Pengikut

Sabtu, Februari 18, 2012

DAPAT melihat iman di hati


KATA seorang wanita, “iman itu  letaknya di hati” sebagai jawaban apabila mempertahankan bolehnya wanita muslim mendedahkan sebagian auratnya seperti rambut.  Bagi orang sepertinya iman itu tetap mantap di hati walaupun pada zahirnya ada beberapa perkara yang dilakukannya tidak sesuai dengan kehendak al-Quran dan sunah nabi s.a.w.


Konsep ini sama juga seperti pemahaman bahawa iman itu tidak ada kena-mengena dengan kehidupan harian. Penerimaan Islam itu sudah mencukupi sebagai tanda keimanan kepada Alllah. Saya pernah mendengar cerita seorang perempuan yang membanggakan  pengalaman suaminya berguru agama dengan beberapa Tuan Guru.  Ini menggambarkan banyaknya ilmu agama yang dimiliki. Maafkan, kerna saya mendapati beliau bukanlah seorang ahli berjamaah di masjid!  Orang seperti ini menyamakan penerimaan ilmu sebagai keimanan kepada Allah. Selagi ilmu itu ada, maka dijamin imannya masih ada.

Apa bedanya antara dua muslim: Encik X begitu teliti untuk mencari tempat meletakkan kederaannya agar tidak mengganggu laluan orang lain.  Encik Y telah meletakkan kenderaannya di tepi jalan dengan alasan hanya berhenti untuk seketika, dan ternyata agak menyulitkan beberapa kenderaan lain yang lalu-lalang di sisinya.

Kita kerap menemui situasi seperti di atas.  Persoalannya, adakah iman tidak membentuk sikap atau membawa apa-apa kesan dalam kehidupan?  Siapakah yang lebih kukuh imannya antara Encik X dan Encik Y?

Bagus kita mengingat maksud sabda Rasulullah: “Keimanan itu memiliki enam puluh atau tujuh puluh cabang/tingkat, yang paling utama adalah ucapan “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan selain Allah), dan yang paling rendah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan sifat malu itu cabang daripada iman.” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah ).

Ini berarti iman itu berada dalam kehidupan seseorang, bukan tersimpan kukuh dalam hati dan tidak terbukti dalam amal seseorang.  Orang-orang yang percayakan (mengimani) hari akhirat pasti dapat menahan diri (sedaya upaya) daripada melakukan perkara salah atau hal yang menyusahkan hidup orang lain, kerna semua itu akan ditanya-jawab di hari akhirat.

Seperti maksud hadis di atas, tentulah orang yang malu melakukan kejahatan mempunyai iman kepada Allah. Orang yang membuang apa saja kesusahan di jalan agar orang lain mudah melalui perjalanannya, itulah orang yang ada iman dalam hidupnya.  Tentulah orang yang tidak malu melakukan maksiat dan sengaja-sengaja menyusahkan perjalanan orang sebagai tanda tipis atau luputnya iman kepada Allah.

Maka kita pun seolah-olah dapat melihat sebesar mana iman seseorang yang dikatakan dalam hati, melalui kegiatan hidup seseorang.

1 ulasan: