah kaum muda menyumbang pada pengembangan dan membuka data fikir umat Melayu. Lihatlah buku sejarah di sekolah.

Telah lebih satu abad diskusi atau debat sunah dan mana yang tidak sunah, tidak ada perpecahan seperti adanya katolik dan protestant. Tidak ada muncul partai politik memperjuangkan sunah dan meghapus bid'ah.  Tidak ada demontrasi besar saban tahun untuk mengajak umah meninggalkan tahlilan. Tidak ada perlawanan bersenjata antara kumpulan anti dan protahlilan.

Pecahnya umah sejak dahulu kerna nafsu berpolitik. orang-orang agama yang mengatakan wahhabi pemecah umat dan bakal membunuh umat Islam lain juga sedang berada dalam salah satu partai yang membenci malah meracun kebencian partai lawannya!

Kerna berpolitik, terbukti sebuah keluarga berantakan. Ada suami istri bercerai akibat paham politik yang berbeda. Ada sekumpulan umat mati berdarah akibat berbeda paham politik. Malah begitu banyak demontrasi massa di merata-rata itu pun disebabkan pergaduhan politik.

Mengapa orang-orang agama yang betah dengan tahlilan itu tidak membayangkan bunuh-membunuh akan berlaku akibat perbedaan dan pertelingkahan politik sekarang? Jawabannya, sebab ahli-ahli agama yang memusuhi sunah-salafi-wahabi itu sebagian daripada aktor partai politik yang hari-hari menyuburkan kebencian umat terhadap anggota dan partai lawannya. Mereka menutupi kebejatan diri dengan mengalih perhatian masalah umah kepada pihak lain.

Isnin, Februari 27, 2017

MENGUMPAT / MENGGUNJING APA?

CATATAN seorang sahabat kita:

Menceritakan ‘aib orang lain tanpa ada hajat sama sekali, inilah yang disebut dengan ghibah. Karena ghibah artinya membicarakan ‘aib orang lain sedangkan ia tidak ada di saat pembicaraan. ‘Aib yang dibicarakan tersebut, ia tidak suka diketahui oleh orang lain.

Adapun dosa ghibah dijelaskan dalam firman Allah Ta’ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)

Asy Syaukani rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Allah Ta’ala memisalkan ghibah (menggunjing orang lain) dengan memakan bangkai seseorang. Karena bangkai sama sekali tidak tahu siapa yang memakan dagingnya. Ini sama halnya dengan orang yang hidup juga tidak mengetahui siapa yang menggunjing dirinya. Demikianlah keterangan dari Az Zujaj.”

Asy Syaukani rahimahullah kembali menjelaskan, “Dalam ayat di atas terkandung isyarat bahwa kehormatan manusia itu sebagaimana dagingnya. Jika daging manusia saja diharamkan untuk dimakan, begitu pula dengan kehormatannya dilarang untuk dilanggar. Ayat ini menjelaskan agar seseorang menjauhi perbuatan ghibah. Ayat ini menjelaskan bahwa ghibah adalah perbuatan yang teramat jelek. Begitu tercelanya pula orang yang melakukan ghibah.”

Adapun yang dimaksud ghibah disebutkan dalam hadits berikut,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya, “Tahukah kamu, apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu tentang dirinya, maka berarti kamu telah menggibahnya (menggunjingnya). Namun apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah menfitnahnya (menuduh tanpa bukti).” (HR. Muslim no. 2589, Bab Diharamkannya Ghibah)

Ghibah dan menfitnah (menuduh tanpa bukti) sama-sama keharaman. Namun untuk ghibah dibolehkan jika ada tujuan yang syar’i yaitu dibolehkan dalam enam keadaan sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah. Enam keadaan yang dibolehkan menyebutkan ‘aib orang lain adalah sebagai berikut:
1- Mengadu tindak kezaliman kepada penguasa atau pada pihak yang berwenang. Semisal mengatakan, “Si Ahmad telah menzalimiku.”
2- Meminta tolong agar dihilangkan dari suatu perbuatan mungkar dan untuk membuat orang yang berbuat kemungkaran tersebut kembali pada jalan yang benar. Semisal meminta pada orang yang mampu menghilangkan suatu kemungkaran, “Si Rahmat telah melakukan tindakan kemungkaran semacam ini, tolonglah kami agar lepas dari tindakannya.”
3- Meminta fatwa pada seorang mufti seperti seorang bertanya mufti, “Saudara kandungku telah menzalimiku demikian dan demikian. Bagaimana caranya aku lepas dari kezaliman yang ia lakukan.”
4- Mengingatkan kaum muslimin terhadap suatu kejelekan seperti mengungkap jeleknya hafalan seorang perowi hadits.
5- Membicarakan orang yang terang-terangan berbuat maksiat dan bid’ah terhadap maksiat atau bid’ah yang ia lakukan, bukan pada masalah lainnya.
6- Menyebut orang lain dengan sebutan yang ia sudah ma’ruf dengannya seperti menyebutnya si buta. Namun jika ada ucapan yang bagus, itu lebih baik. (Syarh Shahih Muslim, 16: 124-125)
Kalau kita perhatikan apa yang dimaksud oleh Imam Nawawi di atas, ghibah masih dibolehkan jika ada maslahat dan ada kebutuhan. Misal saja, ada seseorang yang menawarkan diri menjadi pemimpin dan ia membawa misi berbahaya yang sangat tidak menguntungkan bagi kaum muslimin, apalagi ia mendapat backingan dari non muslim dan Rafidhah (baca: Syi’ah), maka sudah barang tentu kaum muslimin diingatkan akan bahayanya. Namun yang diingatkan adalah yang benar ada pada dirinya dan bukanlah menfitnah yaitu menuduh tanpa bukti. Wallahu waliyyut taufiq.
Disusun di Jayapura, Papua, 26 Rajab 1435 H

Khamis, Januari 26, 2017

PEGAWAI agama hina sunah Nabi?

JIKA orang yang pendidikannya terhad dan kehidupannya dalam lingkungan bukan ahli agama, lalu dia menyindir dan mencela orang yang mengamalkan sunah Nabi s.a.w., mudah difahami. Namun jika orang punya ijazah agama berjawatan pegawai penting dalam institusi agama tertinggi kerajaan negeri menghina sunah Nabi s.a.w., ada dua kemungkinan. Pertama, dia jahil namun berjaya berjawatan tinggi disebabkan faktor luar. Kedua, dia tahu agama tetapi sengaja membenci sunah dan suka orang lain bersamanya membenci sunah.

Telah berlaku, seorang berjawatan tinggi dalam institusi agama memcela dan kesal orang yang berwuduk menuruti cara wudhuknya Nabi s.a.w. Dia sesal ada orang berwudhuk pada bagian mengusapkan air di kepala, orang berkenaan mengusapkan air di kepala dengan tangan dan terus ke telinga sekali saja.
Hadis berwudhuk dalam Bulughul Maram
Walhal, hadis sahih al-Bukhari dan Muslim sudah masyhur termasuk dalam kitab Bulughul Maram oleh Imam Ibnu Hajar al-Asyqalani.

Menghina sunah Nabi s.a.w. bukan remeh temeh, mengikuti sunah Nabi s.a.w. itu fardhu sebagai petunjuk ibadah. Apakah sikap orang beragama apabila orang berkata, "...seperti tidak ada kerja lain dalam hidup, asyik berulang-alik antara rumah dan masjid (maksudnya shalat berjamaah di masjid)."

Sunah merupakan jalan beragama, maka siapa yang menghina sunah tentulah dia pembenci sunah.

Harap orang berkenaan bertaubat dan kembali ke jalan as-Sunnah Nabi s.a.w.

Ahad, Disember 25, 2016

HARI NATAL vs akidah muslim

Foto hanya hiasan
HARI Natal Nasrani itu tanggal 25 Disember. Hari Natal itu hari agung, penuh kebesaran dan kemegahan kepada penganut agama Nasrani. Orang Nasrani itu mengatakan menyembah tuhan iaitu Allah. Itu sama seperti umat Islam yang menyembah Allah sebagai Tuhan yang menguasai segala-gala yang ada dalam alam ini.

Muslim kental berakidah Allah Dialah satu-satunya Tuhan, yang tidak menyamai dengan apa-apa pun yang pernah dipikirkan oleh manusia. Oleh itu apabila umat Nasrani mengatakan Allah itu tiga ialtu Allah bapa, Allah anak iaitu Yesus (Nabi Isa) dan Allah bundanya Yesus, ini sangat berlawanan dengan ayat-ayat al-Quran bahwa Allah itu satu atsu esa.

Al-Quran sangat jelas menceritakan kedurjanaan orang Nasrani mengubah ajaran suci Nabi Isa kepada satu ajaran Allah itu tiga. Dan al-Quran juga menjelaskan orang Nasrani yang berakidah triniti itu sungguh mahu umat Islam menjadi seperti mereka.

Al-Ma'idah: 73 "Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah itu adalah satu daripada tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti (bertaubat) daripada apa yang mereka katakan, pasti orang-orang kafir di antara mereka adan ditimpakan azab yang pedih."

Al-Baqarah: 109 "Banyak antara ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) ingin sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu (muslim) setelah kamu beriman menjadi kafir kembali kerna rasa dengki dalam diri mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka....)

Akidah Nasrani yang direka setelah ketiadaan Yesus (Nabi Isa) ialah Allah itu ialah Yesus. Allah menjelma dalam Yesus untuk menebus dosa Adam yang melanggar perintah Allah di surga. Oleh itu sesiapa yang menerima Yesus sebagai Allah berarti orang itu telah terselamat daripada dosanya Adam. Oleh itu mereka sangat berharap setiap muslim menerima ketuhanan Yesus. Dan mereka menjadiksn tanggal 25 Disember.

Hari Natal itu adalah kemuncak kegembiraan penerimaan Yesus sebagai tuhan yang dikatakan menyelamat manusia daripada dosa.  Apakah muslim yang utuh akidah dan imannya kepada Allah Tuhan yang Esa bisa bermuka manis berjabat tangan melafazkankan "Selamat Hari Natal"?

Kecuali dia seorang muslim yang tidak sadar apa-apa perbedaan antara iman dan kufur, maka dia akan bergelumang dalam apa juga kaitan hari perayaan kaum yang kufur itu.

Jumaat, Disember 16, 2016

DURHAKAI Rasulullah itu kesesatan

Foto hanya hiasan
BAGAIMANA kita mahu tahu dalam keadaan sesat beragama atau dalam kebenaran? Tidak lain, kembali menekuni ajaran Allah dan rasul-Nya.  Daripada itu kita menimbang akidah, ibadah, muamalat , siasah dan munakahat kita cocok atau berlawan dengan ajaran Allah dan rasul-Nya.

Arti firman Allah dalam surah al-Ahzab: 36, "Dan tidak pantas bagi lelaki dan perempuan yang mukmin apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan yg lain bagi urusan mereka. Dan sesiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sungguh dia telah tersesat dengan sebenar-benar kesesatan."

Apakah sebab ayat di atas diturunkan kepada ar-Rasul s.a.w.?  Dalam hadis sahih riwayat Ath-Tabrani, seorang sahabat Nabi s.a.w. menyatakan satu ketika Rasulullah s.a.w.  meminang Zainab r.a.  Zainab r.a. menduga pinangan oleh Rasulullah s.a.w. adalah untuk baginda sendiri (maksudnya Rasulullah mahu menjadikan Zainab istri baginda). Zainab mengambil keputusan menolak pinangan itu setelah mengetahui pinangan itu untuk Zaid r.a. Maka turunlah ayat 36 al-Ahzab itu. Setelah turun ayat itu Zainab menerima pinangan itu (untuk bersuamikan Zaid).

Kita maklum bahwa hal peminangan atau munakahat lebih pada hal keduniaan. Barangkali kerna hal keduniaan maka Zainab menolak keputusan Rasulullah untuk menjodohkan dirinya dengan Zaid bin Harisah (anak angkat Rasulullah).  Rupa-rupanya Allah terus menegur bahwa kalau memang orang itu beriman, apa saja yang diputuskan oleh Allah dan rasul-Nya maka tidak bisa diingkari.  Allah sebut sesiapa yang ingkar atau durhaka maka dia dalam sebenar-benar kesesatan. Sesat apa? Sesat beragama, seperti kesesatan sebagai penyembah berhala sedangkan tahu ada sebenar-benar Tuhan iaitu Allah swt.

Bagaimana orang jaman gawat berpolitik tidak menerima keputusan Rasulullah s.a.w. agar memberi ketaatan kepada pemerintah muslim  sekali pun jelas ada kebaikannya, dan sisi lain ada yang dikatakan jahat.

Rasulullah s.a.w. bersabda :

إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِيْ أَثَرَةً فَاصْبِرُوْا حَتَّى تَلْقَوْنِيْ عَلَى الْحَوْضِ

“Sesungguhnya kalian nanti akan menemui atsarah (iaitu pemerintah yang tidak memenuhi hak rakyat ). Maka bersabarlah hingga kalian menemuiku di haudh” [HR. Al-Bukhari no. 7057 dan Muslim no. 1845].

Al-Imam An-Nawawi rhm berkata,
“Di dalam (hadis) ini terdapat anjuran untuk mendengar dan taat kepada pemerintah, walaupun ia seorang yang zalim dan sewenang-wenang. Maka berikan haknya (sebagai pemimpin) iaitu berupa ketaatan, tidak keluar ketaatan daripadanya, dan tidak menggulingkannya. Bahkan (perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim adalah) dengan sungguh-sungguh lebih mendekatkan diri kepada Allah ta’ala supaya Dia menyingkirkan gangguan / siksaan darinya (pemerintah itu. Pen.), menolak kejahatannya, dan agar Allah memperbaikinya (kembali taat kepada Allah meninggalkan kezalimannya)”
 [Syarh Shahih Muslim lin-Nawawi, 12/232].

Wallahu 'aklam

Isnin, Disember 12, 2016

DALIL Maulud Nabi itu mimpinya Ibnu Abbas r.a.

Maulud Nabi di Malaysia
BULAN ini banyak cerita Maulidur Rasul atau dahulu disebut Maulud Nabi.  Dahulu-dahulu tidak ada ayat yang kritikal terhadap majlis ini. Jaman sudah banyak orang pinter dan universiti, maka patutlah ilmu bercambah dan membiak dalam masyarakat.  Membahas Maulud Nabi itu sunah atau bid'ah itu normal dalam masyarakat yang berbilang ilmu dan pengalaman.  Jika tidak mahu mengharungi diskusi dan debat, janganlah hantar anak-anak ke sekolah tinggi.

Ini cerita yang saya kutip daripada pidato Maulud Nabi di masjid. Pemidato memberi dalil mimpi seorang Sahabat Nabi iaitu Ibnu Abbas r.a..  Katanya, Ibnu Abbas telah bermimpi ketemu penentang Nabi iaitu Abu Lahab!  Ibnu Abbas dikabarkan oleh Abu Lahab bahwa setiap hari Isnin, iaitu hari lahirnya Muhammad (Nabi s.a.w.), dia diringankan azabnya dalam neraka kerna dahulu pada saat mendengar kabar kelahiran Muhammad dia sangat suka dan kerna itu dia membebaskan seorang hamba atau budak yang dimilikinya.

Ulasan pemidato itu antar lain ialah: Jika orang yang paling kuat menantang Nabi s.a.w. mendapat syafaat kerna meraikan hari lahir Nabi, tentulah kita yang beriman kepada Nabi s.a.w. lebih berhak mendapat kebaikan apabila meraikan hari lahir Nabi iaitu Maulud Nabi.

Biarlah ilmuan membahas dalil sang pemidato.

Foto-foto yang saya sertakan di sini sudah buat hati rasa sebel.  Apakah ini caranya merayakan Maulud Nabi, jika pihak yang mahu mengekalkan perayaan itu melaksanakannya? Apakah di Malaysia akan menuruti caranya di Jogja?

Maulud Nabi di Jogjajakarta


Ahad, September 18, 2016

LELAKI muslim wajib berjanggut

Lelaki muslim ikuti sunah Nabi s.a.w.
DI MANA-mana pelabuhan udara atau airport kota negara Barat atau  Timur, telah ada  tempat muslim menunaikan shalat. Katakanlah ibadah shalat ini mahu disamakan dengan ritual penyembahan mengikut agama-agama lain seperti Kristian, Hindu dan Buddha,  tidak pula tersedia tempat beribadah untuk penganut-penganut agama lain selain Islam.  Selain kewajiban muslim beribadah di serata dunia sudah diakui dan dihormati, tampak masyarakat antara bangsa menerima perbedaan antara muslim dan bukan muslim.

Penting diketahui bahawa masyarakat dunia yang pelbagai agama itu tidak bersungguh-sungguh mahu kelihatan berbeda antar satu sama lain, seperti penganut Hindu dan Kristian.  Namun mereka menerima jika penganut-penganut semua agama itu dikumpulkan untuk berbeda dengan penganut Islam.  Tersiratnya, inilah kemenangan dan keindahan Islam di pentas antara manusia pelbagai budaya.

Hanya hiasan: Muslim jangan begini
Al-Quran telah awal mendidik muslim agar berbeda akidah apabila muslim menafikan apa-apa ketuhanan (seperti yang dipercayai penganut agama lain), sebaliknya kental mengakui hanya Allah sebagai Tuhan.  Tidak ada toleransi dalam kepercayaan, Islam menolak total unsur ketuhanan dan pemujaan sekalipun terhadap manusia hebat.  Malah Nabi Muhammad sendiri meminta umatnya tidak memuja dirinya seperti kaum Nasrani memuja Nabi Isa al-Maseh.

Surah a-Kafirun  dalam al-Quran sangat jelas membedakan keagamaan ibadah antara Islam dan agama lain.  Kepada muslim, agama kami inilah dan agama kamu itulah. Tidak ada penerimaan kaedah ibadah agama lain dalam Islam melainkan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad s.a.w.  Hal ini mungkin bisa terjadi antara penganut Hindu dan Buddha, dan bukan menjadi kesalahan beragama sesama mereka.

Shalat sebagai tiang utuh beragama tidak bisa ditinggalkan dalam kehidupan muslim seharian. Lima waktu sehari wajib dilaksanakan.  Sebab itulah masyarakat bukan Islam memahami kewajiban ini dan memberikan peluang dan tempat muslim menunaikan kewajiban asasi beragama itu.  Shalat itu dinding pemisah antara muslim dan bukan muslim.  Maksud sabda Nabi s.a.w. “Pemisah antara seorang hamba / manusia (dengan hamba lain), iaitu antara kekufuran dan keimanan adalah shalat.  Apabila dia meninggalkan shalatnya, maka dia melakukan kesyirikan.” (HR At-Tabarani dan disahihkan oleh Al-Albani).

Begitu juga dalam kehidupan bergaul sesama manusia pelbagai agama, muslim diperintahkan membedakan diri dengan gaya yang mudah dikenal.  Jangan ada persamaan dengan penganut agama lain.  Baginda Nabi s.a.w. mewajibkan lelaki muslim berjanggut dan menipiskan kumis atau misai.  Maksud hadis, Abdullah bin Umar r.a. mengakatan Rasululah s.a.w. bersabda, “Janganlah kamu menyerupai orang-orang musyrikin, peliharalah janggut dan tipiskan kumis kamu.”  HR Al-Bukhari, Muslim dan al-Baihaqi. 

Lagi ketegasan daripada Rasulullah s.a.w., Dari Abi Imamah dia mengatakan Rasulullah s.a.w. bersabda, “Potonglah kumis kamu dan peliharalah janggut kamu, tinggalkanlah (jangan meniru) ahli Kitab.”  HR Ahmad dan At-Tabarani.

Begitu juga kaum perempuan yang diwajibkan memakai jilbab sangat ketara perbedaan antara muslimah dengan perempuan penganut agama lain.  Sekalipun ada golongan perempuan di biara berpakian hitam dan berjilbab, ulama Islam sudah sepakat fesyen mereka yang di biara tidak bisa ditiru sama sekali.  Jelasnya, apabila Rasulullah memerintahkan ‘jangan meniru penganut agama lain’ para ulama Islam pantas memberikan nasihat kepada umat berkaitan pakaian khas bukan Islam yang tidak boleh disamai atau ditiru.


Itulah identiti muslim di mana-mana pun.  Akhirnya wajah muslim dapat dikenal dan diberi ucap salam oleh saudara muslimnya yang lain.

Sabtu, Ogos 27, 2016

LARANGAN memotong bulu/kuku mulai 1 Zulhijah

Oleh: Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Pertanyaan Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya : Ada seseorang yang akan menyembelih hewan kurban hanya untuk dirinya saja. Atau hendak berkurban untuk dirinya dan kedua orang tuanya. Bagaimana hukum memotong rambut dan kuku baginya pada hari-hari di antara sepuluh hari pertama Dzulhijjah? 

Apa hukumnya bagi perempuan yang rambutnya rontok ketika di sisir? 

Dan bagaimana pula hukumnya kalau niat akan berkurban itu baru dilakukan sesudah beberapa hari dari sepuluh hari pertama Dzulhijjah, sedangkan sebelum berniat ia sudah memotong rambut dan kukunya?

Sejauh mana derajat pelanggaran kalau ia memotong rambut atau kukunya dengan sengaja sesudah ia berniat berkurban untuk dirinya atau kedua orang tuanya atau untuk kedua orang tua dan dirinya? Apakah hal ini berpengaruh terhadap kesahan kurban?

Jawaban Diriwayatkan dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًَا
Apabila sepuluh hari pertama (Dzulhijjah) telah masuk dan seseorang di antara kamu hendak berkurban, maka janganlah menyentuh rambut dan kulitnya sedikitpun” [Riwayat Muslim]

Ini adalah nash yang menegaskan bahwa yang tidak boleh mengambil rambut dan kuku adalah orang yang hendak berkurban, terserah apakah kurban itu atas nama dirinya atau kedua orang tuanya atau atas nama dirinya dan kedua orang tuanya. Sebab dialah yang membeli dan membayar harganya. Adapun kedua orang tua, anak-anak dan istrinya, mereka tidak dilarang memotong rambut atau kuku mereka, sekalipun mereka diikutkan dalam kurban itu bersamanya, atau sekalipun ia yang secara sukarela membelikan hewan kurban dari uangnya sendiri untuk mereka. 

Adapun tentang menyisir rambut, maka perempuan boleh melakukannya sekalipun rambutnya berjatuhan karenanya, demikian pula tidak mengapa kalau laki-laki menyisir rambut atau jenggotnya lalu berjatuhan karenanya.

Barangsiapa yang telah berniat pada pertengahan sepuluh hari pertama untuk berkurban, maka ia tidak boleh mengambil atau memotong rambut dan kuku pada hari-hari berikutnya, dan tidak dosa apa yang terjadi sebelum berniat. Demikian pula, ia tidak boleh mengurungkan (membatalkan. ed.) niatnya berkurban sekalipun telah memotong rambut dan kukunya secara sengaja. Dan juga jangan tidak berkurban karena alasan tidak bisa menahan diri untuk tidak memotong rambut atau kuku yang sudah menjadi kebiasan setiap hari atau setiap minggu atau setiap dua minggu sekail. Namun jika mampu menahan diri untuk tidak memotong rambut atau kuku, maka ia wajib tidak memotongnya dan haram baginya memotongnya, sebab posisi dia pada saat itu mirip dengan orang yang menggiring hewan kurban (ke Mekkah di dalam beribadah haji). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ
“Janganlah kamu mencukur (rambut) kepalamu sebelum hewan kurban sampai pada tempat penyembelihannya “ [Al-Baqarah : 196]

Walahu ‘alam
(Fatawa Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin, tanggal 8/12/1421H dan beliau tanda tangani)
[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini dkk, Penerbit Darul Haq]

Ahad, Julai 17, 2016

PINTAR politik, kosong ilmu agamanya

KATA orang politik itu ilmu dan seni. Namun katanya untuk bicara politik tidak memerlukan orang keluar dari sekolah tinggi apatah lagi dengan gulungan diploma dan ijazah. Maka itulah orang-orang desa dan pinggiran kota duduk berjam-jam di warung kopi sambil ngobrol politik.  Saya sendiri pernah diejek oleh orang yang jauh lebih muda daripada saya kerja tidak sama pendapatnya dalam politik.  Dan banyak juga yang berkata, "mari saya sekolahkan kamu pasal politik".

Gagah banget bicara politik.  Namun apabila disuguh hal agama... banyak yang mulutnya bungkam atau lari tidak mahu bicara hal agama. Agama itu hal yang menjuruskan pada pemahaman hal akhirat. Berita-berita akhirat hanya ada dalam al-Quran dan hadis-hadis sahih Nabi s.a.w.  Jangan pandang enteng ya, pantas jika bicara keduniaan atau tadi hal politik, namun sepi dan kaku atau tidak mengerti hal-hal akhirat.

Maksud sabda Rasulullah s.a.w. "Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang kasar lagi sombong, bakhil lagi rakus, sibuk dengan pasar-pasar. Pada malamnya seperti bangkai (banyak tidur) dan siangnya seperti keldai.  Dia berilmu dalam urusan dunia namun jahil dalam urusan akhirat." (Sahih Ibn Hibban, nombor 72.  Sunan al-Kubra al-Baihaqi, nombor 20804)

Berpada-padalah dengan keduniaan yang sementara, pada saat hati mengakui akhirat itulah yang abadi.

Sabtu, Mac 19, 2016

MENGAPA saya muslim, bukannya Kristian

foto hiasan
KEBANYAKAN manusia beragama kerna nenek-moyangnya beragama. Jika nenek-moyangnya beragama Islam, maka keturunannya beragama Islam.  Begitu juga jika nenek-moyangnya beragama Kristen, Hindu atau Buddha, maka itu jugalah agama keturunanya.  Mewarisi kepercayaan orang terdahulu dan mengikutinya sahaja tanpa mengambil pengetahuan mengenainya. Hanya sedikit yang jujur dan bersungguh-sungguh berilmu dengan agamanya, termasuklah dalam kalangan penganut agama apa pun.

Dalam kalangan muslim pun mewarisi kepercayaan atau tradisi beragama nenek-moyangnya. Jika nenek-moyangnya bukan ahli shalat di masjid, maka keturunannya pun banyak begitu sekalipun mereka telah punya pelbagai ilmu kemahiran (dengan adanya pemilikan diploma dan ijazah).

Jika muslim telah berbangga dengan Islam yang dikatakan agama keilmuan, setiap kita mesti bersedia menerima pertanyaan hebat: Mengapa aku seorang muslim, bukan seorang Kristen?

Adalah sangat tidak masuk akal, seorang yang kelihatan hebat ilmunya dan disanjung masyarakat, tidak bersedia menjawab soalan mengapa dirinya seorang muslim. Malah ketakutan apabila melihat gambar salib di tepi-tepi jalan.  Tampak ada yang tidak beres daripada ilmu yang ditekuni belasan tahun.  Agama yang dia yakini sendiri sebagai jalan akhir dan benar menuju akhirat, tidak dipahami lagi.

Al Baqarah ayat 170, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘ikutilah apa yang diturunkan Allah’ mereka menjawab ‘(tidak) kami mengikuti apa yang kami dapati daripada nenek kami (yang melakukannya)’.  Padahal nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk.”
                            
Al An’am ayat 116, “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini nescaya mereka akan menyesatkan mu dari jalan Allah.  Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanya membuat kebohongan.”

An Nuur ayat 51, “Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata ‘kami mendengar dan taat’ dan mereka itulah orang-orang  yang beruntung.”

Al Ahzab ayat 36, “Dan tidaklah pantas bagi lelaki dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka.  Dan sesiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.”


Apakah kita sebagai seorang muslim yang bersekolah tinggi masih beragama kerna sangkaan sahaja?

Sabtu, Januari 16, 2016

"JANGAN ikut cara ibadahnya orang Arab."


Di mana kalian mahu mencari sumber atau contoh sebenar bagi kenderaan jenama Toyota? Kalian mesti ke Jepun, bukan ke Thailand sekalipun Toyota yang kalian gunakan dipasang di Thailand.  Di manakah kita mahu menemui contoh sebenar ajaran Nabi Muhammad s.a.w.?  Kita pasti ke Madinah dan Makkah, kerna di situlah Nabi s.a.w. menerima dan menyampaikan wahyu yang menjadi panduan umat beragama. Kita tidak mungkin ke Indonesia sekalipun negara itu mempunyai jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia!


Apabila dikhabarkan bagaimana penduduk Madinah dan Makkah mengurus jenazah, sebagian penduduk Nusantara tidak suka dibanding-banding dengan Madinah dan Makkah.  Sehingga keluar perkataan, “tidak boleh meniru caranya orang Arab beragama.”  Walhal Nabi s.a.w. dan para sahabatnya adalah orang Arab kecuali sedikit yang ajam.  Yang ajam juga berbahasa Arab seperti Nabi s.a.w.

Ketika usia pertengahan awal abad ini, saya berkesempatan ke Madinah dan Makkah. Oleh kerna usia di bawah 40 dan peribadi orang desa yang kuat berjalan, saya sering di hadapan saat shalat di Masjid Nabawi. Persis di daerah kecil yang dikhaskan oleh imam dan pengiringnya.  Ruang imam dan pengiring diletakkan beberapa rehal supaya tidak diguna oleh jamaah lain. Kemudian setelah shalat, dibuka pintu sebelah, bahagian tepi mihrab imam, di situ sudah tersedia jenazah yang akan dishalati. Imam terus ke situ dan shalat jenazah.

Habis shalat, jenazah terus dibawa keluar ke makam Baqi dengan pantas. Saya sekali mengikuti pembawaan jenazah untuk pemakaman. Waktunya selepas shalat subuh. Lampu bersinar di kawasan Baqi, jadi tampak banyak lubang kubur sudah tersedia untukdiguna kapan-kapan saja.  Tidak seperti di desa kita, jika ada kematian baru digali tanah kubur. Dan tidak akan ada lubang kubur  begitu saja berhari-hari.

Jenazah terus dimakamkan seperti juga di desa kita, tidak ada acara lain. Habis jenazah dimakamkan, orang berdiri sebentar (berdoa) dan berangkat pergi.  Tidak ada seperti di negeri kita, orang membentang tikar dan imam berkhutbah tentang kematian, pengajaran terhadap mayat di kubur. Ada tahlilan, bacaan yassin dan menabur bunga-bunga serta menyiram air di pusara.  Kemudian di tanda dua kayu nisan.  Mungkin sebulan kemudian ditinggikan kuburan dan disimen, ditulis pula ayat surah al-Fatihah.

Berkenaan dakwaan orang Madinah itu wahabi bab kubur, eloklah ditatap hadis nabi.

Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah s.a.w.  tentang sebuah gereja di negeri Habsyah. Di dalam gereja itu terdapat gambar.
Maka Rasulullah s.a.w. bersabda (maksudnya), “Sesungguhnya  jika ada seorang salih yang meninggal dunia di antara mereka, mereka membangunkan atas kuburannya masjid (tempat ibadah).  Lalu mereka membuat gambar-gambar (orang salih) tersebut dalam masjid itu.  Mereka itulah orang-orang yang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat.” (Hadis sahih al-Bukhari dan Muslim)

Adapun orang-orang di desa kita lebih kepada adat bangsa dan suku kaum yang dihiasi ayat-ayat agama.


Nota: Pada ziarah Disember 2015 yang lalu, saya meladeni kedua-kedua orang tua di tanah suci, maka tidak ada kesempatan untuk menyertai pemakaman di Baqi. Entah seperti 14 tahun yang lalu atau tidak.

Khamis, Januari 07, 2016

POLIGAMI bukan sunah, tapi boleh dilakukan

foto hiasan

Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil [265], Maka (kawinilah) seorang saja [266], atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. An Nisa’ : 4)
[265] Berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam memenuhi isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah.
[266] Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. sebelum turun ayat Ini poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh para nabi sebelum nabi Muhammad ayat Ini membatasi poligami sampai empat orang saja.
– Apakah Disunnahkan Poligami Dalam Islam ?
Poligami ini disunnahkan bila seorang laki-laki dapat berbuat adil di antara istri-istrinya berdasarkan firman Allah Ta’ala:
فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً
Namun bila kalian khawatir tidak dapat berbuat adil maka nikahilah satu wanita saja” (QS. An Nisa: 3)
Dan juga bila ia merasa dirinya aman dari terfitnah dengan mereka dan aman dari menyia-nyiakan hak Allah dengan sebab mereka, aman pula dari terlalaikan melakukan ibadah kepada Allah karena mereka. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya istri-istri dan anak-anak kalian adalah musuh bagi kalian maka berhati-hatilah dari mereka“. (QS. At Taghabun: 14)
Di samping itu ia memandang dirinya mampu untuk menjaga kehormatan mereka dan melindungi mereka hingga mereka tidak ditimpa kerusakan, karena Allah tidak menyukai kerusakan. Ia mampu pula menafkahi mereka. Allah Ta’ala berfirman:
وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
Hendaklah mereka yang belum mampu untuk menikah menjaga kehormatan dirinya hingga Allah mencukupkan mereka dengan keutamaan dari-Nya” . (QS. An Nur:33)
(Dinukil dari “Fiqh Ta’addud Az Zawjaat”, hal. 5)
Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i pernah ditanya tentang hukum poligami, apakah sunnah? beliau menjawab: “Bukan sunnah, akan tetapi hukumnya jaiz (boleh)“.
Sebuah Petikan Tentang Keadilan Salaf
Ibnu Abi Syaibah Rahimahullah berkata dalam “Al Mushannaf” (4/387): Telah menceritakan kepada kami Abu Dawud Ath Thayalisi dari Harun bin Ibrahim is berkata: Aku mendengar Muhammad berkata terhadap seseorang yang memiliki dua istri: “Dibenci ia berwudlu hanya di rumah salah seorang istrinya sementara di rumah istri yang lain ia tidak pernah melakukannya“. (Atsar ini shahih)
Selanjutnya beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Mughirah dari Abi Muasyir dari Ibrahim tentang seseorang yang mengumpulkan beberapa istri : “Mereka menyamakan di antara istri-istrinya sampaipun sisa gandum dan makanan yang tidak dapat lagi ditakar/ditimbang (karena sedikitnya) maka mereka tetap membaginya tangan pertangan“. (Atsar ini shahih dan Abu Muasyir adalah Ziyad bin Kulaib, seorang yang tsiqah)
Peringatan !!!
Di antara manusia ada yang tergesa-gesa dan bersegera melakukan poligami tanpa pertimbangan dan pemikiran, sehingga ia menghancurkan kebahagiaan keluarganya dan memutus ikatan tali (pernikahannya) dan menjadi seperti orang yang dikatakan oleh seorang A’rabi (dalam bait syairnya):
Aku menikahi dua wanita karena kebodohanku yang sangat
Dengan apa yang justru mendatangkan sengsara
Tadinya aku berkata, ku kan menjadi seekor domba jantan di antara keduanya
Merasakan kenikmatan di antara dua biri-biri betina pilihan
Namun kenyataannya, aku laksana seekor biri-biri betina yang berputar di pagi dan sore hari diantara dua serigala
Membuat ridla istri yang satu ternyata mengobarkan amarah istri yang lain
Hingga aku tak pernah selamat dari satu diantara dua kemurkaan
Aku terperosok ke dalam kehidupan nan penuh kemudlaratan
Demikianlah mudlarat yang ditimbulkan di antara dua madu
Malam ini untuk istri yang satu, malam berikutnya untuk istri yang lain, selalu sarat dengan cercaan dalam dua malam
Maka bila engkau suka untuk tetap mulia dari kebaikan
yang memenuhi kedua tanganmu hiduplah membujang
namun bila kau tak mampu, cukup satu wanita, hingga mencukupimu dari beroleh kejelekan dua madu
Bait syairnya yang dikatakan A’rabi ini tidak benar secara mutlak, tetapi barangsiapa yang takalluf (memberat-beratkan dirinyamelakukan poligami tanpa disertai kemampuan memberikan nafkah, pendidikan dan penjagaan yang baik, maka dimungkinkan akan menimpanya apa yang dikisahkan oleh A’rabi itu yaitu berupa kesulitan dan kepayahan.
Wallahu A’lam
(sumber dari kitab : Al Intishar lihuhuqil Mu’minat. Karya : Ummu Salamah As Salafiyyah Hal. 154 -. Penerbit darul Atsar Yaman Cet. I Th. 2002. Telah diterjemahkan dengan judul buku : Persembahan untukmu Duhai Muslimah Cet. Pustaka Al Haura’ Yogyakarta)